Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Pesta


__ADS_3

Di dalam kamar VVIP, seorang pria dewasa tengah diobati oleh gadis yang baru saja ditemuinya.


“Tahan! Kalau mau menangis, menangis saja. Tidak usah gengsi,” ucap Liana.


“Hei, Nona! Apa kau ..... Aaa arrrggghhh!” teriak Falcon yang tiba-tiba lukanya disiram dengan cairan desinfektan oleh Liana.


Karena jeritan Falcon tadi, salah satu anak buah yang berjaga di depan, menerobos masuk dan membuat Liana mendengus kesal.


Falcon pun memberi isyarat dengan melambaikan tangannya, pertanda bahwa dirinya baik-baik saja, dan agar anak buahnya itu kembali pergi keluar.


“Aku tidak sedang mengejek Anda, Tuan. Hanya saja, menangis itu manusiawi. Apalagi saat tubuhmu terluka parah seperti ini, dan seharusnya anak buahmu bisa paham akan hal itu. Jadi, mereka tidak perlu ketakutan saat mendengarkan teriakan mu tadi,” ucap Liana tanpa berdosa.


Gadis itu kemudian menyiram alat medis yang sudah dibawakan oleh anak buah Falcon sebelumnya, dengan cairan yang sama untuk mensterilkan benda-benda tersebut.


“Aku akan membuka sedikit jaringan kulitmu, untuk mengambil proyektil yang masuk ke dalam daging. Tahanlah, karena di sini tidak ada obet bi*s,” seru Liana.


Dengan perlahan, gadis itu mulai menggunting area sekitar luka tembak, dan mengambil pel*ru dengan sebuah pinset.


Falcon terlihat meremas kuat jad yang sudah ia lepaskan dari awal, sambil menahan suara jeritannya agar tidak sampai keluar.


Terdengar bunyi benda metal beradu, menandakan bahwa peluru sudah berhasil diambil.


“Apa kau seorang dokter?” tanya Falcon.


“Sayangnya, tanganku terlalu kasar untuk menjadi seorang dokter. Tanganku ini lebih cocok untuk mengangkat palu dan linggis,” jawab Liana datar.


Gadis itu terlihat begitu lihai memasang benang jahit ke jarumnya. Dia kemudian perlahan mulai menjahit luka tembak di lengan Falcon.


“Lalu, apa kamu sering terlibat dengan gangster? Kau sangat lihai menggunakan semua peralatan medis ini,” terka Falcon.


“Aku hanya sering melihatnya di drama-drama televisi, di mana pemeran utamanya berprofesi sebagai dokter. Bahkan, adegan mereka saat mengoperasi pun, ditampilkan dengan sangat jelas seolah itu adalah nyata. Apa Anda merasa khawatir aku melakukan kesalahan sekarang? Tenanglah. Ini akan baik-baik saja,” sahut Liana datar.


Falcon benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, melihat sikap dan tindakan Liana yang begitu diluar perkiraannya.


Gadis yang menarik, batin Falcon.


Liana kini mengolesi obat di luka pria itu dan menutup dengan perban.


“Apa tidak ada plester di sini? Yang benar saja? Kenapa gangster sekelas dirimu bahkan tidak membawa plester dalam kotak medisnya,” keluh Liana.


Dia kemudian berpikir. Gadis itu tiba-tiba membuka syal yang saat itu dipakainya, dan diikatkan ke lengan Falcon sebagai ganti plester perekat.


“Ini akan sedikit membantumu untuk menghadiri acara malam ini barang sebentar. Aku sarankan, Anda segera pergi begitu acara selesai. Tidak perlu ikut pestanya. Anda bisa gunakan kamar ini untuk merawat lukamu. Aku yakin, dokter mu akan segera datang. Mintalah dia memeriksa hasil jahitan ku. Jadi, kalau pun ada kesalahan, itu tidak akan terlalu membahayakanmu,” ucap Liana.

__ADS_1


Gadis itu terlihat tengah berjalan ke arah toilet dan mencuci tangannya pada wastafel, dan mencuci semua peralatan yang tadi digunakan.


“Sebaiknya Anda minta anak buah Anda membawa pakaian ganti, karena kemeja Anda itu sudah penuh dengan darah. Saya permisi, karena sudah sangat telat untuk pergi,” ucap Liana.


Gadis itu menyambar tasnya dan paper bag yang dibawanya tadi. Saat hendak memutar handel pintu, Falcon kembali bersuara dan menghentikan langkah Liana.


“Siapa namamu, Nona? Setidaknya aku harus membayar hutang budi ku lain waktu,” ucap Falcon.


“Aku hanya seorang kuli bangunan. Jika lain kali kita bertemu, tolong kembali syalku. Itu kesukaanku. Pastikan Anda mencucinya hingga bersih dan harum,” sahut Liana.


Gadis itu pun kembali berbalik dan berlalu  keluar dari kamar tersebut.


“Kuli bangunan? Kalau begitu, kau adalah kuli bangunan tercantik yang pernah ku temui,” gumam Falcon.


...👑👑👑👑👑...


Lantai tiga belas Emerald Hotel, di salah satu hall utama hotel tersebut, sebuah pesta besar tengah di gelar.



Nampak seorang gadis muda dengan balutan gaun lengan panjang hitam, berkerah V yang lebar, dengan panjang dibawah lutut, terlihat memasuki hall tersebut.



Gadis itu duduk begitu saja, di samping seorang pria tua yang tengah berbincang akrab dengan pria seusianya yang lain.


“Kenapa lama sekali?” bisik pria tua yang tak lain adalah Joseph.


“Ternyata, dandan itu butuh waktu lebih dari lima belas menit, Kakek. Pantas saja, banyak wanita yang rela seharian berada di dalam salon kecantikan,” kilah Liana.


Dia menoleh ke arah pria di samping Joseph dan tersenyum menyapanya.


“Halo Pak Wali Kota. Selamat malam. Maaf saya terlambat datang,” ucap Liana yang terlihat begitu ramah pada wali kota Golden City.


“Pesta belum di mulai. Masih ada waktu untuk menunggu bintang sepertimu, Nona Lilian,” sahut wali kota.


“Terimakasih atas kemurahan hati Anda,” ucap Liana.


Gadis itu pun kemudian mengambil segelas sampanye yang sudah tersedia di atas mejanya, dan bangkit berdiri.


“Mau kemana lagi kamu?” tanya Joseph.


“Saya akan menyapa tamu-tamu yang lain sebentar, Kek. Pak Wali Koa, saya permisi sebentar,” sahut Liana kepada Joseph dan juga kepada wali kota bergantian.

__ADS_1


Gadis itu pun berjalan menghampiri meja, di mana gubernur yang kebetulan malam ini juga turut hadir.


“Selamat malam Pak Gubernur. Apa kabar Anda hari ini?” sapa Liana.


Nampak gadis itu dengan mudah membaur dengan kalangan kelas atas, mulai dari politisi bahkan sampai pebisnis yang turut hadir di acara ini.


Direktur Emerald Hotel pun begitu memuji hasil kerja Liana, yang telah berhasil membangun hotelnya dengan sangat baik.


“Anda terlalu memuji, Tuan. Anak muda seperti saya, masih butuh banyak arahan serta bimbingan dari yang lebih senior,” ucap Liana merendah.


“Selain pintar, kamu juga gadis yang baik. Orang tua mu pasti bangga memiliki putri seperti mu,” ucap direktur Emerald Hotel.


Keramahan terlihat jelas dari wajah Liana, setiap dia menghampiri satu demi satu meja tamu VVIP yang hadir di acara tersebut.


Dia tak sadar jika ada dua pasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak geriknya.


“Apa kau tahu siapa gadis itu, Nine?” tanya seorang pria berbadan kekar dengan wajah yang terlihat pucat, Falcon.


Pria itu sudah masuk ke tempat acara dan sengaja duduk di salah satu meja di bagian belakang, agar kondisi buruknya tak mengundang perhatian orang-orang.


“Apa perlu saya cari tahu, Bos?” tawar Nine.


“Pergilah!” seru Falcon.


Pria bernama Nine yang hadir bersamanya pun, beranjak dari duduknya dan menjalankan tugas dari sang bos.


Sedangkan di sudut lain, seseorang yang terlihat memegangi kamera, terus membidik ke arah Liana berada. Pria berjas hitam itu, terus memandangi gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Saat Liana selesai menyapa para tamu, gadis itu memilih untuk menyingkir dari keramaian. Dia berjalan menuju ke arah meja hidangan, dan meraih segelas cocktail.


Tiba-tiba, seseorang menepuknya dari belakang, dan saat dia berbalik sebuah lampu blitz mengaburkan pandangannya.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2