
Seusai makan malam keluarga, Kakek Harvey yang awalnya ingin mempercepat pesta pernikahan, kini memutuskan untuk menunda setidaknya hingga Liana melahirkan.
Prioritas utama kedua pria tua itu adalah cicit yang saat ini berada perut cucu Presdir Wang.
Semua perhatian tercurah pada wanita yang kini tengah berbadan dua tersebut. Liana benar-benar merasakan kasih sayang yang berlimpah dari orang-orang terdekatnya. Tak hanya dari sisi Kakek Joseph, melainkan juga dari pihak keluarga Harvey, tentu saja kecuali kedua putri Amber.
Semenjak mengetahui kehamilan Liana, Tuan Harvey meminta cucu mantunya itu untuk pindah ke kediaman Lunar Group. Akan tetapi, gadis mandiri dan keras kepala tersebut sama sekali tak mau, dan justru memilih untuk tinggal dengan ayahnya di kediaman baru Peter yang sederhana.
Peter tak merasa keberatan sama sekali, karena dia justru sangat senang akhirnya bisa lebih dekat dengan sang putri. Falcon merasa jika tinggal di apartemen selama kehamilan bukanlah ide bagus, karena posisi tempat tinggal mereka yang berada di lantai atas dan menyulitkan gerakan ketika terjadi sebuah kondisi darurat.
Akhirnya, setelah trimeseter pertama berlalu, Liana secara resmi pindah ke kediaman Peter, yang terletak di salah satu hunian yang dikembangkan oleh Lunar Group, yang dibeli atas nama Christopher.
Bulan-bulan berlalu, kini perut Liana telah semakin membuncit. Falcon pun mulai membatasi kegiatan sang istri di perusahaan, dan meminta sang mertua untuk mengambil alih sementara semua urusan kantor.
Namun, Liana tak setuju dengan gagasan tersebut. Dia tetap ingin berangkat ke kantor dan tak peduli dengan larangan Falcon.
“Sweety, kau harus jaga kandungan mu ini baik-baik. Ingat, kata dokter kau dilarang kelelahan atau perutmu akan mengalami kram lagi seperti sebelumnya,” seru Falcon
“Honey, aku hanya akan duduk-duduk saja di ruang kerja ku. Aku hanya perlu memantau jalannya perusahaan. Aku janji,aku tidak akan terlalu memaksakan diri. Tapi biarkan aku tetap keluar untuk bekerja yah. Rasanya benar-benar bosan jika harus selalu berada di rumah,” pinta Liana.
“Sweety, tapi...,” elak Falcon.
Namun, belum selesai ia bicara, Liana telah lebih dulu mengecup bibir pria itu, hingga membuatnya terdiam.
Dengan senyum yang begitu manis, Liana menatap lekat mata hitam Falcon.
“Aku janji akan selalu menjaga diriku,” ucap Liana.
__ADS_1
Falcon pun akhirnya hanya bisa menghela nafas berat, dan mengalah dengan keinginan sang istri yang begitu besar. Dia tak ada pilihan lain selain mengijinkannya, karena meskipun dilarang, Liana pasti akan mencari cara untuk pergi ke perusahaannya saat suaminya sibuk mengurus perusahaan milik Lunar Group.
“Baiklah. Tapi dengan syarat, kau hanya boleh berada di kantor saja dan pulang pergi dengan Mike,” seru Falcon.
“Bagaimana kalau selain Mike?” sahut Liana.
Falcon mengerutkan keningnya, karena tak paham dengan maksud Liana. Wanita itu kemudian menarik sang suami dan berjalan ke arah ruang tengah, di mana Peter saat ini berada.
“Bagaimana kalau aku pulang pergi dengan Ayah saja?” pinta Liana.
Peter yang tak tahu menahu pun hanya bisa menoleh ke arah sang menantu, seolah meminta kejelasan. Falcon pun menjelaskan permasalah yang tadi sempat menjadi perdebatan antara sepasang suami dan istri itu.
Setelah mendengarkannya, Peter pun menyetujui apa yang diinginkan oleh sang putri.
“Ayah akan coba menjaga istri dan anakmu. Serahkan saja pada Ayah, Nak,” ucap Peter.
Namun, pria itu tak terlalu menghiraukannya, dan justru merasa senang karena Liana bisa bersikap lembut pada pria yang selama ini selalu dikasari olehnya.
Akhirnya, diusia kandungannya yang masuk bulan ke tujuh, Liana masih aktif di kegiatan perusahaan, serta mengurus seluruh proyek yang tengah dikerjakan oleh perusahaan desainnya.
Meskipun hanya memeriksa dan memberikan tanggapan mengenai hasil kerja pegawainya, , akan tetapi hal ini cukup menguras energi dan waktu Liana.
Dia pun sampai harus membawa pekerjaannya ke rumah, dan memeriksa MacBook nya sepanjang malam, meski Peter berusaha melarangnya sesuai janjinya pada sang menantu.
Suatu ketika, saat kandungan Liana hampir menginjak usia delapan bulan, keadaan perusahaannya sangatlah sibuk. Banyak permintaan desain yang masuk dan membuat wanita itu semakin banyak beraktivitas.
Meskipun dia sudah berusaha mengatur pola makan dan istirahatnya, akan tetapi karena sangkin sibuknya, Liana sempat mengalami kram yang cukup membuat panik semua orang.
__ADS_1
Siang itu, Liana baru saja menghadiri rapat dengan para desainer di perusahaan, dan memberikan tanggapan serta koreksi pada hasil kerja mereka. Ada sekitar lima belas presentasi yang ditampilkan saat itu hingga memakan waktu sampai berjam-jam.
Saat rapat masih berjalan separuh waktu, tiba-tiba perut Liana terasa sakit. Wanita tersebut sampai meringis menahan rasa menyengat itu. Peluh bahkan mulai terlihat bercucuran membasahi pakaiannya.
Peter yang duduk di samping Liana pun menyadari bahwa ada yang aneh dengan sikap putrinya.
Dia pun menepuk punggung Liana dan menanyakan kondisinya.
“Ada apa, Nak? Apa kau merasa kurang sehat?” tanya Peter khawatir.
Pasalnya, Liana terus memegangi perutnya yang telah semakin membesar.
“Sa... kit... A... yah...,” ucap Liana terbata.
.
.
.
.
Ya ampun, maaf bestie, othor sekarang bolos mulu🙏🤦♀️
lagi coba tamatin novel ini dan siapin novel baru lagi nih. maaf yah 🙏
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘