Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Drama


__ADS_3

“Ada apa, Nak? Apa kau merasa kurang sehat?” tanya Peter khawatir.


Pasalnya, Liana terus memegangi perutnya yang telah semakin membesar.


“Sa... kit... A... yah...,” ucap Liana terbata.


Seketika itu juga, Peter menghentikan rapat dan segera membawa Liana ke rumah sakit. Dengan sigap, dia menggendong putrinya masuk ke dalam mobil dan melakukannya dengan cepat ke rumah sakit pusat kota Empire State.


Sampai di sana, Liana segera dibawa masuk ke ruang IGD, dan mendapatkan pertolongan dari dokter kandungan.


Disaat menunggu Liana yang tengah ditangani tim medis, Peter mencoba menghubungi Falcon selaku suami dari putrinya.


Pria itu pun tak kalah terkejutnya dengan kabar yang disampaikan oleh ayah mertuanya itu. Dia segera meninggalkan semua urusannya di Lunar Group, dan meluncur dengan kecepatan penuh menuju ke rumah sakit tempat sang istri berada.


Sesampainya di sana, dia segera menuju ke ruang UGD, dan mendapati bahwa sang istri tengah tertidur dibawah pengaruh obat penenang.


Peter terlihat sedang duduk di samping tempat tidur Liana, dan segera berdiri saat melihat kedatangan menantunya.


“Nak, kau sudah datang?” sapa Peter.


“Bagaimana kondisinya, Ayah? Apa kata dokter?” tanya Falcon khawatir.


Dia melihat wanita yang sangat ia cintai tengah terbaring di atas ranjang pasien, dengan masih mengenakan pakaian kerjanya. Bahkan make up tipisnya masih belum hilang dan membuat Liana terlihat begitu cantik.


Namun, hatinya terasa sakit saat mendengar kabar bahwa wanita keras kepala ini masuk ke rumah sakit karena mengalami kram di perutnya.

__ADS_1


“Kata dokter, dia sudah tak apa-apa. Bayinya juga tidak mengalami kondisi yang berbahaya. Ini semua karena dia terlalu sibuk dan memaksakan diri untuk bekerja. Maafkan Ayah, Nak. Sepertinya kali ini, kau harus tegas padanya. Ayah tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anak dan cucu Ayah,” ucap Peter.


“Baik, Ayah. Aku akan mendengarkan nasehatmu,” sahut Falcon.


“Baiklah. Karena kau sudah di sini, ayah serahkan dia padamu. Masih banyak urusan yang harus dikerjakan di perusahaan. Jika sudah selesai, ayah akan datang lagi kemari,” ucap Peter.


Falcon hanya mengangguk mengiyakan perkataan dari mertuanya itu. Peter pun pergi meninggalkan pria itu bersama dengan istrinya yang masih belum sadarkan diri.


Awalnya, Falcon berencana untuk menyembunyikan hal ini dari kakeknya dan juga Presdir Wang, karena mereka pasti akan heboh. Akan tetapi, siapa sangka jika direktur rumah sakit mengetahui keberadaan Liana, yang adalah cucu menantu dari pemilik Lunar group, Bob Harvey, dan segera memberitahukan kabar mengenai Liana ini kepada pria tua itu.


Sebelum Falcon berfikir untuk memindahkan Liana ke ruang perawatan, pihak rumah sakit telah lebih dulu mengabarkan bahwa ada perintah langsung dari direktur, untuk memindahkan Liana ke ruang rawat VVIP rumah sakit tersebut.


Seketika itu, Falcon bisa menebak jika ini adalah ulah dari kakeknya yang begitu protektif terhadap calon anaknya, yang saat ini masih berada di dalam perut Liana.


Alhasil, rumah sakit mendadak ramai karena kedatangan para anggota kekuarga Lunar Group, yang berbondong-bondong datang ke tempat tersebut untuk menjengul Liana.


Ruang rawat Liana pun ramai dengan kehadiran semua anggota keluarga, baik dari keluarga Lunar Grup dan juga Wang Construction. Tak lupa juga, Christopher yang ikut datang saat mendengar kabar bahwa sang sepupu masuk ke rumah sakit.


Falcon sampai dibuat pusing, karena kedua pria tua itu memarahinya, karena mengira bahwa Falcon membiarkan Liana bekerja keras di usia kehamilan yang sudah semakin besar. Namun, pria tampan itu hanya diam dan tak menjawab sedikitpun perkataan keduanya.


Meski sang ibu hamil mencoba menjelaskan kepada kedua kakek tersebut, akan tetapi keduanya terus saja memarahi Falcon.


“Bagaimam bisa seorang suami membiarkan istrinya yang sedang hamil besar untuk bekerja? Apa gajimu di perusahaan tidak cukup memenuhi kebutuhannya, hah?” cecar Tuan Harvey.


“Aku menyerahkan cucuku bukan untuk dijadikan sapi perah yang bisa kau manfaatkan tenaganya. Apa kau mengerti?” timpal Kakek Joseph.

__ADS_1


“Lihat! Aku sampai malu dengan besanku karena kelakuanmu ini,” Lanjut Tuan Harvey.


“Ehm... Kek, sebenarnya ini kemauan ku sendiri. Alex sama sekali tidak memintaku untuk bekerja. Tolong jangan marahi dia lagi,” sanggah Liana.


“Tapi tetap saja. Harusnya dia lebih perhatian dan tidak membiarkanmu kelelahan. Lihat sekarang. Kau sakit seperti ini karena siapa? Karena dia yang tidak bisa tegas padamu,” sahut Tuan Harvey.


Liana sampai tak tega melihat sang suami terus disalahkan karena perbuatannya sendiri. Hingga akhirnya, dia yang sejak kehamilannya begitu sensitif pun menangis. Setelah melihat wanita itu sesenggukan, barulah kedua kakek tua itu berhenti memarahi Falcon, dan beralih memeluk Liana yang sedang menangis.


“Oh... Cucu menantuku yang malang. Ini bukan salah mu. Kenapa kamu menangis? Baiklah. Baiklah. Kami tidak akan menyalahkan suamimu lagi. Tapi, kau harus menurut dan jangan bekerja dulu untuk sementara ini. Kau jangan sedih lagi, oke,” bujuk Tuan Harvey.


Sambil sesenggukan, Liana pun mengangguk mengiyakan seruan dari pria tua itu.


Mereka kemudian melihat ke arah Falcon, sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah pria tersebut.


Rupanya, semua drama yang meteka lakukan tadi, semata-mata hanya untuk membuat Liana mau berhenti bekerja dan lebih mempedulikan kondisi kandungannya.


Mereka semua tahu bahwa si keras kepala itulah yang selama ini memaksakan diri untuk bekerja. Sehingga saat Liana mengalami kondisi seperti saat ini, mereka mencoba membujuk wanita itu berhenti dengan cara yang berbeda.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2