Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kastil Vampir


__ADS_3

Temaramnya cahaya lilin menemani waktu makan malam kedua insan yang kini tengah berada di sebuah pulau terpencil.


Pelayan menghidangkan beberapa menu terbaik yang bisa mereka sajikan kepada keduanya.


Namun, satu yang menjadi tanda tanya dibenak Liana.


Sebenarnya siapa pria ini? Aku rasa semua pelayan di sini memperlakukannya seperti seorang bangsawan, dan bukan sebagai ketua gangster, batin Liana.


Bukan tanpa alasan gadis itu berpikir demikian. Saat sebelum mulai makan, soerang kepala pelayan pria yang berumur sekitar setengah abad, terlihat begitu gembira bisa melayani makan malam ini.


“Kami sangat senang karena Tuan Muda bisa kembali berkunjung ke mari. Kami sudah menyiapkan makan malam dengan menu spesial, khusus untuk menyambut kedatangan Tuan muda dan nona ke pulau ini,” ucap pelayan tua itu


“Terimakasih, Hans. Tolong layani tamuku dengan baik,” seru Falcon.


“Dengan senang hati,” sahut pelayan bernama Hans itu.


Mereka kemudian menyajikan berbagai makanan laut yang banyak ditemukan di daerah tersebut.


Ada satu menu yang khusus disiapkan untuk Falcon. Sebuah daging ikan salmon panggang yang dicelupkan ke dalam saus honey garlic, dan ditaburi daun parslei serta lemon.


“Ini adalah makanan favorit Tuan muda sejak dulu. Honey garlic salmon yang tidak pedas, dan untuk nona, kami belum tau apa Anda suka pedas atau tidak, jadi kami berikan yang sama,” ucap Hans.


“Aku buka  pemilih makanan. Kau tenang saja, Hans,” jawab Liana.


“Ah, syukurlah. Kalau begitu, silakan nikmati makan malamnya,” ucap Hans.


Pelayan senior itu pun pergi setelah semua hidangan tersaji di meja makan.


Liana mulai menyantap salmon panggang yang dibilang merupakan makan favorit dari Falcon. Rasanya begitulah lezat. Liana bahkan begitu cepat menghabiskannya.


“Wah, tempat ini rupanya punya koki yang hebat. Masaknya benar-benar luar biasa,” ucap Liana mengagumi rasa yang tertinggal di lidahnya.

__ADS_1


“Kalau kau suka, makan lah semuanya. Dengan selera makanmu yang tinggi itu, pasti bisa menghabiskan semua ini sendirian bukan,” ejek Falcon.


“He, tuan muda. Kau juga setidaknya harus mencicipi masakan-masakan ini. Paling tidak, hargailah jerih payah mereka yang ingin membuatmu senang. Apa kau tak melihat jika mereka semua sangat gembira karena kau datang kemari? Aku tebak, kau sangat jarang datang ke tempat ini, sampai sambutannya se istimewa ini,” cerocos Liana.


Falcon masih diam dan menikmati sedikit demi sedikit makanan yang ada di atas piringnya.


Hal itu membuat Liana bertanya-tanya ada apa dengan pria di depannya itu.


Aku tak pernah melihat pria ini begitu pendiam. Ini sangat berbeda dengan dia yang biasanya, yang selalu saja berdebat denganku bahkan untuk hal-hal yang tak penting sekalipun, batin Liana.


Gadis itu kemudian mengambil sebuah piring kosong, yang sengaja di siapkan di atas sebuah troli yang berada di samping meja makan. Liana mengambilkan satu-satu dari setiap hidangan yang ada di meja makan, dan meletakkannya di depan Falcon.


“Cicipilah. Setidaknya, buatlah mereka senang dengan menghargai usaha mereka. Jika diibaratkan rumah, bukankah mereka adalah keluarga mu yang sangat bahagia menyambut kepulanganmu?” ucap Liana.


Gadis itu kembali duduk di kursinya, dan mengambil sedikit demi sedikit makanan yang tersaji. Satu demi satu ia cicipi dan rasanya luar biasa.


“Aku yakin mereka pasti sangat menyayangimu. Buktinya, mereka selalu memberikan yang terbaik untukmu, terlepas dari tugas mereka sebagai pelayan di tempat ini. Setidaknya, itu yang kurasakan selama ini ketika di mansion keluarga Wang. Semua pelayan dan pekerja di sana adalah keluargaku. Merekalah yang dengan senang hati menyambut ku pulang. Aku tak peduli meski kakek tak menganggapku keluarga atau tidak menyambut kedatanganku di sana. Asalkan mereka tetap ada, aku pun akan selalu merasa pulang ke rumah ku sendiri,” lanjut Liana.


Falcon diam sejenak dan mencerna perkataan Liana tadi. Namun, dia kembali sibuk dengan makanannya, dan tak menghiraukan ocehan gadis itu.


Liana nampak bersandar di kursinya, sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.


“Wah... Semuanya luar biasa. Rasanya ingin lagi dan lagi. Hanya saja, perutku tidak sekaret Lufy di Anime One Piece,” ucap Liana.


“Aku rasa kau bohong. Apa perlu ku panggilkan pelayan untuk membawakan satu piring pasta seafood kesukaanmu kemari?” tantang Falcon.


Dia teringat dengan pasta yang di masaknya ketika pertama kali menginap di apartemen Liana. Gadis itu makan dengan lahap bahkan tak menyisakan apapun di atas piringnya.


“Tidak, terimakasih. Aku paling tidak tega melihat makanan yang tidak habis. Hentikan, perutku sudah sangat penuh sesak. Bila di paksa lagi, bisa-bisa aku meledak nanti,” sahut Liana.


“Ya sudah terserah kau saja. Aku akan pergi ke luar sebentar. Jika sudah bisa bergerak, sebaiknya kau segera masuk ke kamar dan beristirahat. Jika bosan, kau bisa menonton TV. Di tempat ini hampir sama dengan mansion kakek mu. Ponsel dan internet dilarang digunakan,” tutur Falcon.

__ADS_1


“Baiklah. Baiklah. Aku akan ke kamar setelah makanan di perutku sudah turun separuh,” sahut Liana.


Falcon pun berdiri dan berjalan ke arah depan. Terdengar pintu dibuka dan tak berselang lama ditutup kembali, kemudian  suara mesin mobil pun terdengar. Nampaknya, Falcon akan pergi ke suatu tempat di pulau ini yang berjarak cukup jauh dari mansion.


Di meja makan, Liana masih duduk bersandar sambil menunggu perutnya sedikit terasa nyaman. Pandangannya berkeliling menyapu seisi ruangan tempat dirinya berada saat itu.


Liana baru sadar, jika semua yang ada di sekitarnya adalah interior bergaya Eropa klasik. Bahkan model pintunya pun melengkung seperti di kastil-kastil kuno Eropa.


Hanya saja, dibagian kolam renang dan tempat bersantai, diberikan sentuhan modern di sana. Namun tetap saja, begitu masuk ke dalam mansion, suasana klasik kembali terasa begitu kental.


“Aku rasa, tempat ini lebih tua dari pada usia si Falcon itu. Dari mana dia bisa menemukan tempat seperti ini? Dan lagi, kenapa sikapnya begitu berbeda ketika berada di sini dengan saat di Grey Town?” Liana berdialog pada dirinya sendiri.


Setelah merasa sudah sudah bisa bergerak, Liana pun berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Sesampainya di kamar, gadis itu memilih berjalan ke arah balkon dan menikmati udara malam di tempat terpencil itu.


Pemandangan asing yang gelap di luar sana, membuat bulu kuduk Liana berdiri seketika.


“Kalau dilihat-lihat, tempat ini begitu menyeramkan di malam hari, tapi begitu indah di sing hari. Bahkan bangunan ini pun lebih mirip istana vampir. Kenapa dia itu sangat suka dengan tempat seperti ini. Grey Town pun juga lebih mirip kota vampir bukan,” gumam Liana.


Angin laut berhembus kencang membuat Liana mengigil kedinginan dan membuat suasana di sekitar semakin mencekam. Gadis itu pun beranjak dari tempatnya dan menutup rapat pintu balkon, agar angin tak bisa membukanya.


.


.


.


.


Sudah 2 bab, tinggal satu bab lagi jangan tungguin🤭kalo nggak sore ya malem habis teraweh gitu ya😅sore jadwal emak masak buat buka puasa, habis buka kekenyangan males mikir🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini ya bestie😊🙏 yang belum kasih votenya, yuk ditunggu, sekalian kopi ma kembangnya juga 😁


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2