Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tetap tenang


__ADS_3

Henry menarik rambut Liana ke belakang, hingga gadis itu mengerang lirih disela rasa pening yang masih melandanya


“Halo, Nona Wang. Kita bertemu lagi, dan lagi-lagi itu semua karena pria bermarga Chen,” ucap Henry.


Liana mencoba menguasai diri, meski kepalanya masih sangat sakit, dan tubuhnya pun terasa lemas.


“Jadi, kau adalah Henry? Si anjing setia milik Moses Jung?” sahut Liana sarkas.


Mendengar perkataan Liana, Henry tersenyum masam, dan semakin menarik kuat rambut panjang gadis itu, hingga Liana pun memekik kesakitan.


Peter yang melihat putrinya diperlakukan dengan kasar seperti itu pun mulai panik. Dia kembali meronta dan berharap bisa menolong anak satu-satunya itu.


“Kali ini, jangan harap kau bisa lolos dengan mudah seperti sebelumnya. Karena bagaimana pun, aku punya dua sandera,” ucap Henry.


“Heh, maksudmu, kau mau membuat kekasihku itu kebingungan? Kau pikir dia seb*doh dirimu?” sahut Liana.


Gadis keras kepala itu tak mau tertindas sedikitpun, meski kondisi tubuhnya benar-benar tak memungkinkan untuk melawan.


Peter yang sedari tadi melihat pun merasa khawatir dengan sikap sang putri, yang justru memperkeruh suasana.


Pria paruh baya itu pun sampai terus melotot melihat ke arah Liana dan Henry, dengan meronta maju ke depan.

__ADS_1


“Kau lihat, sepertinya ayahmu tak bisa setenang dirimu. Aku dengar kau sangat licik, tapi kali ini kita lihat seberapa cerdiknya kau untuk bisa keluar dari sini,” ucap Henry.


Pria itu menghempaskan rambut Liana dengan keras, hingga gadis itu terhuyung ke depan. Kepalanya kembali terasa semakin pusing dan berdenyut nyeri.


Namun, Liana berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan sang ayah, terutama di depan musuhnya. Dia tak ingin terlihat lemah di depan siapapun.


Setelah bicara dengan Liana, Henry pun pergi keluar. Liana memilih menundukkan wajah untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.


“Kau tenanglah. Seseorang pasti sedang menuju kemari begitu sadar aku telah menghilang. Jika nanti dia harus memilih antara kau dan aku, kau mengalahlah. Setidaknya jika kau mati, kau bisa bertemu ibuku di akhirat kan,” ucap Liana datar.


Bukannya takut atau marah, Peter justru terkekeh mendengar perkataan kejam dari anaknya itu.


Begitu pun Liana. Meski perkataannya itu sangat kasar, akan tetapi dalam hati ia bersyukur, karena sang ayah ternyata selamat dan tak terluka lagi sedikit pun.


Setelah beberapa saat, Liana mendengar sebuah suara dari arah luar menara. Sebuah cahaya menyorot tepat mengenai wajahnya, membuat Liana pun terusik.


Dia mencoba melihat asal cahaya tersebut. Dengan mata memicing, dia melihat sesuatu di balik jendela.


Liana membuka mulut ingin berteriak kepada si pengganggu itu, akan tetapi dia urung dan  melihat cahaya tersebut padam.


Dari balik jendela, tampak sebuah bayangan orang yang tengah berdiri di luar menara, sedang menatap ke arahnya.

__ADS_1


Liana berusaha melihat orang tersebut, karena pandangan Liana yang kabur akibat cahaya sorotan tadi.


Nampak pria itu memakai kain segitiga yang menutup sebagian wajahnya, dari hidung sampai dagu, sambil memegangi senjata laras panjang di tangannya.


Mirip anak buah Henry yang sedang berjaga di setiap sudut menara. Namun, pria itu nampak membuat sebuah gerakan dengan tangannya, yang menunjukkan sebuah inisial. Seketika, Liana pun tersenyum dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas.


“Apa ku bilang. Aku tidak sendiri lagi sekarang,” gumam Liana.


.


.


.


.


Met siang bestie 🥰


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2