
“Sepertinya aku harus kembali bekerja. Terimakasih untuk makan siangnya,” ucap Liana.
Falcon terkejut dengan sikap Liana. Namun, gadis itu tak peduli. Dia segera bangkit dan berbalik menuju ke arah jalan raya.
Namun, Falcon segera mengejarnya dan menarik lengan gadis itu hingga Liana terhuyung dan jatuh ke pelukan Falcon.
Pria itu langsung mendekap Liana dengan erat dan tak ingin gadis tersebut pergi menjauh.
Liana tak meronta. Dia diam namun juga tak membalas pelukan dari Falcon. Hatinya berkecamuk. Di satu sisi dia tak ingin bersikap seperti ini, di sisi lain dia merasa takut akan kecewa jika terus menjalin hubungan dan memupuk rasa cintanya pada Falcon, disaat pria itu masih belum yakin tentang masa depan hubungan ini.
Liana si gadis polos yang baru mengenal cinta. Dia paling benci kalah dan terluka. Dia tidak mau terlihat lemah di mata orang lain, sehingga dia lebih memilih pergi sebelum semakin sakit.
Akan tetapi, hatinya masih tak rela jika harus memutuskan hubungan ini dengan prianya.
Falcon terus mendekap erat Liana sambil memohon agar gadis itu jangan pernah meninggalkannya.
__ADS_1
“Aku mohon jangan pergi. Maafkan aku yang tidak bisa tegas ini. Taring dan cakar ku sudah dipotong oleh orang tua itu sehingga aku menjadi tidak percaya diri seperti ini. Maafkan aku, Liana. Maafkan aku. Aku mohon jangan pergi,” ucap Falcon.
Liana merasa iba dengan penuturan Falcon. Dia sadar jika saat ini, sang gensgter tidak sedang menjadi dirinya sendiri. Namun kali ini, sikap keras kepala dan rasionalitas Liana sangat mendominasi.
“Lalu, apa kita akan terus menjalani hubungan yang sudah pasti akan sia-sia? Hei, Tuan Muda. Aku ini seorang pebisnis. Aku tidak akan pernah melakukan sesuatu hal, jika aku tidak yakin akan berhasil. Jadi sebaiknya kau yakinkan aku terlebih dulu,” ucap Liana.
Falcon melepas pelukannya dan merengkuh kuat pundak Liana. Dia menatap lurus ke arah manik hitam gadis itu.
“Aku memilihmu! Aku tidak peduli dia setuju atau tidak. Aku bisa menentangnya seperti yang sebelumnya,” ucap Falcon.
“Jangan mengatakan hal yang kau sendiri tak yakin bisa untuk melakukannya. Aku adalah kelemahanmu yang menjadi alasan keberadaanmu di sini saat ini. Aku adalah kartu mati yang dimiliki kakekmu untuk mengurung mu di istananya. Aku yakin, saat kau memilihku dan menentang kakekmu, aku lagi yang akan jadi kelemahanmu. Jadi sebaiknya, lupakan saja aku agar tidak hanya cakar dan taring, tapi sayap kebebasanmu pun bisa kembali lagi,” ucap Liana.
Falcon tercengang mendengar perkataan Liana. Secara tak langsung, gadis itu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi padanya. Tak dipungkiri, dia memang sudah mengakuinya pada Liana, jika alasannya pulang adalah karena sang kakek mengancam dengan nyawa Liana.
Melihat Falcon terdiam, Liana segera berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut. Falcon tak tahu jika gadis itu tengah berjalan sambil berderai air mata, yang susah payah ia tahan sejak tadi.
__ADS_1
.
.
.
.
Bakal putus nggak yah mereka? Kira-kira apa yang bisa bikin Liana yakin ama babang falcon lagi?
Kalau putus kalian rela nggak? kalau nggak rela, guyur kopi yang banyak biar othor bujukin Liana nya🤭😉
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1