
Mungkin, sejak aku bertemu dengan ayah, batin Liana.
Namun, gadis itu tak mengatakannya dan hanya tersenyum ke arah sang kakek.
“Apa tidak boleh aku bermanja-manja dengan kakek sendiri? Jangan terlalu pelit padaku lah, Kek,” keluh Liana.
Gadis itu kembali masuk ke dalam pelukan sang kakek. Presdir Wang pun hanya bisa terkekeh, saat melihat sikap cucunya yang begitu manja.
Ekor matanya menangkap kehadiran seseorang yang datang bersama Liana, dan masih berdiri di kejauhan.
“Apa sekarang, kalian sudah berani terang-terangan, hah?” tanya Kakek Joseph.
Liana pun seketika mengurai pelukannya dan menatap wajah sang kakek.
Pria tua itu menunjuk ke arah Falcon dengan menggunakan dagunya, dan membuat Liana seketika menoleh ke arah yang ditunjuk.
“Kemarilah,” seru Liana.
Tangannya melambai ke arah Falcon, dan meminta pria itu untuk mendekat ke arahnya dan sang kakek berada.
Falcon pun menurut. Dia berjalan mendekat dan sesampainya di depan orang tua itu, Falcon pun membungkuk memberi hormat.
“Selamat siang, Presdir Wang. Lama tidak berjumpa,” sapa Falcon.
__ADS_1
“Hah, bisa sopan juga kau rupanya,” sindir Kakek Joseph.
Falcon tak menimpali, begitu pun Liana. Gadis itu justru mengalihkan topik dan mengajak sang kakek untuk kembali ke rumah utama.
“Aku sudah buatkan Kakek masakan untuk kita makan bersama-sama. Kakek belum makan siang bukan?” bujuk Liana.
“Memang aku belum makan siang. Tapi, apa kau yakin masakanmu itu bisa dimakan oleh manusia? Kau tahu kan kalau sekarang kakekmu ini tidak bisa terlalu terkejut. Jangan buat kakek kaget dengan rasa masakanmu,” ejek Kakek Joseph.
“Apa kakek mau bilang masakanku ini tidak meyakinkan? Bukankah dulu Kakek juga pernah makan masakanku?” keluh Liana kesal.
“Hahahaha... Baiklah! Baiklah! Entah apa yang sudah terjadi padamu di ibu kota, sampai-sampai kau jadi begitu berbeda seperti ini. Ayo kita cicipi bagaimana hasil karyamu itu,” ajak Kakek Joseph.
Liana oun berjalan berdampingan dengan sang kakek. Satu tangannya merangkul lengan kakeknya, sedangkan tangan yang lain menggenggam jemari kekasihnya agar ikut berjalan bersama mereka.
Setibanya di dalam rumah, Liana menarikkan sebuah kursi untuk kakeknya duduk, kemudian giliran Falcon yang memperlakukan Liana dengan baik seperti gadis itu memperlakukan pria tua itu tadi.
Memang bukan masakan mewah. Hanya masakan sederhana saja, namun rasanya tidak perlu diragukan karena yang memasak adalah Falcon. Pria itu cukup piawai dalam hal mengolah makanan.
Pelayan-pelayan itu mulai mengambilkan nasi ke atas piring masing-masing orang, dan meletakkan kembali piring tersebut di depan mereka.
Liana berinisiatif mengambilkan masing-masing satu sendok dari setiap masakan yang dia bawa ke atas piring kakeknya.
“Cobalah, Kek. Aku yakin Kakek pasti suka,” seru Liana.
__ADS_1
Kakek Joseph mulai menggerakkan alat makannya dan menyuapkannya ke dalam mulut.
Pria tua itu terlihat mengerutkan kening, membuat Liana deg-degan dengan reaksi sang kakek. Sedangkan Falcon, pria itu bersikap biasa saja.
“Bagaimana, Kek?” tanya Liana harap-harap cemas.
“Ehm... Kenapa rasanya begini?” tanya sang kakek.
Liana semakin khawatir dibuatnya, hingga ia segera mengambil lauk dan memakannya sendiri.
“Rasanya enak kok, Kek. Tidak ada yang aneh,” ucap Liana.
“Hahahaha... Siapa yang bilang rasanya aneh. Yang aneh itu justru kau yang tiba-tiba bisa masak seenak ini. Hahahaha... aku ingat dengan jelas rasa masakanmu dulu itu seperti apa. Kenapa kau sangat tidak percaya diri? Seperti bukan kau saja yang memasaknya,” sindir Kakek Joseph.
“ish! Kakek ini. Jangan bercanda lagi. Ayo makan, sebelum lauk nya dingin,” seru Liana.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘