
Sarapan sudah hampir selesai disiapkan di meja makan, oleh para pelayan mansion tua itu. Liana menawarkan diri untuk naik ke atas dan memanggil Falcon untuk segera bergabung di meja makan.
Liana berjalan menuju ke sayap kanan lantai dua, di mana ruangan bercahaya merah semalam berada.
Dia telah berdiri di depan pintu kamar, dan mengetuk pintu beberapa kali.
“Falcon, ini aku Lilian. Apa kau sudah bangun?” tanya Liana.
Dia menunggu beberapa saat, namun tak ada jawaban dari dalam. Gadis itu pun kembali mengetuk pintu.
“Hei, Falcon. Apa kau mendengarku? Sarapan hampir siap. Turun lah kalau kau sudah bangun,” teriak Liana dari luar kamar.
Namun, lagi-lagi tak ada sahutan dari balik pintu. Liana pun meraih gagang pintu dan mencoba memutarnya.
Ehm, tidak dikunci? batin Liana.
“Hei, Falcon. Aku masuk ya,” teriak Liana lagi.
Dia pun memutar handle pintu tersebut dan membukanya sedikit. Ia memasukkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat keadaan di dalam sana.
Terlihat jika tak ada siapapun di dalam. Liana membuka pintu semakin lebar dan masuk ke dalam. Dia melihat sekeliling ruangan tersebut. Nampak normal dan tak ada yang aneh. Bahkan, lampu di sana pun berwarna putih terang. Hanya saja, sudah sesiang ini tapi tirai masih tertutup rapat menghalangi cahaya mentari masuk ke dalam.
“Semalam aku jelas-jelas melihat kalau ruangan ini berpendar merah. Kenapa sekarang putih? Jangan-jangan, dia memakai saklar ganda yang bisa merubah warna lampu beberapa kali,” gumam Liana.
Dia melihat ke kana dan kiri. Kamar tersebut nampak rapi. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang menggelitik rasa penasarannya. Beberapa bingkai foto terjejer rapi di atas sebuah meja yang berada di samping jendela.
“Foto siapa itu?” gumam Liana.
Gadis itu mendekat ke arah meja kecil tersebut. Diraihnya sebuah foto yang ada di sana.
Nampak seorang wanita muda dengan senyum yang begitu ceria tengah menatap ke arah kamera. Semua foto memperlihatkan pakaian yang dikenakan wanita itu nyaris seluruhnya becorak bunga-bunga kecil yang cantik.
“Apa mungkin, ini pemilik baju-baju yang ku pakai? Tapi, kemana dia? Kenapa pakaiannya masih di sini tapi orangnya tak ada. Apa ini cinta sepihak atau pria itu telah dicampakan?” Liana tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Dia tak sadar jika seseorang tengah berdiri di belakangnya sejak tadi, dan terus memperhatikan gerak geriknya.
__ADS_1
Liana meletakkan kembali bingkai foto tersebut. Karena mengira kamar itu sepi, Liana pun hendak keluar dari ruangan yang diyakininya adalah kamar Falcon .
Namun, baru saja dia berbalik, langkahnya seketika terhenti saat menyadari seseorang tengah berdiri di depannya. Dia bahkan hampir memekik karena terkejut.
“Kau mengejutkan ku!” seru Liana.
Gadis itu memegangi dadanya karena terkejut dengan kehadiran Falcon yang tiba-tiba sudah berdiri di sana. Jantung berdegup tak karuan sangkin terkejutnya. Dia sampai tak sadar jika saat ini, pria itu berada dengan kondisi hampir telanjang.
Buliran air masih terlihat di beberapa bagian kulitnya, dan bahkan rambutnya pun masih terlihat basah. Nampaknya, pria itu sedang berada di dalam kamar mandi saat Liana mengetuk pintu tadi.
“Kau yang mengejutkan ku. Kenapa masuk kamarku begitu saja?” tanya Falcon sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
“Aku hanya ingin memanggilmu turun karena sarapan sudah siap di bawah. Ku ketik pintunya tapi tak ada jawaban,” jawab Liana.
“Oh, jadi karena tak ada yang menyahut, kau masuk begitu saja ke dalam? Apa kau tak takut aku bersembunyi di belakang pintu dan menerkammu? Atau, kau memang mengharapkan itu?” goda Falcon.
“Hish! Apa sih maksudmu. Sudahlah aku keluar dulu,” sahut Liana.
Gadis itu hendak pergi, namun Falcon tak mau menyingkir dari hadapan Liana. Dia justru maju mendekat dan semakin mendekat hingga Liana terpaksa mundur. Tatapan Falcon lurus ke dalam manik hitam Liana, hingga membuat gadis itu kebingungan.
Liana terus mundur, hingga kakinya membentur bibir ranjang dan membuatnya jatuh terduduk di sana.
Falcon terus maju dan membuat Liana memundurkan badannya.
“Hei, mau apa kau? Jangan mendekat!” seru Liana.
Tangannya terangkat dan mencoba menghalangi Falcon yang terus saja mendekat. Pria itu bahkan membungkuk dengan wajah yang semakin dekat, membuat Liana berdebar.
Gadis itu segera memalingkan wajahnya menghindari Falcon. Namun, Falcin terlihat menyeringai dengan berucap tepat di depan telinganya.
“Apa yang kau pikirkan? Aku hanya ingin mengambil pakaian ku saja,” ucap Falcon.
Liana menoleh dan melihat pria itu meraih baju yang ada di atas kasur, tepat di belakang Liana. Dia sangat malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak tadi. Wajahnya bahkan memerah mengalahkan tomat.
“Kenapa? Apa kau kecewa karena aku tak melakukan yang kau mau?” goda Falcon.
__ADS_1
“Aku? Kecewa? Kau kan yang sengaja menggodaku tadi?” elak Liana.
“Hei, kau lupa kalau telah masuk begitu saja ke kamar seorang pria. Apa kau tidak tau bahayanya hal itu? Tapi aku rasa, kau sangat berani kali ini. Tidak seperti terakhir kali,” tutur Falcon.
“Apa maksudmu?” tanya Liana.
“Kau tidak malu lagi melihatku seperti ini, dan sepertinya justru begitu menikmatinya,” ucap Falcon sambil merentangkan kedua tangannya, sehingga Liana bisa dengan jelas melihat ABS Falcon yang menggoda.
Wajah Liana semakin memerah dan terasa hangat. Dia salah tingkah dan mencoba memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
“A... Aku tidak sadar kalau kau belum berpakaian. Maaf, aku keluar dulu,” ucap Liana.
Gadis itu pun berjalan ke arah pintu, sambil menghalangi pandangannya ke arah Falcon dengan sebelah tangan.
Pria itu terkekeh geli melihat raut wajah lucu Liana yang merah bagaikan tomat segar. Namun, saat gadis itu telah menghilang di balik pintu, tawanya menghilang seketika. Dia terlihat datar dan tak berekspresi.
Tatapannya tertuju pada deretan foto yang ada di atas meja, yang sebelumnya di lihat bahkan salah satunya sempat dipegang oleh Liana.
Pandangannya beralih ke sebuah lukisan sebuket bunga liar yang tergantung di dinding kamarnya.
Dia menekan saklar lampu kamar yang tak jauh dari tempat tidur, dan membuat cahaya berpendar merah. Dia kembali menatap ke arah lukisan bunga liar tadi. Namun, lukisan itu telah berubah menjadi potrer seorang anak laki-laki kecil dengan wajah murung di sana.
Apa kau tau, cerita tentang si anak kecil itu belum selesai sampai sekarang? batin Falcon.
.
.
.
.
Udah 2 bab😁seperti biasa satu bab lagi malam aja yah😅
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘