Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Penampilan


__ADS_3

Pesta berlangsung cukup lancar. Satu persatu pengisi acara mulai menyuguhkan penampilan terbaik mereka.


Berbagai macam pertunjukkan dimainkan oleh anak-anak dari yayasan tersebut, dan juga persembahan dari beberapa artis terkenal ibu kota.


Di sepanjang acara, Liana terus memperhatikan orang-orang yang berada di sekeliling Moses Jung. Perhatiannya tertuju pada sepasang pria dan wanita yang duduk di salah satu meja barisan depan, dengan penampilan formal dan cenderung kaku.


Mereka berdua terlihat seperti pengurus yayasan yang kalem dan cupu, terlihat dari penampilan keduanya yang selalu mengenakan setelan bahan hitam berkemeja putih sebagai inner nya, dengan gaya rambut klasik.


Si pria selalu menyisir rambutnya ke samping dengan klimis, sedangkan si wanita menyanggulnya ke atas dengan poni menyamping. Tak lupa kaca mata ber-frame bulat yang bertengger di hidung mereka, lengkap dengan rantai leher.


Liana ingat betul siapa orang-orang itu, dan seingat dia, mereka tak seperti itu pada aslinya.


Rupanya yayasan ini adalah gangster terselubung. Menarik. Akan lebih bagus jika semua terungkap ke publik bersamaan, batin Liana.


Saat Liana larut dalam pikirannya sendiri, Christopher mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Liana.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Christopher.


“Tak ada. Hanya sedang menunggu momen selanjutnya,” jawab Liana singkat.


Gadis itu meneguk sampanye yang sudah tersaji di depan mejanya, dan kembali menatap ke sekeliling.

__ADS_1


“Sebaiknya kau jangan terlalu terlihat mengawasi mereka. Panggungnya ada di sana, jangan melihat ke arah mereka terus,” seru Christopher.


“Hah... Baiklah, Sepupu. Kenapa kau cerewet sekali?” keluh Liana.


Gadis itu pun menurut dan mulai menikmati pertunjukkan yang ditampilkan. Sebuah drama anak-anak yang dibawakan dengan gaya khas anak-anak yang begitu ceria, menceritakan tentang persahabatan antara semut dan belakang, di mana si semut yang terus mengingatkan temannya, si belakang agar tak malas, namun belelang justru mengabaikannya.


Hingga tiba musim dingin dan tak ada makanan untuk mereka, si belalang berakhir kedinginan dan kelaparan diluar, sedangkan semut menikmati hasil kerja kerasnya dalam rumah yang hangat, serta pangan yang melimpah.


Liana tersenyum melihat tingkah anak-anak kecil itu yang menggemaskan. Dia tak menyangka jika anak sepolos dan selugu itu, justru disiapkan untuk menjadi seorang kriminal, di bawah asuhan Henry dan juga Alice yang berdarah dingin.


Setelah pertunjukan dari anak-anak tersebut, sang pembawa acara mempersilakan salah satu tamu undangan untuk maju dan menampilkan sebuah persembahan.


Setelah selesai, pembawa acara kembali melanjutkan acara yang udah tersusun. Kali ini, dia menyampaikan bahwa sang arsitek akan mempersembahkan sebuah permainan piano klasik.


Christopher menoleh ke arah Liana. Dia tak menyangka jika gadis itu bahkan merencanakan pertunjukan tersebut.


“Apa kau tidak salah? Ini bukan dirimu. Kau terlalu terlihat mempunyai maksud, Liana,” bisik Christopher yang semakin khawatir dengan sepupunya itu.


“Aku memang ingin memberitahukan pada seseorang, bahwa aku memiliki maksud lain di acara ini,” ucap Liana datar.


Dia kemudian berdiri dan berjalan ke arah panggung. Lampu sorot mengikuti langkah kakinya yang terlihat anggun meski dengan sepasang flatshoes.

__ADS_1


Wajah cantiknya menjadi magnet bagi setiap orang yang hadir di sana, tak terkecuali Moses yang sejak kemunculannya seakan tersihir dengan paras gadis itu.


Liana membungkuk memberi salam pada semua hadirin. Dia kemudian duduk di balik sebuah grand piano yang memang sudah disiapkan di sana.


Gadis itu menarik nafas panjang sebelum jemarinya mulai menari lincah di atas tuts piano. Lagu Beethoven dengan judul Fur Elise dimainkannya dengan begitu indah. Lagu yang sering di dengar, bahkan saat ini banyak bel sekolah yang menggunakan lagu tersebut sebagai tanda masuk kelas.


Bagi tamu lainnya, mungkin lagu ini terlalu biasa, namun ada kesan tersendiri bagi Moses, yang nampak tak bisa berpaling dari arah Liana yang sedang memainkan alat musik tersebut.


.


.


.


.


Sarapan datang, bestie 🥰 hari senin lho ini, jangan lupa votenya ya😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2