
Malam harinya, Liana memutuskan ke kamar untuk tidur lebih awal, meninggalkan Falcon yang terus saja sibuk dengan gadget nya.
Meski kesal dengan sikap sang suami yang seperti itu, namun Liana tak bisa menyalahkan Falcon sepenuhnya, karena semua sikap acuhnya juga tak lain karena ulahnya sendiri yang telah berkata keterlaluan.
Namun, sikap keras kepalanya membuatnya enggan untuk menyinggung hal tersebut atau meminta maaf terlebih dulu.
Apa dia hanya berpikir untuk memiliki bayi dengan ku? Jika aku tak mau, apa dia tidak akan mencintaiku lagi? Cih! Laki-laki ternyata sama saja, batin Liana.
Dia bahkan mulai berpikir bahwa Falcon telah bersikap egois padanya. Namun, seiring bergulirnya malam, Liana tak juga mampu terlelap meski matanya ia pejamkan sejak tadi.
Pintu terbuka. Falcon masuk ke dalam kamar dan Liana segera berpura-pura untuk tidur.
Gadis itu merasakan usapan lembut di puncak kepalanya, dan kecupan yang begitu hangat di pelipis.
Setelah itu, ranjang terasa bergetar tanda bahwa Falcon telah naik ke atasnya, ditambah selimut yang sedikit tertarik ke belakang.
Setelah beberapa saat, tak terasa lagi gerakan apapun. Liana pun menoleh dan melihat bahwa suaminya tidur dengan posisi yang memunggunginya.
Entah kenapa, hatinya terasa sakit. Bahkan matanya pun mulai panas dan berair. Sikap Falcon terlihat tak acuh, namun begitu lembut saat dia berpura-pura tak menyadarinya, membuat Liana merasa semakin bersalah.
Dia pun berbalik dan menghadap ke arah sang suami. Kedua tangannya menempel di punggung Falcon dengan bahu yang berguncang.
Hal itu sontak membuat Falcon yang juga belum bisa terlelap, merasakan ada yang aneh dengan sang istri.
Dia pun berbalik dan menemukan bahwa istrinya berada tepat di belakangnya.
“Sweety,” panggilnya.
Namun, Liana tak menyahut. Dia serta merta memeluk suaminya, dengan bahu yang semakin berguncang hebat. Falcon pun bingung akan apa yang terjadi dengan sang istri. Dia hanya mampu memeluk Liana dengan lembut, dan mengusap punggungnya perlahan.
“Ada apa? Apa kau sakit?” tanya Falcon penuh perhatian.
__ADS_1
Liana mendongak. Bisa dilihat dengan jelas meski di bawah sinar temaram bahwa gadis itu tengah menangis. Air matanya bahkan telah membasahi kaus tidur suaminya.
Falcon menyentuh pipi Liana, dan mengusap lelehan bening di wajah cantik itu.
“Kenapa kau menangis, Sweety? Katakan padaku ada apa, hem,” seru Falcon.
“Apa... Apa kau begitu marah padaku... Sampai kau mengacuhkanku, setelah aku memarahi anak tadi?” tanya Liana sesenggukan.
Falcon terlihat tersenyum tipis dengan menghela nafas dalam-dalam.
“Bukan begitu, Sweety. Aku tidak marah,” ucap Falcon.
“Bohong! Kalau tidak marah, kenapa sejak saat itu kau terus diam dan tak lagi menyebalkan?” rengek Liana.
Entah kenapa, perkataan Liana begitu menggelitik hati Falcon, hingga membuatnya menguluum bibir untuk menahan senyumnya. Dia pun kembali mendekap sang istri dan menyembunyikan hal tersebut di balik punggung Liana.
“Aku tidak marah. Aku hanya sedang menghormati perkataanmu tadi,” ucap Falcon.
“Apa maksdumu? Kau mendiamkan ku untuk menghormati ku? Alasan mu sangat tidak masuk akal!” keluh Liana.
Liana seketika mematung. Tebakannya tepat. Falcon mendiamkannya karena masalah tersebut. Liana meremas baju belakang Falcon, dan menunggu perkataan sang suami selanjutnya.
“Lalu?” tanya Liana balik.
“Bukankah sudah ku katakan, bahwa kau adalah godaan terbesar untuk ku. Aku tak bisa berhenti menggodamu saat berdua seperti ini. Bagaimana kalau aku benar-benar tak tahan dan menyerangmu? Aku tak tahu cara lain lagi. Yang terpikir olehku hanya mengalihkan perhatian kepada hal lain, agar aku tidak tergoda oleh mu,” jelas Falcon.
“Bukankah ada yang namanya k*ndom?” tanya Liana polos.
Falcon sampai hampir kelepasan tertawa karena perkataan istri kecilnya.
“Ehem... Aku tidak mempersiapkannya, karena ku pikir kau tidak keberatan soal anak,” jawab Falcon.
__ADS_1
“Apa di sini tidak disediakan?” tanya Liana.
“Di sini wilayah kakekku. Kau tahu, Nine mengatakan bahwa siang tadi, kakekku terlihat sangat senang, dan bahkan memberikan semua karyawan di Lunar Grup bonus sebulan gaji mereka. Aku yakin kalau semua itu karena pernikahan kita, jika apa yang kau katakan sebelumnya mengenai kakekku adalah benar."
“jika sudah begitu, pasti yang dia inginkan adalah bayi kecil yang lucu. Meskipun di sini ada benda semacam itu, tapi aku tak yakin kalau itu tidak disabotase atas perintah pak tua itu,” tutur Falcon.
“Apa kalau hanya sekali bisa langsung hamil?” tanya Liana.
Falcon mengurai pelukannya dan menatap wajah sang istri dalam cahaya lampu tidur yang temaram.
“Sebaiknya kita istirahat. Aku tidak marah. Kau bisa tenang kan? Jangan bahas hal ini lagi kalau kau memang belum siap. Aku tak ingin kau melakukannya karena terpaksa,” ucap Falcon.
“Bagaiaman kalau aku bersedia?” tanya Liana lagi.
Falcon menghela nafas panjang, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya agar tak kedinginan.
“Kita bahas ini nan...,” ucap Falcon.
Namun, tiba-tiba Liana mendekat dan mengecup bibir suaminya, dan menyesap bibir bawahnya hingga basah.
“Aku serius. Kau selalu mengerti aku dan mengalah akan apa yang aku mau. Kali ini, biarkan aku memenuhi kewajibanku,” ucap Liana.
.
.
.
.
Mohon perhatian, bab selanjutnya mengandung sesuatu yang diinginkan🤭berdoalah semoga lolos review😅
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘