Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Cahaya merah


__ADS_3

Malam semakin larut. Liana yang awalnya hanya membunuh kebosanan dengan menonton siaran televisi, kini justru berbalik, televisi layar datar itu yang melihatnya tertidur di atas sofa.


Akibat makan malamnya yang terlalu banyak, Liana menjadi mengantuk dan akhirnya tertidur di sembarang tempat.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Liana nampak mengerjapkan matanya. Erangan kecil pun terdengar dari arah gadis itu.


Liana merentangkan kedua tangannya dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah tidur sejenak tadi.


Kerongkongannya terasa kering. Liana menoleh ke kanan dan kiri, namun tak ada sesuatu yang bisa ia minum.


Akhrinya, gadis itu pun melangkah keluar kamar dan hendak menuju ke dapur. Liana selalu melakukan semua hal sendiri. Dia tidak terbiasa jika harus merepotkan orang lain, terlebih di waktu malam hari dimana semua manusia pada umumnya tengah beristirahat.


Liana keluar dan menutup kembali pintu kamarnya. Dia berjalan perlahan menuju ke arah tangga. Saat dia baru beberapa langkah menjauh dari pintu, Liana melihat seseorang berjalan menaiki tangga dan berbelok ke arah seberangnya.


Siapa itu? Apa itu Falcon? batin Liana.


Rasa penasaran membuatnya melangkah mengikuti pria yang tadi dilihatnya. Diperhatikan dari penampilannya, dia mirip seperti Falcon. Namun, rambutnya sudah tidak terlihat rapi lagi.

__ADS_1


Terlebih, warna kemejanya yang awalnya putih bersih, kini terlihat kotor dengan bekas tanah di beberapa bagian.


Liana mengendap-endap dan melihat kemana pria itu pergi, hingga tibalah pria tersebut di depan sebuah kamar yang berada di ujung sayap kanan. Dia kemudian membuka pintunya, dan pantulan cahaya merah dari dalam menerpa wajahnya, membuat Liana bisa melihat siapa pria itu.


Falcon? Apa dia baru kembali dari luar? batin Liana.


Setelah pintu kembali tertutup, dan memastikan siapa pria tersebut, Liana pun berbalik kemudian kembali berjalan ke arah tangga untuk turun ke dapur mengambil minum.


Liana mengambil segelas air dan ia teguk di tempat hingga tandas, lalu kemudian dia mengambil segelas lagi untuk dibawanya ke dalam kamar.


Suasana begitu sepi di tempat tersebut, membuat Liana tak betah berlama-lama seorang diri di luar kamar.


Gadis itu pun kemudian mendekat ke arah pintu balkon dan menyibakkan tirai tersebut untuk melihat dari mana asal cahaya merah itu berasal.


Liana memicingkan matanya melihat ke arah luar, dan mengingat dikamar sebelah mana ruangan bercahaya merah itu berada.


“Bukankah, itu dari kamar yang tadi dimasuki oleh Falcon? Kamar macam apa itu? Kenapa cahayanya merah? Apa dia tidak pusing? Atau itu kamar kekasihnya?” gumam Liana.

__ADS_1


Gadis yang paham dengan seni arsitektur itu pun sedikit banyak tau mengenai warna lampu dan alasan dibalik penggunaannya di tempat-tempat tertentu. Lampu berwarna merah melambangkan cinta, g*irah dan energi yang besar. Sehingga biasanya di tempatkan di tempat hiburan malam seperti bar, pub dan juga hotel cinta.


Dalam kasus ini, dia melihat lampu tersebut di sebuah kamar di mansion drakula, yang dimasukin Falcon beberapa saat yang lalu. Dia pun berasumsi jika ruangan tersebut menyimpan kenangan yang mendalam akan seseorang yang pria itu cintai.


Meski penasaran, namun gadis itu tak mau keluar. Suasana di luar membuatnya urung mencari tau lebih banyak soal tersebut. Dia pun memilih untuk naik ke ranjang dan kembali tidur.


.


.


.


.


Udah 3 bab, ini penutup untuk hari ini ya bestie😁 besok lagi😘


🍌🍉🍵☕selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan ibadah puasa ramadhan🙏

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2