Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Yang terakhir datang


__ADS_3

Petang menjelang, dan lampu-lampu di seluruh istana itu pun telah dihidupkan, membuat kesan dan suasana yang berbeda di Sky Castle. Ketika malam, tempat itu terlihat begitu romantis dan indah dengan permian cahaya lampu di setiap sudut istana.


Liana dan Nona Shu telah selesai berkeliling. Mereka kini tengah bersiap untuk ikut dalam perjamuan makan malam bersama dengan keluarga Tuan Harvey.


Nona Shu terlihat bersemangat untuk menyiapkan pakiannya dan masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian. Sedangkan Liana, gadis itu masih saja tenggelam dalam pikirannya.


Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya sore tadi saat di taman bunga. Sosok yang dia kenal, tiba-tiba saja berada di tempat yang asing ini.


Apa itu memang dia? Apa mungkin dia punya kembaran? Tapi aku yakin itu memang dia. Tapi, kenapa dia bisa ada di sini? batin Liana.


Pikirannya dipenuhi dengan tanya akan sosok yang dilihatnya itu. Dia terus duduk terdiam di tepi ranjang, dan larut dalam pikirannya yang masih mencari-cari jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Nona Shu bahkan telah selesai berganti pakaian, namun Liana masih tak bergerak dari tempat semula.


“Hei, Nona. Ada apa dengan mu? Setelah tadi kau menghilang di kebun bunga, tiba-tiba jadi pendiam seperti ini. Apa ada makhluk halus yang merasuki mu?” goda Nona Shu.


Liana hanya tersenyum tipis mendengar ejekan dari rekannya tersebut. Melihat reaksi Liana yang aneh itu pun, Nona Shu mendekat dan memeriksa kening Liana dengan punggung tangannya.


“Apa kau sakit? Apa kau benar-benar tidak enak badan?” tanya Nona Shu.


Liana mencoba menyingkirkan tangan seniornya itu dari kepalanya.


“Aku baik-baik saja, Kak. Hanya mungkin terlalu lelah,” jawab Liana.


“Benarkah? Apa kau bisa ikut makan malam ini?” tanya Nona Shu.


“Ya, aku bisa. Aku ganti baju dulu,” sahut Liana.


Gadis itu mengambil sebuah gaun dari dalam kopernya dan membawanya ke walk on closet. Wajahnya bahkan kembali terlihat berubah datar saat pintu tertutup.


Aku harus pastikan semuanya sendiri, batin Liana.


Gadis itu kemudian mulai bersiap-siap. Sekitar tiga puluh menit kemudian, keduanya telah siap. Liana memakai gaun yang sama, saat dia pulang dari pulau Sky Escape.



Awalnya, dia tak mau membawa pakaian semacam itu, namun Nona Shu memintanya untuk menyiapkan paling tidak satu, untuk mengantisipasi acara jamuan semacam ini.


Liana yang tak punya banyak koleksi gaun pun, akhirnya memutuskan untuk memakai baju yang ia bawa dari pulau itu.

__ADS_1


Rambut hitam panjangnya ia gerai bebas, dan ditunjang polesan make up tipis andalannya. Begitu pin  Nona Shu. Meski dia sangat antusias dengan jamuan ini, namun dia tetap menunjukkan  kelasnya dengan berpenampilan elegan dan make up flawless nya.


Keduanya pun keluar dari kamar dan menuju ke ruang tengah. Di sana, mereka di minta untuk duduk di sofa, bergabung dengan Tuan Harvey yang juga berada di sana.


“Bagaimana rumah ku? Apa kalian merasa nyaman di sini?” tanya Tuan Harvey.


“Rumah Anda sangat menyenangkan, Tuan. Tapi, ini lebih mirip seperti sebuah istana dari pada hanya disebut sekedar rumah,” sahut Nona Shu.


Keduanya telah duduk dan menikmati suguhan teh camomile yang menenangkan dan kue jahe buatan koki istana Sky Castle.


Nampak Tuan Harvey dan Nona Shu terus berbincang santai, sedangkan Liana terus melihat ke arah lift, seolah tengah menunggu kehadiran seseorang.


Pikirannya terus mengingat sosok yang ia lihat tadi siang. Meski tak jelas karena silau akan cahaya mentari yang begitu terik, namun Liana yakin dia mengenal orang tersebut.


Diamnya Liana pun di sadari oleh Tuan Harvey, bahkan semenjak mereka dalam perjalan ke istananya. Bahkan, kali ini gadis itu pun terlihat seakan tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan antara dirinya dan Nona Shu.


“Bagaimana menurutmu, Nona Wu?” tanya Tuan Harvey tiba-tiba.


Liana masih diam dengan pandangan yang terus tertuju pada lift di depan sana. Nona Shu yang melihat rekannya itu tak merespon pun, tersenyum canggung dan akhirnya menyenggol lengan Liana sedikit keras.


Gadis itu pun seketika tersadar dan menoleh ke arah kedua orang yang duduk bersamanya.


“Kami sedang membahas mengenai proses pengerjaan proyek Paradise. Aku menyarankan dirimu untuk tinggal di rumah ini saja selama proyek berlangsung. Bagaimana menurutmu?” tanya Tuan Harvey.


“Hahahaha... Apa kau selalu seperti ini setiap kali menjawab pertanyaan yang diajukan? Hahahaha...” tanya Tuan Harvey.


Liana sadar jika dia melakukan kesalahan. Caranya menjawab Tuan Harvey sama dengan saat berhadapan dengan kakeknya.


Haduh... Aku terlalu memikirkan orang tadi siang, sampai-sampai lupa dengan siapa aku bicara, batin Liana.


Dia pun tersenyum canggung. Terlebih melihat Nona Shu yang tampak memijat kening karena melihat kelakuan Liana yang seperti tadi.


Tuan Harvey melihat jika Liana menjadi canggung, karena sadar akan cara bicaranya yang kelepasan.


“Tidak apa-apa. Aku mengerti itu. Masa muda memang selalu berapi-api. Selama ini kau selalu mencoba sopan pada setiap orang, sehingga terpaksa menekan sisi liar dalam dirimu. Itu wajar. Aku memaklumi nya,” ucap Tuan Harvey.


“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya berbicara seperti ini ketika dengan orang terdekat saya saja. Mungkin karena terlalu nyaman dengan rumah ini, sehingga membuat saya merasa seperti berbicara dengan keluarga sendiri,” sahut Liana.


“Aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir,” seru Tua Harvey.

__ADS_1


Di tengah perbincangan tersebut, seorang pelayan menghampiri mereka.


“Maaf, Tuan Besar. Hidangan telah siap,” ujar pelayan tersebut.


“Panggil yang lainnya. Kita ada tamu. Mereka harus ikut makan malam bersama juga untuk menghormati tamuku,” seru Tuan Harvey.


“Baik, Tuan,” sahut si pelayan.


“Mari, sambil menunggu yang lain, kita ke meja makan terlebih dulu,” ajak Tuan Harvey pada kedua tamunya.


Liana dan Nona Shu pun mengangguk dan mengikuti pria tua pemilik rumah mewah tersebut.


Meja makan di istana itu sangat besar dan panjang. Terdapat sepuluh kursi, dengan dua berada di masing-masing ujungnya, sedangkan sepuluh lagi di sisi kiri dan kanannya.


Tuna Harvey duduk di salah satu kursi di ujung meja, sedangkan Liana dan Nona Shu dipersilakan untuk duduk di dua kursi yang berada di sisi kiri Tuan Harvey.


Satu per satu penghuni rumah mulai muncul. Liana dan Nona Shu berusaha tersenyum ramah pada mereka, namun semuanya terlihat tak acuh bahkan cenderung tak peduli.


Semua kursi hampir terisi seluruhnya. Tinggal satu kursi lagi yang belum ada pemiliknya.


“Semua sudah berkumpul, Papah. Mari kita mulai saja makan malamnya,” seru salah seorang nyonya di rumah tersebut.


“Masih ada satu orang lagi yang belum hadir... Ah, itu dia datang,” ucap Tuan Harvey.


Semua orang menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh pria tua itu, begitupun Liana dan juga Nona Shu.


Seketika, waktu seolah berhenti. Dada Liana bergemuruh bagai guruh di musim hujan. Jantungnya berdegup sangat kencang kala melihat dengan jelas orang yang terakhir datang.


“Kau...,”


.


.


.


.


Cuma mau bilang maaf, akhir-akhir ini up nggak seperti biasanya 🙏 lagi sibuk sekali bestie😅

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2