
“Halo,” sapa Liana.
“Hai, Nona Wang. Bagaimana kejutan pagi dariku? Menyenangkan bukan?” sahut suara di seberang.
Falcon, Long dan juga Q nampak menyimak suara tersebut. Mereka berusaha mengenali siapa orang yang menelpon gadis itu melalui suaranya.
“Siapa kau, Br*ngsek!” maki Liana.
“Hahahaha... Tak perlu terburu-buru. Aku hanya ingin mengatakan bahwa saat ini, ayahmu ada di tanganku. Jadi, mulai sekarang kau harus ikut arahan dari ku,” seru orang di seberang.
“Bajing*n. Jangan coba-coba berbuat macam-macam dengan dia, atau kau akan tau akibatnya!” ancam Liana.
“Oh ya? Wah, aku sangat takut. Apa karena kekasihmu itu, makanya kau jadi begitu percaya diri, hah? Hei, Alex! Aku tau kalau kau saat ini sedang berada di sana. Jaga baik-baik gadismu itu, sebelum ku ambil dia darimu. Hahahaha...,” ucap orang itu.
Tawanya membuat Liana dan Falcon tercengang. Sambungan pun terputus begitu saja, bahkan sebelum Liana kembali berkata.
“Bos,” panggil Long.
Dia seolah tahu siapa yang menelpon tadi, dan ingin mengkonfirmasinya dengan sang ketua.
“Ini Henry. Kau bilang penculik itu pergi ke hutan timur bukan?” tanya Falcon
“Benar, Bos. Apa hubungan Henry dengan hutan timur? Apa semua ini ada kaitannya dengan Ketua Jung?” tanya Long balik.
“Apa maksudmu, Henry yang dulu menculik ku itu?” tanya Liana.
__ADS_1
Gadis itu tampak masih lemas, namun masih memaksakan diri untuk duduk bersandar di headboard, dan menyimak perbincangan kedua pria tersebut.
“Benar, Sweety. Itu orang yang menculikmu dulu. Kau masih ingat tempat dia menyandera mu? Itu adalah bekas pabrik di hutan timur. Kemungkinan besar, kita akan menemukan petunjuk saat tiba di sana,” ucap Falcon.
Seolah mengerti ucapan sang bos, Long pun bergegas pergi menuju ke tempat yang disebutkan tadi.
Sementara itu, Q yang masih berada di dalam kamar Liana, merasa terganggu akan sesuatu hal. Dia pun mengajak Falcon untuk berbicara di luar.
“Bos, sebaiknya kita biarkan kakak ipar untuk beristirahat,” ucap Q.
Perkataan itu bukan sebuah bujukan untuk orang-orang seperti mereka, melainkan sebuah tanda bahwa mereka perlu membicarakan sesuatu yang serius berdua.
“Sweety, aku akan ada di luar. Panggil aku jika kau butuh sesuatu, oke,” seru Falcon.
Setelah itu, Falcon pun berjalan keluar bersama dengan Q. Dokter muda itu sekilas melihat ke arah Liana, sebelum dia menutup kembali pintu itu dari luar.
Tampak dua orang petugas keamanan berjaga di luar kamar Liana, ditambah dua orang anak buah Falcon yang ikut berjaga di sana.
“Kita bicara di sebelah sana,” seru Falcon.
Pria itu kemudian berjalan menuju atap gedung rumah sakit, di mana hanya ada pipa-pipa pembuangan udara.
Falcon nampak berdiri di sisi gedung, dan menatap lurus ke depan. Nampak dermaga utama dapat terlihat dengan jelas dari sana, serta laut lepas yang begitu tenang dengan kapal-kapal tongkang yang sangat kecil tampak di kejauhan..
Q telah berdiri berjajar dengannya, dan ikut menatap lurus ke depan.
__ADS_1
“Kau belum menjawab pertanyaan kakakku. Apa menurutmu, ini semua ada hubungannya dengan Ketua Jung?” tanya Q.
“Apa perlu ditanya lagi? Henry adalah orang yang paling dipercaya oleh pria itu. Dia bahkan membawanya ikut pergi saat meninggalkan grey town, dan menelantarkan kita, bukan,” jawab Falcon datar.
“Tapi, bisa saja kali ini Henry melakukannya sendiri tanpa sangkut paut dari Ketua Jung. Mungkin saja kan?” sanggah Q.
Falcon masih diam. Namun otaknya bekerja cepat dan menangkap keanehan di balik kata-kata Q.
“Sepertinya kau sangat tertarik dengan hal ini. Apa ada yang mau kau sampaikan, Lion?” tanya Falcon
.
.
.
.
Maaf, gomenasai, i am sorry, gumawo, ngapunten bestie 🙏baru bisa update 😅sepertinya sistem eror bestie, othor udah up ini dari siang lho, tapi entah kapan ini bakal rilis🤦♀️
hari ini mungkin othor cuma sempet siapin tiga bab saja, jadi tungguin dua lagi yah
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1