Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sarang burung Elang


__ADS_3

Malam hari di Empire State, di sebuah kamar hotel di lantai sepuluh, seorarag gadis nampak berdiri di balkon, menikati pemandangan malam hari kota tersebut.


Decak kagum terus terdengar dari mulut gadis itu, setiap kali matanya menangkap sesuatu yang asing dan baru baginya.


Liana, gadis yang seumur hidup terjebak di kota kecil yang produktif dan hampir tak pernah tidur, Metropolis, kini mulai terbang ke kota-kota besar dan melihat bagaimana rupa dunia ini.


Banyak sekali model bangunan dan juga seni arsitektur yang belum pernah ia lihat secara langsung, selama ia menggeluti bidang konstruksi.


Dari kamar hotelnya yang memang berada di area pusat kota, dia bisa melihat town square yang memilik banyak fasilitas publik yang bisa dibilang lengkap dan berkelas, serta gedung pemerintah yang tak monoton berbentuk persegi panjang yang menjulang ke atas, melainkan memiliki bentuk unik yang bisa mewakili fungsi dari gedung tersebut.


Misalnya, sebuah perpustakaan yang memiliki design mirip buku yang berjejer rapi,



Institut Arsitektur yang berbentuk biola dan sebuah piano,



sebuha kuil buda yang berbentuk bunga teratai raksasa,



apartemen yang berbentuk setumouk mesin cuci,



stadium megah dengan permaina lampu nan inda dan masih banyak lagi yang lain.



Seolah surga bagi seorang arsitektur, kota itu menyuguhkan berbagai referensi dan ide baru akan sebuah banguannan yang modern dan juga artistik. Yang tidak hanya mengedepankan fungsi dan kenyamanan, melainkan juga sentuhan estetika keindahan dari bangunan tersebut sehingga enak dipandang mata dan sulit dilupakan, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri.


Gadis itu berjalan ke arah kamar dan mengambil sebuah note book serta pensil. Dia masih berdiri di tepi balkon bersandar pada pagar pembatas yang terbuat dari besi. Dia mulai mencoret-coret kertas putih itu dengan pensilnya.


Nampak sebuah sarang burung, lengkap dengan induk dan anak burung yang ada di atasnya. Bahkan, burung dewasa yang tergambar tidak hanya satu, melainkan dua, seolah menyiratkan sebuah keluarga yang utuh ndan normal. Jika dilihat lebih dekat, itu adalah sarang burung elang. Entah kenapa Liana tetiba menggambar bentuk itu setelah melihat pemandangan kota tersebut.

__ADS_1


“Sepertinya begini cukup bagus. Lagipula, ayah hanya menggambar bagian dalamnya saja bukan,” gumam Liana.


Senyum manis mengembang seketika di bibirnya. Gadis itu merasa ada sesuatu yang hangat, saat dia melihat hasil gambarnya tersebut. Dia teringat akan cetak biru yang berada di belakang lemari buku, yang merupakan sebuah denah ruangan dari sebuah rumah.


Tapi, entah kenapa yang dia gambar justru sarang burung elang, seolah ia terinspirasi dari seseorang yang memiliki nama sama dengan burung tersebut.


Tiba-tiba, dia menggeleng cepat dan memukul kepalanya sekali.


“Hish! Aku sedang memikirkan apa sih? Bisa-bisanya memikirkan pria mesum itu,” gerutu Liana pada diri sendiri.


Dia kembali teringat akan setiap kebersamaan nya dengan Falcon, dari mulai dia pertama kali bertemu dengan sang bos gangster, hingga ciuman pertama mereka yang begitu menggelora dan bergairah beberapa waktu yang lalu.


Dia pun tak sadar jika tangannya telah menyentuh bibirnya, seolah mencari sisa rasa yang ditinggalkan oleh Falcon di sana. Namun lagi-lagi, Liana tersadar dan kembali memukul kepalanya sendiri.


“Sepertinya aku harus tidur. Otakku sudah tidak bisa berpikir waras,” elak Liana.


Dia pun kemudian kembali masuk ke dalam dan memilih tidur lebih awal.


...👑👑👑👑👑...


Sebuah tempat di deretan kios di depan jalan sempit nan gelap, Falcon terlihat tengah berbincang dengan seseorang pemilik toko.


“Ini yang kau pesan, Bos,” ucap si pemilik toko.


Dia menyerahkan sebuah kotak hitam dengan beberapa benda berbentuk bulat pipih di dalamnya. Nampaknya itu adalah alat penyadap dan pelacak lokasi.


“Bagus. Kau memang selalu bisa diandalkan. Bagaiman dengan benda satunya lagi?” tanya Falcon.


“Aku masih harus menggabungkan benda itu ke dalam sebuah barang lain agar tak terlalu nampak mencolok. Tunggulah beberapa hhari lagi” sahut Si pemilik toko.


“Aku beri waktu kau sampai besok malam,” seru Falcon.


“Bagaimana kalau lusa?” tawar si pemilik toko.


“Tidak bisa lebih dari jam lima pagi. Orang ku akan kemari untuk mengambilnya,” sahut Falcon.

__ADS_1


“Baiklah. Akan ku usahakan. Tapi, ini bukan seperti gayamu, Bos. Apa kali ini ada orang spesial?” tanya si pemilik toko.


“Sediakan saja barangnya! Kau tak perlu tau banyak tentang masalah ku diluaran sana,” seru Falcon.


Sang bos gangster itu pun terlihat mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Nampak sebuah amplop putih tebal muncul dari dalam sana.


Falcon meletakkan amplop tersebut di atas meja, dan segera diraih oleh si pemilik toko. Muncul segepok uang dari dalam amplop dan segera di simpan oleh si pemilik toko.


“Pas,” ucap si pemilik toko.


“Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Ingat! Besok tidak lebih dari jam lima pagi. Apa kau paham?” seru Falcon.


“Baik, Bos. Akan ku usahakan sebaik mungkin,” sahut si pemilik toko.


Falcon pun segera pergi dari tempat  tersebut.


“Sering-sering datang kemarin, Bos,” pekik si pemilik toko.


Dia kembali mengeluarkan amplop berisi uang yang begitu banyak itu dan menciumnya. Sambil melihat pelanggannya menghilang di kejauhan.


.


.


.


.


Maaf, yang ke tiga baru bisa subuh😅


met sahur semuanya


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2