
Gedung berlantai tiga puluh dua, dengan segala fasilitas mewah kelas dua, telah berhasil dibangun di pusat kota Golden City.
Emerald Hotel, hotel bintang lima berkelas dunia dan merupakan cabang dari Emerald grup yang bercokol di benua Eropa, kini telah resmi dibangun di kota maju tersebut.
Mata seketika memandang takjub, dengan bibir yang memuji segala keindahan setiap lekuk dan sudut yang ada di bagian loby hotel.
Lampu kristal kualitas terbaik menghiasi langit-langitnya. Beberapa kursi tunggu berjejer membentuk lingkaran-lingkaran kecil, dengan sebuah meja bulat di bagian tengah.
Sebuah caffe yang menyajikan menu makanan Eropa dan asia pun, turut menambah nilai dari hotel tersebut.
Malam ini, bangunan mewah tersebut akan diresmikan dengan menggelar sebuah pesta yang mengundang banyak tamu penting. Salah satunya adalah arsitek sekaligus insinyurnya sendiri.
Seorang gadis muda yang baru menginjak usia awal dua puluhan, kini telah sukses membuktikan diri kepada dunia, bahwa dia memiliki kemampuan yang mumpuni dibidang konstruksi.
Setelah setahun yang lalu dia berhasil menjalankan tugasnya dalam pembangunan sebuah mall di Golden City, kini namanya semakin meroket dengan keberhasilannya membangun hotel tersebut.
Dialah Liana, si gadis buruk rupa yang kini telah menjadi perempuan cantik dengan segala talenta luar biasanya, dan merubah identitasnya menjadi orang yang berbeda.
Kakek Joseph yang telah mengakui kemampuannya pun, menghadiahinya dengan berbagai macam fasilitas yang mewah. Mulai dari apartemen pribadi, mobil mewah serta saham sebesar lima persen dari Wang Construction.
Tentu semua itu tak didapatkan Liana dengan cuma-cuma. Mereka berdua sering membuat taruhan, dengan Liana yang selalu berhasil memenangkannya, dan membuat dia bisa mendapatkan semua fasilitas tersebut.
“Anak nakal! Di mana kamu sekarang? Pesta akan segera dimulai,” ucap seorang pria dari balik sambungan telepon.
Nampak seorang gadis yang tengah berjalan di dalam lorong salah satu lantai hotel tersebut, mengenakan sebuah kaus dengan aksen garis melintang putih hitam, dengan jaket abu-abu ber hoodie juga sapu tangan yang melilit di lehernya, dan celana jeans putih serta sepatu sneakers.
Rambut panjangnya diikat tinggi keatas, dan di tangannya membawa sebuah paper bag besar.
Dia bejalan menuju ke sebuah kamar yang sudah disediakan pihak hotel untuknya, sebagai fasilitas VVIP, dan gadis itu pun masuk ke dalam.
“Saya sudah ada di atas. Tempatnya di lantai tiga belas 'kan? Saya akan ke sana setengah jam lagi. Tidak, lima belas menit,” ucap Liana.
__ADS_1
“Baiklah. Cepat kemari. Wali kota sudah datang dan acara akan segera dimulai. Dia selalu menanyakan mu, jadi kau harus muncul kali ini,” seru pria itu.
“Baiklah, Kek. Aku tutup dulu,” Sahut Liana.
Gadis itu kemudian membuka semua pakaian dan menggantinya dengan gaun, yang dibawanya dalam paper bag tadi.
“Kenapa kakek itu semakin lama semakin cerewet saja sih. Sudah tau aku sedang mengurus proyek lain, masih saja menyuruhku datang ke mari. Hah, menyebalkan. Aku paling tidak suka acara seperti ini. Terlalu banyak sandiwara,” keluh Liana.
Dengan cepat, gadis itu sudah berganti pakaian dan kini tengah merias diri. Namun, sebuah kegaduhan terdengar dari luar kamarnya, dan tiba-tiba seseorang menerobos masuk dan membuatnya terkejut.
Liana seketika menoleh dan melihat seorang pria dengan mengenakan kemeja hitam dan sebuah jas yang telah dilepas, tengah memegangi lengan bagian atasnya sambil meringis kesakitan.
Gadis itu memfokuskan pandangannya pada bagian yang dipegang kuat itu, dan dia mendapati jika ada darah yang sangat banyak di sana.
Belum usai keterkejutannya, pria itu kini justru menodongkan senjata apinya ke arah Liana. Namun, gadis itu justru mendadak acuh dan kembali berbalik menghadap ke cermin.
Dia memilih untuk melanjutkan merias diri dan mengabaikan pria yang tengah terluka itu.
“Hei, Nona. Sepertinya kamu tak takut mati, bahkan setelah aku menunjukkan pistolku ke depan wajahmu,” ucap pria itu.
“Aku sudah pernah merasakan sekarat berkali-kali, bahkan hampir mati pun pernah. Jadi kalau harus melaluinya sekali lagi, tidak masalah bagiku,” sahut Liana datar.
Terdengar kekehan dari pria yang terlihat masih memegangi lengannya, dengan sesekali meringis kesakitan.
“Kau tahu, jika kamu sudah melihatku seperti ini, itu artinya kamu tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup,” ancam pria tersebut.
Liana mengulas listrik, dan merekatkan kedua bibirnya agar warna merah itu merata.
“Heh, aku yakin Anda hanya sedang menggertak. Saat ini, di tempat ini tengah berkumpul banyak orang-orang penting. Jika pagi harinya ditemukan mayat di salah satu kamar hotel yang bahkan belum dibuka ini, atau seseorang kehilangan anggota keluarganya saat menghadiri acara ini, pasti semua akan mengarahkan kecurigaannya pada Anda, Tuan Falcon,” tutur Liana berargumen.
Pria yang tak lain adalah Falcon, sang penguasa Grey Town itu mengenyitkan keningnya, karena tak menyangka jika Liana tahu identitasnya.
“Dari mana kau bisa tahu hal itu? Aku sangat hapal dengan orang-orang yang ku temui, bahkan hanya saat berpapasan di jalan sekali pun. Tapi, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Aku yakin, kau hanya menerka saja, benarkan,” ejek Falcon.
__ADS_1
“Ini adalah acara penting yang dihadiri orang-orang penting, dan salah satunya adalah ketua geng yang menguasai ibu kota negara bagian, Grey Town, Falcon,” ucap Liana sambil merapikan alat make up nya ke dalam tas kecil.
Dia kemudian berbalik dan bersandar di depan meja rias, dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.
“Melihat dari penampilanmu, wajah tampan, pakaian bermerek yang sudah pasti mahal, serta badan atletis, ditambah tatto bergambar naga yang sedikit terlihat dari balik kemeja mu yang terbuka itu, bisa dipastikan jika Anda bukanlah orang sembarang, dan satu-satunya yang memungkinkan adalah Falcon, si penguasa Grey Town,” lanjut Liana dengan suara yang mantap.
Falcon pun semakin tergelak. Namun, lukanya semakin terasa sakit dan wajahnya memucat.
Liana berjalan menghampiri pria itu, dan tiba-tiba merobek lengan kemeja Falcon tanpa aba-aba. Bahkan, dia tak menghiraukan pistol yang masih dipegang pria itu.
“Hei, kau ...,” pekik Falcon.
“Sepertinya ini tidak terlalu dalam. Orang seperti mu pasti selalu sedia peralatan medis darurat bukan. Bisa minta buahmu mengambilkannya?” sela Liana.
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Falcon geram, dengan tingkah Liana yang seenaknya.
“Anda datang kemari pasti untuk menghadiri acara ini kan. Tapi entah kenapa ada orang yang menyerang Anda saat perjalanan kemari, hingga membuatmu terluka. Mungkin dokter pribadi Anda sedang dalam perjalanan kemari. Namun, waktunya sudah mepet, dan aku yakin Anda tak akan meninggalkan acara sepenting ini, terlebih untuk kelangsungan bisnis Anda kedepannya. Jadi, saya hanya ingin memberi bantuan kecil, agar Anda bisa hadir dalam acara tersebut,” jawab Liana.
Falcon semakin tak habis pikir dengan gadis di hadapannya ini. Namun, ditengah keheranannya, sebuah lengkung terbentuknya dari salah satu ujung bibir yang tertarik ke atas.
“Pergilah keluar. Di Sana ada anak buahku. Minta dia membawakan kotak medis yang ada di mobil segera,” ucap Liana.
Tanpa bicara lagi, Liana pun segera keluar dan menemui anak buah Falcon.
.
.
.
.
Guys, komen yah... komen dong... komen apa aja kek😁
__ADS_1
Baca komen dari kalian itu kayak obat sakit kepala buat othor tau nggak🤭
So, habis pencet jempol, jangan lupa komen yah