
Malam hari, tepat pukul tujuh malam, Liana dan Kakek Joseph telah sampai di gedung Emerald Hotel. Mereka memesan sebuah ruangan presiden suit untuk dijadikan sebagai ruang tunggu.
Liana telah selesai didandani sejak di kediaman Dream Hill. Saat ini, gadis itu tengah duduk sambil menunggu waktu acara dimulai.
Sesuai rencana, acara tersebut akan dibuka pada pukul delapan malam. Masih tersisa sekitar satu jam kurang. Kakek Joseph nampak menemani sang cucu, yang malam ini terlihat begitu anggun dan mempesona.
Dengan balutan gaun merah berbahan satin yang halus dan berkesan glamor. Bagian atas mengekspose bahu mulusnya dan berlengan sesiku, dengan aksen ban pinggang yang membuat kesan ramping serta bagian bawah yang jatuh dan lebar, membuat langkah Liana lebih leluasa, sesuai dengan karakternya yang tak terlalu suka dengan pakaian yang membuatnya kesulitan berjalan.
Gaun yang menjadi pilihan Liana di antara banyaknya gaun yang ditawarkan oleh perancang busana, yang khusus didatangkan oleh sang kakek.
Make up nya malam ini sedikit tegas, dengan rambut hitamnya yang dibuat keriting menggantung. Anting panjang serta kalung berlian dipilihnya untuk penunjang penampilan dan mengisi kekosongan di bagian leher.
“Kau benar-benar terlihat begitu indah, Nak. Kakek yakin semua mata tertuju padamu,” ucap sang kakek.
“Apa kakek tahu, saat ini yang kurasakan adalah malu. Aku tidak pernah berpakaian seperti ini, Kek. Bahkan di pesta yang sering ku datangi pun aku tak pernah berdandan semewah ini. Ini terlalu berlebihan untukku,” sahut Liana
“Untuk malam ini. Kakek mohon, biarkan Kakek memberitahukan kepada dunia bahwa Kakek memiliki cucu secantik dirimu. Jangan tutupi semua itu dengan kesederhanaanmu, Nak. Biarkan semua orang melihat bagaimana anggun dan mempesonanya cucu Kakek,” bujuk Kakek Joseph.
Liana pun mendekat dan memeluk kakeknya. Dia mengusap punggung tua itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Baiklah. Aku akan jadi Cinderella nya Kakek untuk malam ini,” ucap Liana.
“Terimakasih, Nak,” sahut Kakek Joseph.
Cukup lama kedua orang itu menunggu, hingga akhirnya, Jimmy datang dan mengatakan jika acara akan segera dimulai.
Untuk sesaat, Liana merasa tegang karena harus tampil di depan umum dengan identitas barunya. Namun, sang kakek terus menggenggam tangan gadis itu hingga membuatnya merasa sedikit tenang.
Liana merangkul lengan kakeknya, dan bersiap untuk keluar dari ruang tunggu.
“Sudah siap?” tanya Kakek Joseph.
“Aku siap, Kek,” sahut Liana.
Jimmy pun meminta beberapa orang untuk membuka jalan dan mengawal kedua orang penting di perusahaan Wang tersebut. Dia memimpin jalan di depan, dan membawa keduanya menuju ke tempat acara.
__ADS_1
Sebuah hall yang begitu besar, disiapkan untuk acara penting ini. Begitu banyak kru wartawan dari berbagai media telah hadir, untuk meliput acara besar yang akan menentukan jalannya perusahaan besar itu di masa depan.
Bisa dipastikan setiap karyawan yang sedang berada di rumah, tengah menyaksikan acara tersebut yang disiarkan langsung di televisi.
Tamu undangan dari kalangan pejabat dan kolega bisnis serta klien, hampir seluruhnya hadir di tempat yang sudah disediakan.
Sebelum Liana dan Kakek Joseph masuk, Jimmy meminta agar Liana dan sang atasan untuk masuk secara terpisah.
“Maaf, Tuan. Nona Liana sebaiknya masuk dan duduk di kursi tamu untuk sementara, sedangkan Anda ikut dengan saya naik langsung ke atas panggung acara,” ucap Jimmy.
Liana pun melepas rangkulannya di lengan sang kakek.
“Kakek masuklah lebih dulu,” ucap Liana.
“Kita masuk bersama saja seperti biasa. Kau tunggu aku memanggilmu naik ke atas. Tidak apa kan?” tanya Kakek Joseph.
“Baiklah, Kek,” sahut Liana.
Kakek Joseph pun memberi instruksi pada sang asisten untuk membuka pintunya
Pintu pun terbuka, dan seketika mengundang perhatian semua yang hadir di sana. Lampu blitz dari kamera para pencari warta menyapa kedua orang yang tengah berjalan masuk itu.
Sesampainya di depan, Liana kembali melepaskan lengan sang kakek.
“Tunggulah di sini,” ucap Kakek Joseph.
Liana hanya mengulas senyum sembari menganggukkan kepala.
Jimmy menuntun atasannya menuju ke atas panggung. Di sana telah ada sebuah meja panjang, dengan dua buah kursi. Kakek Joseph duduk di salah satunya, sambil menunggu pembawa acara memintanya untuk naik ke podium.
Saat ini, penanggung jawab acara tengah memberikan sambutan kepada seluruh hadirin.
Setelah beberapa saat, kini tibalah saat di mana pembawa acara meminta Kakek Joseph untuk naik ke atas podium.
Tepuk tangan terdengar riuh di seluruh ruangan yang megah tersebut. Pria tua yang masih memancarkan karismanya, nampak berjalan menuju ke tempat yang telah disebutkan.
“Selamat malam, para hadirin sekalian. Seperti yang Anda semua ketahui, bahwa pada malam hari ini, saya akan memberikan satu pengumuman penting,” ucap Kakek Joseph.
__ADS_1
Pria tua itu terlebih dulu menceritakan perihal sang putri pada awak media. Meski awalnya ragu, namun pria tua itu merasa jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang memalukan.
Susah payah dia mencari Liana dan kini telah menemukannya, jadi pria tua itu pun memutuskan untuk mengungkap semuanya ke depan publik, agar kelak tidak menjadi batu kerikil di hidup sang cucu.
“Bertahun-tahun saya mencarinya, ternyata dia justru ada di sisi saya selama ini. Mungkin Tuhan sedang menghukum saya atas apa yang telah saya lakukan di masa lalu. Dia tumbuh menjadi gadis cantik dan juga cerdas. Arsitek muda yang selalu bisa menjadi andalan kami. Inilah cucuku, Liana Wang. Kemarilah, Nak,” seru sang kakek.
Semua orang menoleh ke kanan dan kiri. Mereka tak tau jika yang dimaksud adalah Liana, gadis yang selama ini lebih dikenal dengan nama Lilian Wu. Nama yang dulu diberikan oleh kakek di awal karirnya.
Setelah namanya disebut, Liana pun bangkit berdiri. Gadis itu berjalan menuju ke atas panggung. Di sana, telah ada Jimmy yang menunggu di tepi panggung untuk membantunya naik.
“Selamat, Nona,” ucap Jimmy.
Liana hanya tersenyum. Dia kemudian menghampiri sang kakek, yang sudah turun dari podium sambil membawa sebuah microphone di tangannya.
“Inilah cucu ku, Liana Wang, atau yang lebih kalian kenal dengan Lilian Wu,” ucap Kakek Joseph.
Liana membungkuk memberi hormat kepada semua orang dari atas panggung. Tepukan riuh memenuhi seisi ruangan, kala Kakek Joseph memperkenalkan dirinya di depan semua orang.
Mata tajam Liana menatap ke seluruh penjuru ruangan, dan bisa melihat semuanya dari atas sana. Seluruh orang nampak tak terkejut dengan penuturan sang presdir. Namun, semuanya nampak berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah pada sosoknya, yang kini telah resmi menyandang identitas yang sebenarnya
Saat Liana memperhatikan seluruh hadirin yang datang, tiba-tiba netranya menangkap sosok yang belakangan selalu mengusik ketenangan hatinya, nampak turut hadir di pesta tersebut, dan berdiri di salah satu sudut ruangan.
Pandangan mereka bertemu, namun hanya hening yang tercipta di antara keduanya.
.
.
.
.
.
Sudah 3 bab, akhirnya hutang ku lunas🤭😅
ini hari sabtu ku belain gantiin yang kemarin lho, kalian nggak mau kasih othor kopi gitu😁
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘