Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Cepatlah sembuh dan bayar hutangmu


__ADS_3

“Ah... Aku lupa. Aku tidak mau berjabat tangan dengan pria tua materialistis seperti Anda. Benar-benar menjijikan,” sindir Liana.


“Kau... Kurang ajar!” ucap Jerome geram.


Dia maju dan mengangkat tangan hendak memukul Liana. Namun, belum sempat tangan itu mendarat di pipi gadis cantik tersebut, Falcon lebih dulu maju dan menangkap tangan sang pria tua.


“Jangan harap Anda bisa menyakitinya, selagi masih ada saya di sini!” ucap Falcon.


Jerome kesal dan menarik dengan keras tangannya dari genggaman Falcon. Giginya terdengar bergemeletuk, dan rahangnya mengeras saat menghadapi kedua anak muda yang berani bersikap kurang ajar padanya.


Liana kemudian maju selangkah di depan Falcon, dan kembali berbicara pada Jerome Chen.


“Tuan Jerome Chen yang terhormat. Jika Anda masih mau berurusan dengan Amber Callister, maka bersiaplah Anda juga akan ikut hancur bersamanya. Karena apa yang dia janjikan pada Anda semuanya tidak ada.”


“Anda lihat pria ini? Dia adalah penerus keluarga Harvey. Saham Lunar Gass sebagian besar telah menjadi miliknya, begitu pun yang sempat dimiliki oleh wanita itu.”


“Jadi aku sarankan, sebaiknya Anda duduk manis di atas kursi goyang, menikmati masa tua Anda dengan tenang. Jika tidak, aku pastikan Anda akan mati karena serangan jantung,” ucap Liana.


Jerome nampak mengepalkan tangannya karena telah diancam oleh seorang gadis kecil, yang tak lain adalah cucunya sendiri, putri dari anak bungsunya, Peter chen.


Liana kemudian berbalik dan berjalan ke arah Peter. Dia duduk di bibir ranjang dengan lengan yang melingkar di punggung sang ayah.


“Sebaiknya Anda keluar dari sini, karena pasien harus kembali beristirahat,” pungkas Liana.


Jerome yang sudah tak punya muka lagi, dan benar-benar tak tahu harus bertindak seperti apa pada Liana, akhirnya pergi dengan wajah kesal yang tertahan. Dia bahkan membanting daun pintu dengan kerasa, hingga bunyinya menggema di seluruh lorong lantai tersebut.


Setelah Jerome pergi, Liana kembali berdiri dan menjauh dari Peter. Dia pun berjalan ke arah sofa di mana sempat menjadi tempat duduk Jerome sebelumnya.

__ADS_1


“Terimakasih karena kau sudah membantuku menghadapi dia. Tapi kurasa, kau terlalu kurang ajar padanya. Bagaimanapun juga, dia adalah ayahku, kakek kandungmu, Nak,” ucap Peter.


“Apa orang seperti itu pantas menjadi kakekku?” tanya Liana sinis.


Gadis itu duduk dengan bertopang kaki, dan kedua lengan yang terlipat di depan dada. Falcon memilih untuk tetap berdiri di dekat pintu, dan tak bermaksud mencampuri urusan sang kekasih dengan ayahnya.


“Aku ingatkan padamu. Meskipun aku mengakuimu sebagai ayahku, tapi di dunia ini, aku hanya punya satu kakek, yaitu Joseph Wang. Selamanya hanya ada satu orang,” lanjut Liana.


Peter melihat kebencian di mata sang putri saat membicarakan perihal pria yang baru saja pergi dari sana. Dia tak bisa menyalahkan Liana, karena bagaimanapun juga Jerome sudah bersikap sangat keterlaluan.


Dia hanya bisa diam dan membiarkan putrinya bersikap semaunya. Dia berharap jika suatu saat nanti, sikap Liana padanya akan lebih baik dari sekarang.


Melihat wajah ayahnya yang terlihat muram, Liana pun menghela nafas berat, dan hal itu membuat Peter segera berucap.


“Luka ku sudah hampir sembuh. Jalanku pun sudah tak menggunakan tongkat lagi. Saat aku sembuh nanti, aku akan...,” ucap Peter.


Peter terkejut mendengar perkataan dari anak gadisnya. Dia tak kuasa menahan panas di matanya yang membuat genangan mengumpul di sana. Dia pun tertunduk.


Melihat hal itu, sebuah senyum tipis muncul di bibir Falcon. Dia tahu jika sikap keras kekasihnya, hanyalah sebagai bentuk pertahanan diri. Karena sesungguhnya, Liana adalah gadis baik yang penuh akan kasih sayang dan perhatian.


Liana kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu di mana sang kekasih berada.


“Aku akan pergi. Cepat sembuh, dan segera lah bekerja,” ucapnya.


Peter terlihat mengangguk dengan cepat, meski wajahnya tetap tertunduk. Dia menyembunyikan  air matanya yang sudah jatuh mengalir menganak sungai di wajah yang sudah mulai berkeriput itu.


“Baiklah. Terimakasih.... Terimakasih...,” ucap Peter lirih.

__ADS_1


Liana hanya melirik sekilas, dan dia pun keluar dari ruangan tersebut. Sementara di dalam, Peter memegangi dadanya yang terasa sesak.


Dia tak menyangka jika akhirnya, sang putri mau menerimanya dan membiarkannya untuk tetap berada di sisinya.


Rasa haru memenuhi relung hatinya. Tangisnya pun pecah dan menggema di seluruh ruangan tersebut.


Di luar ruangan, Liana pun tampak menyeka sudut matanya. Falcon yang melihat itu pun kemudian merangkul pundak gadisnya. Liana berhenti melangkah.


Dia berbalik dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih. Dia menyembunyikan wajahnya di sana.


Falcon pun memeluk Liana, dan mengusap lembut punggung gadis itu sambil sesekali mengecup puncak rambutnya. Dia tahu apa yang saat ini tengah dirasakan oleh Liana.


“Good Girl. Kerja bagus, Sweety. Kau luar biasa,” ucap Falcon.


Bahu Liana berguncang. Gadis itu menangis di dalam pelukan sang pria.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2