Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Masih takut


__ADS_3

Falcon menggendong Liana ala bridal style, dan membawanya menuju ke kamar tidur yang ada di dalam pesawat jet pribadi milik keluarganya.


Dia berusaha membuka pintu dengan tangan yang membawa Liana, dan menutupnya kembali rapat-rapat dengan menendang agak kuat.


Dia meletakkan istrinya di atas tempat tidur dengan perlahan. Falcon menatap tampilan Liana, dengan pakaian yang hampir terbuka.


Gadis itu merasa malu dilihat dengan acara seperti itu oleh suaminya. Dia pun menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa gugup.


Apa harus sekarang? Apa kami akan melakukannya disini? batin Liana.


Falcon mendekat. Dia mengungkung tubuh Liana di bawahnya. Pria tersebut mencium bibir istrinya, namun entah kenapa terasa begitu lembut. Lebih lembut dari sebelumnya.


Tak lama kemudian, dia melepas pagutannya, dan kembali memandang wajah sang istri. Dia lalu mengecup kening Liana dalam-dalam, dan turun dari atas gadis itu, membuat Liana terkejut.


Falcon berbaring di samping Liana dan memeluk tubuh istrinya. Mendekapnya erat di dadanya. Liana mencoba mendorong Falcon dan ingin melihat wajah sang suami.


Namun, pria itu seolah enggan melonggarkan pelukannya dari gadis itu.


“Diam lah atau aku akan benar-benar melakukannya di sini,” seru Falcon dengan suara yang terdengar begitu berat.


Liana terdiam mendengar perkataan dari sang suami. Debaran jantung pria itu terdengar jelas olehnya. Deru nafas yang berkejaran pun begitu jelas terasa. Liana tahu, bahwa saat ini, Falcon tengah menahan h*sratnya yang menggebu dengan sekuat hati.


“Kenapa kau berhenti?” tanya Liana.

__ADS_1


Gadis itu menyesali pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya itu, karena merasa seolah dia sangat menginginkannya.


“Aku ingin melakukannya saat kau benar-benar sudah siap, di waktu dan tempat yang tepat. Aku tau kalau kau masih takut. Ditambah lagi, setelah ini kita akan mengunjungi rumah kakekku. Aku tak mau kau kesakitan saat harus menghadapi orang tua itu,” ucap Falcon.


“Apa akan sesakit itu?” tanya Liana polos.


“Kata orang, sakitnya hanya di awal. Tapi setelah itu, kau justru akan ketagihan,” sahut Falcon dengan sebuah kekehan kecil.


Liana memukul punggung suaminya karena malu dengan jawaban tersebut.


“Cih! Mesum,” gerutu Liana.


Gadis itu semakin dalam bersembunyi pada dekapan suaminya. Falcon mengecup puncak rambut sang istri dengan penuh kasih sayang.


“Tidurlah. Aku akan bangunkan kau saat sudah mendarat,” serunya.


Selama perjalanan, Falcon terus terjaga. Dia sekuat tenaga menahan h*sratnya agar tak menyakiti wanita yang ia cinta, namun juga ada sesuatu hal yang tengah mengganggu pikirannya.


Setelah empat jam perjalanan, pesawat akhirnya mendarat di Bandar Udara Internasional Platina.


Falcon masih berbaring di samping sang istri, dengan sebelah lengan yang menekuk, menyangga kepalanya.


Dia terus menatap wajah Liana yang masih terlelap dalam buaian si peri mimpi. Satu tangannya mengusap lembut pipi sang istri, dan membuat gadis itu terusik. Matanya mengerjap karena tidurnya terganggu oleh sentuhan sang suami.

__ADS_1


“Ehm... Honey. Apa kita sudah sampai?” tanya Liana.


“Baru saja. Apa tidurmu nyenyak?” tanya Falcon balik.


“Yah, aku merasa sangat nyaman hingga terlalu nyenyak,” jawab Liana.


“Bangun dan bersiaplah. Aku tunggu kau di luar,” seru Falcon.


“Ehm, baiklah,” sahut Liana.


Pria itu kembali mengecup sekilas kening sang istri dan bangun dari tempat tidur. Dia berjalan keluar meninggalkan Liana di dalam kamar.


Gadis itu pun segera beranjak dari ranjang nyaman tersebut, dan bersiap untuk pergi ke Sky Castle, rumah tempat tinggal keluarga Harvey.


.


.


.


.


Besok lanjut lagi ya bestie😁🥰

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2