Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Akhir pertempuran


__ADS_3

Perkelahian singkat terjadi di ruang kendali crane, dan dengan mudah Mike bisa mengalahkan si anak buah dari Henry.


Liana berusaha mencari perhatian dari Mike agar bisa berkomunikasi dengannya. Dia terus menggerakkan kakinya sebagai ganti tangan untuk melambai-lambai. Dia tak mau berteriak, karena pasti akan mengganggu rencana Falcon nantinya.


Nampak Mike hendak naik ke atas crane, namun beruntung dia bisa melihat Liana yang sedari tadi berusaha berkomunikasi dengannya. Saat kedua mata mereka bertemu, Liana menggelengkan, kepala pertanda agar Mike jangan naik ke atas menjemputnya. Dia pun menuntun Mike agar melihat genggaman  tangannya dan menunjukkan pisau lipat kecil yang sedari tadi dibawa oleh gadis itu.


Kemudian, Liana menunjuk ke arah mesin crane lain yang berada tak jauh dari posisinya dengan sebelah kaki, dan mengarahkan kakinya kembali ke arahnya.


Mike pun mengerti maksud dari gadis itu. Dia kemudian kembali masuk ke ruang kendali crane, dan mengarahkan Liana mendekat ke arah tali crane yang satunya. Dengan gerakan cepat, Liana segera memotong tali yang menjerat kedua tangannya.


Saat tali hampir terpotong, Liana mencoba meraih tali rantai crane di atasnya sebagai pegangan. Setelah berhasil, gadis itu pun menghentakkan kedua tangannya agar terpisah, dan membuat tali itu terputus.


Liana cepat-cepat mengurai ikatannya dan meraih tali crane lain yang berada tepat di depan.


“Wah ... Benar-benar mengerikan. Kakiku sampai gemetar begini,” gumam Liana.


Dia mencoba beberapa kali meraih talinya, hingga kemudian, dia bisa mendapatkannya. Setelah itu, Liana menjejakkan kakinya ke pengait yang ada di bawah tali tersebut dan secara otomatis dia sudah berpindah tempat.


Semua kejadian itu membuat si gadis cantik tak sadar, jika di bawah sana telah hadir seorang lagi pemuda yang datang demi menolongnya, yang kini telah menyerahkan diri pada komplotan Alice dan Henry.


Ketika Liana telah selesai melepaskan dirinya, Christopher dan Falcon tengah berhadapan  sebelum akhirnya sang wartawan pergi dengan Alice.


Saat itu, Falcon telah melihat jika crane yang sebelumnya telah kosong. Itu berarti, Mike telah berhasil menolong Liana. Baru saja dia bisa bernafas lega, tiba-tiba dentuman keras terdengar dari besi pengait yang jatuh dengan keras ke tanah.


Falcon geram dibuatnya. Kalau Mike telat sedikit saja, pasti saat ini Liana sudah dalam kondisi kritis. Pria itu pun memerintahkan anak buahnya untuk menyerang musuh.


Liana yang masih berada di atas, bisa menyaksikan perkelahian antar geng itu dengan seksama. Seriangi muncul di wajah cantik gadis tersebut hingga terlihat mengerikan.


“Kalian mencoba berbuat macam-macam padaku gara-gara si Tuan Muda ke lima? Sekarang, rasakan akibatnya sudah bermain-main dengan sang penguasa Grey Town,” gumam Liana.


Sebelah sudut bibirnya terangkat, dan mata yang terus mengawasi jalannya pertarungan dengan rasa puas.


Di bawah sana, semua saling menyerang. Namun, ada hal aneh yang terjadi. Di kubu musuh, mereka justru saling serang antar anggotanya, hingga membuat semua kelompok Henry tewas. Sedangkan tak satupun anak buah Falcon yang terluka parah.

__ADS_1


Rupanya, sang ketua gangster memerintahkan sebagian anak buahnya, utuk diam-diam masuk dari arah lain, dan membaur bersama dengan pasukan musuh. Satu kebodohan yang selalu dilakukan oleh kelompok penjahat seperti mereka, yaitu pakaian yang serba hitam, sehingga menyulitkan untuk mengenali teman atau lawan sendiri.


Hal itu dimanfaatkan oleh Falcon, untuk menyusupkan anak buahnya ke dalam kelompok Henry. Sehingga, ketika perkelahian ini dimulai, dia bisa memukul lawan dari luar dan dalam hingga kekalahan telak pun tak bisa dihindari oleh musuh.


Namun sayangnya, setelah semua selesai, Falcon tak bisa menemukan keberadaan Henry. Meski dia sudah mencarinya ke seluruh area pembangunan, namun tak ada pergerakan sedikitpun yang menunjukkan keberadaan musuhnya itu.


Dia pun kembali berkumpul dengan teman-temannya di tempat semula. Semua mayat-mayat dari pihak Henry tertumpuk di satu titik dengan darah yang bercecer di mana-mana.


“Apa kau menemukannya, Bos?” tanya Nine.


“Tidak perlu memikirkan hal itu. Henry hanya seorang diri. Semua anak buahnya sudah kita kalahkan. Dia tak akan bisa melakukan apa pun pada kita saat ini,” ucap Falcon.


Dia berbalik dan menoleh ke arah jatuhnya besi pengait crane. Nine pun turut melihat ke arah yang ditunjukkan oleh pandangan mata sang ketua geng.


“Nona Wu tidak ikut jatuh ke bawah, Bos. Sepertinya, dia berhasil melepaskan diri tepat waktu,” ucap Nine.


Saat melihat semuanya telah selesai, Liana memberikan kode kepada Mike untuk menurunkan tali tempatnya bergelantungan.


Saat Nine dan Falcon masih berbicara mengenai kondisi Liana, tiba-tiba terdengar kembali suara mesin crane bergerak. Mereka semua pun melihat ke atas. Tak lama kemudian, sebuah rantai turun membawa seseorang, yang berdiri dengan sebelah kaki bertumpu pada besi pengait dan kedua tangannya berpegang pada rantai.


Dengan senyum lebar, yang memamerkan deretan gigi putihnya, Liana menyapa semua orang di sana, termasuk Falcon.


Namun, sang ketua gangster nampak terlihat tak acuh saat mendapati kondisi Liana yang baik-baik saja. Tatapannya begitu dingin dan datar saat melihat gadis itu telah berada di hadapannya dengan selamat.


“Nine, kita pulang!” seru Falcon datar.


Pria itu berbalik dan berjalan mendahului semuanya ke arah mobil. Hal itu sontak membuat Liana menurunkan garis lengkung di bibirnya karena kesal.


“Hei, Falcon! Tunggu aku! Bukankah kau kemari untuk menolongku?” pekik Liana.


Semua anggota geng Jupiter pun satu persatu mengikuti bosnya menuju ke mobil masing-masing, begitu pun Nine dan Mike yang telah menolongnya.


Liana yang melihat hal itu pun segera turun dari besi pengait yang menjadi tumpuannya, dan berlari menyusul sang ketua gangster.

__ADS_1


“Hei, tunggu aku! Aku ikut! Beri aku tumpangan pulang! Hei!” teriak Liana.


Akhirnya, gadis itu pun berhasil masuk dan duduk di kursi belakang dimana Falcon berada.


“Kenapa kau kelihatan kesal? Apa kau tidak senang kalau aku selamat? Hei, Tuan! Aku sedang bicara padamu!” cecar Liana.


Namun, Falcon sama sekali tak menghiraukannya. Dia justru memejamkan matanya dan menulikan pendengarannya agar tak lagi diganggu oleh Liana.


Semua orang pun pergi meninggalkan tempat tersebut, menyisakan tim penghilang jejak untuk mengurus semua mayat-mayat di sana.


Dari balik semak belukar yang ada di sekitar area proyek, terlihat seseorang yang tengah bersembunyi di dalam kegelapan, dan melihat semua yang terjadi setelah pertempuran.


Terlihat jejeran gigi putih menyeringai di antara pekatnya malam yang menyelimuti tempat tersebut.


“Kartu matimu sudah ku pegang, Alex. Tunggulah saat aku kembali,” gumamnya.


Sebuah tawa terdengar begitu mengerikan dari orang tersebut, mengiringi kepergian rombongan geng Jupiter dari tempat penyakapan.


.


.


.


.


Sudah 3 bab ya😁oh ya, besok kan long weekend dari jumat sampe minggu, othor pamit mau up sehari sekali aja ya sesuai pemberitahuan di awal novel🙏


Kalian berdoa aja siapa tahu othor nya hilaf up 3 kali🤭tapi kyaknya nggak bakal😅


sambil nunggu jadwal update minum obat lg hri senin, mampir ke novel ku yang lain yah😁kali aja minat gitu 😁🤭


__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2