
Di sebuah taman, di mana terdapat gazebo yang indah dikelilingi pepohonan dan bunga yang dirawat dengan baik, tampak seorang pria tua tengah duduk sendiri di kursi yang ada di sana.
Dia terlihat diam, dengan pandangan yang tertuju pada danau, yang berada di belakang rumahnya. Setiap kali melihat danau tersebut, dia seolah tengah melihat seorang gadis sedang duduk di dermaga kecil yang ada di sana. Bertelanjang kaki dan memasukkan keduanya ke dalam air danau yang begitu jernih bak kaca.
Gadis yang selama tiga tahun ini terus menemaninya dan menjadi teman bicara sekaligus teman berdebat. Sosok gadis yang membuat suasana mansion besar itu terasa hidup kembali setelah kepergian sang putri lebih dari dua puluh tahun yang lalu.
Wajah keriput itu terlihat begitu menyedihkan. Gurat kerinduan yang teramat, disertai raut penyesalan benar-benar tampak jelas di sana. Tatapan kosongnya begitu menyayat hati siapapun yang melihat. Meski sifat arogannya tak pernah hilang setiap kali berhadapan dengan bawahannya, namun disaat sendiri seperti sekarang ini, dia terlihat tak lebih dari seorang pria tua yang kesepian.
Dari arah dalam, nampak seorang gadis yang berjalan ke arah ruang tengah, di mana langsung terhubung dengan taman samping, tempat si kakek berada.
Dari kejauhan, gadis itu melihat sosok renta itu dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Hatinya sakit melihat pria malang itu duduk sendiri di sana dengan tatapan nanar.
Dia melangkah perlahan mendekat ke gazebo itu, meski perasaan di dalam hatinya masih berkecamuk tak tentu. Namun, dia berusaha untuk menekan egonya sekuat mungkin, demi meluruskan semua masalah yang timbul selama ini.
“Udara semakin dingin, dan Kakek malah duduk di sini. Apa tidak takut masuk angin?” ucap Liana.
Gadis itu memberanikan diri untuk melangkah mendekat ke arah Kakek Joseph. Pria tua itu seketika menoleh saat mendengar nada suara sinis yang selalu ia rindukan.
Kakek Joseph bahkan seketika berdiri saat melihat Liana berjalan mendekat ke arahnya. Dengan terburu-buru, dia mencoba meraih tongkatnya, akan tetapi benda itu malah terjatuh karena tak sengaja tersenggol oleh tangan kakek sendiri.
Liana mempercepat jalannya dan membatu pria tua itu mengambil teman berjalannya.
“Biar ku bantu Kakek masuk ke dalam,” ucap Liana.
Gadis itu memberikan tongkat yang jatuh tadi kepada kakek. Pak tua Wang tidak menyahut sama sekali. Namun tatapannya terus tertuju pada Liana, yang belum mau menatap balik ke arahnya.
Liana masih belum berani menatap mata kakeknya. Bahkan kini, dia pun terus menunduk seolah menyembunyikan wajahnya.
Tangan Joseph terulur, dan menyentuh pundak Liana. Kakek tua itu mengusapnya dengan lembut.
“Terimaksih,” ucap Kakek Joseph.
Liana masih belum mau mengangkat wajahnya. Dia bahkan menarik tangannya dari tongkat kakek, dan menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
Kakek Joseph memindahkan tangannya ke atas puncak kepala Liana, dan mengusap lembut surai hitam legam itu.
“Terimakasih. Akhirnya kamu mau pulang ke rumah,” ucap Kakek Joseph.
__ADS_1
Liana nampak mengangguk dengan cepat. Pundaknya bahkan berguncang seakan ia tengah terisak.
“Iya, Kek. Aku pulang,” gumamnya lirih.
Liana mendongak dan menatap wajah kakeknya. Nampak lelehan bening telah luruh di pipi putihnya.
“Aku sudah kembali,” ulangnya.
Kakek Joseph tak kuasa melihat cucunya menangis seperti itu. Dia membingkai wajah Liana dan berusaha mengusap air mata yang turun. Namun, bak air terjun, air mata itu jatuh berderai dengan derasnya. Mata sang kakek bahkan ikut berkaca-kaca, melihat cucu yang selama ini dicarinya, akhirnya berdiri di hadapannya.
“Cucuku, Liana,” ucap Joseph.
Dia pun segera memeluk Liana, yang sudah semakin terisak dalam tangisnya.
“Aku pulang, Kek. Cucumu sudah pulang,” ucap Liana di sela isaknya.
“Akhirnya kau pulang, Nak. Maaf kan Kakek,” sahut Kakek Joseph.
Pria tua itu pun tak bisa menghalau bulir bening untuk menetes dari matanya.
Keduanya saling berpelukan, seolah menumpahkan segala kerinduan yang amat mendalam, yang selama ini tak bisa tercurahkan pada siapapun.
“Terimakasih, Cucuku. Terimakasih. Terimakasih, Tuhan. Engkau telah mengembalikan anak Lilian padaku,” ucap Joseph.
Tangannya terus mengusap lembut punggung Liana, seraya menenangkan gadis yang menangis semakin keras.
Semua pelayan dan pekerja yang menyaksikan pun, tak kuasa menahan haru melihat pemandangan yang saat ini ada di hadapan mereka.
Pertemuan pertama antara cucu dan kakeknya setelah sekian lama. Meskipun mereka selalu ada di dekat masing-masing, namun kenyataan baru terkuak belakangan, bahwa pelayan yang dulu pernah bekerja di rumah Presdir Wang, adalah putri dari Nona muda Wang, atau cucu sang majikan itu sendiri.
...👑👑👑👑👑...
Sementara itu, di Golden City, nampak seorang pemuda terlihat baru keluar dari gedung Golden Daily. Dia baru saja selesai menyerahkan naskah berita yang akan dimuat esok hari, dan kini berniat untuk pulang ke tempat tinggalnya.
Pemuda itu berjalan ke arah parkiran atap seperti biasa. Dia nampak menekan tombol callback yang terdapat di kunci yang dipegangnya, dan sebuah motor memberi respon atas panggilan tersebut.
Sebuah motor kawasaki hitam terparkir tak jauh dari tempat pemuda itu berdiri. Dia pun berjalan mendekat, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat dua orang pria berjas hitam tengah berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Awalnya pemuda itu bersikap biasa saja dan mengambil arah lain untuk menuju ke motornya. Namun, kedua pria itu mengikutinya, dan membuat si pemuda akhirnya berbalik dan lari menghindari kedua pria berjas itu.
Saat hendak turun, dia kembali dihadang oleh dua orang pria berjas yang lain dari arah bawah, dan membuatnya terpaksa berhenti. Pemuda itu menoleh ke belakang. Kedua pria tadi terlihat melambatkan larinya karena pemuda itu pun berhenti.
Kini, si pemuda tersebut mulai panik. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Entah kebetulan dari mana, sebuah mobil box yang mengangkut koran, terlihat keluar dan lewat tepat di bawah tangga, di mana pemuda itu berada saat ini.
Dia melirik ke kanan dan kiri, lalu kemudian secepat kilat melompat ke atas mobil tersebut, dan meninggalkan pria-pria itu di belakang.
Pemuda itu pun pergi meninggalkan Golden Daily dengan menumpang mobil box hingga ke lampu merah terdekat.
Dia turun dari atas mobil dan masuk ke dalam jalan kecil, yang berada di antara dua gedung yang bersebelahan.
Tampak pemuda tadi meraih ponsel yang ada di dalam tas selempangnya, dan menghubungi seseorang.
“Halo, Kak. Malam ini aku boleh menginap di rumahmu?” tanya pemuda itu.
“Tentu, Chris. Tapi ada apa? Apa kau sudah ketahuan?” tanya suara di seberang.
Pemuda yang tak lain adalah Christopher itu terus berjalan ke depan, dengan langkah yang panjang agar cepat sampai ke area pemukiman yang berada tepat di belakang gedung-gedung tersebut.
“Sepertinya aku sudah teledor. Mungkin aku harus pindah lagi kali ini,” ucap Christopher.
Pemuda itu terus berjalan dan menghilang di persimpangan jalan.
.
.
.
.
Udah hari sabtu aja nih bestie 😁seperti biasa othor cuma kasih 1 bab aja hari ini ya😊
sambil nunggu neng Liana up date, mampir ke novel receh ku lainnya yuk😁 nih ku kasih lihat dibawah😊kali aja minat gitu 🤭
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘