
“Apa itu penting?” tanya Falcon.
“Kau pasti akan terkejut mendengarnya,” sahut Chip.
“Dari mana?” tanya Falcon.
“Si Nyonya tua Mo. Bukankah kita sering memintanya untuk mencari informasi di sekitar kita selama ini. Rupanya kita justru melupakan dia yang sejak dulu sudah sangat dekat dengan geng kita, Bos. Tadi aku hanya sedang suntuk dan berjalan-jalan ingin membeli camilan malam. Aku tak sengaja bertemu dia di salah satu kedai pinggir jalan. Aku ingat kalau dia serba tahu dan kemudian iseng bertanya. Mengejutkan, dia tau hampir semua tentang Ketua jung,” ucap Chip.
Benar. Nyonya tua Mo si tukang gosip itu pasti tahu banyak hal tentang kota Grey Town, batin Falcon.
“Chip, minta Long untuk menyiapkan jamuan untuk Nyonya tua Mo besok malam. Aku akan datang menemuinya di sana,” seru Falcon.
“Oke, Bos,” sahut Chip.
Sambungan pun terputus, Falcon menyandarkan punggungnya di sofa, dan memijat keningnya yang terasa sedikit pening.
Tak berselang lama, dia kembali menegakkan duduknya dan membungkuk. Tangannya terulur ke bawah, seakan sedang meraih sesuatu yang tersembunyi di kolong meja.
Sebuah amplop coklat besar rupanya berada di sana. Falcon mengambil sesuatu dari dalamnya dan menaruhnya di atas meja.
__ADS_1
“Jika aku tak melihat benda ini, aku pasti sudah mengacaukan rencana mu di pesta itu, Sweety. Apalagi melihat kelakuanmu yang terus menempel pada si tuan muda itu,” gumam Falcon.
Rupanya, dia tak sengaja menemukan informasi yang di dapat dari Christopher mengenai Amber dan juga Moses, saat dia sampai di apartemen gadisnya lebih dulu.
Dia melihat keanehan antara wanita itu dan putri Moses yang terlihat begitu mirip. Siapa pun pasti akan berpikir jika mereka berdua memiliki kaitan satu sama lain, mengingat wajah keduanya hampir sama persis.
Setelah itu, Falcon memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut dan meminta Chip untuk mencari tahu semua informasi tentang kedua orang itu. Sedangkan dia untuk sementara memilih menghindar dari Liana, agar gadis itu tetap pada rencananya dan tak memberitahukan apapun pada Falcon.
Karena jika mereka bertemu sebelum pesta, terlebih karena saat itu Liana mengira Falcon sedang merengek, kemungkinan gadis itu pun akan membongkar rencananya sendiri. Falcon tak ingin Liana merasa rencananya kurang berhasil hanya karena hal tersebut.
Dia sudah berjanji akan mendukung semua rencananya. Bahkan, mendekati Lusy pun adalah salah satu bentuk dukungan bagi Liana atas rencana yang entah seperti apa.
Keesokan harinya, si tukang mabuk akhirnya bangun dari tidur. Dia masih menggeliat-geliat di atas tempat tidurnya hingga semua nampak begitu berantakan.
Sinar mentari sudah sangat terik di luar, dan semakin membuat otaknya terpancing untuk segera bangun.
Liana perlahan membuka matanya, namun silau membuatnya kesulitan membukanya lebar-lebar.
“Kenapa tirainya tak di tutup sih? Menyebalkan sekali?” gumam Liana.
__ADS_1
Dia kesal karena tirainya terbuka begitu lebar, dan membuatnya kesulitan melihat.
Liana kemudian mencoba bangun, meski pusing masih tersisa di kepalanya. Dia mengusap wajahnya beberapa kali, dan mengucek kedua matanya. Kedua lengannya pun ia regangkan ke atas, sambil melemaskan otot-otot lehernya.
Setelah pupil matanya sudah terbiasa dengan cahaya di sekitar, dia pun mulai bisa melihat dengan jelas dimana dia saat ini berada.
“Kamarku? Siapa yang membawaku pulang? Chris? Tidak. Dia tidak tahu apartemen ku, kecuali dia itu benar-benar seorang stalker,” gumam Liana.
.
.
.
.
Hari ini sampai sini dulu ya bestie🥰besok lanjut lagi😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘