Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Keputusan yang tak sia-sia


__ADS_3

Di tempat lain, di Sky Castle, Falcon dan Tuan Harvey telah selesai melakukan perbincangan, dan sepakat untuk meminjamkan pesawat jet pribadinya untuk membawa Liana kembali ke Golden City bersama sang cucu.


Cuaca di sekitar Sky Castle jauh berbeda dibandingkan dengan bagian timur Empire State yang sedang diguyur hujan deras, sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan penerbangan saat itu juga.


Falcon turun ke lantai bawah dan mendapati jika semua barang-barang Liana telah diantarkan ke rumah besar itu, dengan bantuan anak buah sang kakek yang selalu bergerak di sekitarnya.


“Bawa ke pesawat! Kabari kalau semuanya sudah siap!” seru Falcon.


“Baik, Tuan muda,” sahut pengawal keluarga Harvey.


Pria itu kemudian pergi ke kamar tamu, di mana gadisnya berada saat ini. Dengan perlahan, dia memutar handle pintu dan membukanya sedikit.


Dia mengintip dari balik pintu. Kamar masih terlihat terang, dan Liana tengah meringkuk di atas tempat tidur, sambil memegangi ponselnya.


Falcon pun kemudian memutuskan untuk masuk, dan berjalan ke arah tempat tidur di mana gadisnya berada.


Diam-diam dia duduk di samping Liana, dan membelai lembut puncak kepala gadisnya. Falcon menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu dengan perlahan.


Karena merasa terusik, Liana pun akhirnya terbangun. Dia mengerjapkan matanya sambil mencoba menoleh ke belakang.

__ADS_1


Sebuah senyum menyapanya dan Liana pun balas tersenyum.


“Apa aku tidur terlalu lama?” tanya Liana.


Falcon menggeleng.


“Kau hanya tertidur sebentar. Maaf karena sudah mengganggu mu,” sahut Falcon.


Liana memutar tubuhnya, dan menghadap ke arah prianya. Dia memeluk perut Falcon yang saat itu duduk bersandar di head board, sementara dirinya berbaring di tempat tidur.


“Apa kau tahu, saat aku putus asa, hanya kau yang muncul di benakmu. Saat aku bahkan tak bisa menghubungimu, rasanya sangat sulit untuk bisa menjalani semua ini,” ucap Liana.


Falcon tak menyahut. Dia hanya mengusap-usap puncak kelas gadisnya dengan lembut.


Gadis itu menceritakan bagaimana dia menangis di depan kakeknya untuk pertama kali karena pertemuan dengan ayahnya. Bagaimana dia menunggu ayahnya setiap hari di tempat yang sama seperti orang gila, dan seberapa inginnya dia menemui Falcon untuk meminta bantuannya.


“Aku bahkan tak memiliki nomor telepon Nine maupun Long. Jika saja aku punya, aku ingin meminta bantuan anak buahmu untuk mencari keberadaan ayahku. Itu bukan hal sulit untuk kalian lakukan, bukan? Tapi, aku sadar saat itu aku sendirian. Hanya cara konyol itu yang bisa ku lakukan dengan kemampuanku sendiri,” lanjut Liana.


Falcon mengerti kegundahan kekasihnya.

__ADS_1


“Sekarang, kau tidak sendiri lagi. Aku akan selalu bersamamu, meski kita saling berjauhan. Aku akan tetap menjagamu, meski tak bisa saling bertemu. Bahkan, aku bisa langsung terbang ke tempatmu, saat kau memintaku untuk datang,” ucap Falcon.


Liana mengurai pelukannya, dan mendongak ke arah prianya.


“Apa pembicaraan mu dengan Tuan Harvey berjalan lancar? Apa kesepakatan yang kau berikan padanya?” tanya Liana sedikit khawatir.


“Kau tenanglah. Aku tidak menawarkan apapun. Hanya meminta sebuah syarat atas permintaannya padamu tempo hari,” Ucap Falcon.


Dia membelai pipi gadisnya, dan dengan lembut mengecup kening Liana, menghirup aroma wangi yang menyeruak dari surai hitam legam itu.


Syukurlah. Keputusan yang kuambil tidak sia-sia, batin Falcon.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2