
Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan, bahwa Liana dan Ella akan pergi ke pesisir utara untuk mengucapkan selamat jalan kepada si kecil Paulo, yang meninggal saat kejadian penculikan Peter dari pulau karang milik Q.
Di sana turut hadir semua orang, mulai dari Liana, Falcon, Long, Q, Ella, Mike serta beberapa anggota geng Jupiter yang bertugas menjaga keamanan sang petinggi. Hanya Nine yang masih berada di Empire State, mengurus semua pekerjaan di perusahaan menggantikan Falcon, selama sang pewaris Lunar Group berada di Golden City.
Liana dan Ella membawa sebuket bunga lili putih yang dipegang mereka masing-masing, sedangkan para pria memegangi setangkai bunga mawar putih.
Mereka berdiri di tepi pantai berbatu karang yang berada tak jauh dari pemukiman warga. Tepatnya di tempat yang biasa digunakan anak kecil malang itu untuk menambatkan perahu Tinkerbell nya.
Ella terlihat beberapa kali menyeka air matanya yang turun dan tak bisa dibendung, mengingat betapa malangnya nasib anak itu.
Berbeda dengan Liana. Gadis yang selalu ingin terlihat kuat di mata orang lain itu, menahan sekuat hati rasa sedihnya saat mengenang sosok Paulo yang selalu membuatnya kesal.
Beristirahatlah dengan tenang, anak nakal. Bermainlah sepuasnya di laut sana. Maafkan aku yang telah merepotkanmu untuk menjaga ayahku, batin Liana.
Gadis itu kemudian melarung buket bunga lilinya ke laut, diikuti oleh Ella yang dibantu Q, disusul kemudian para pria yang juga melempar bunga mawar putih yang mereka bawa.
Setelah dari sana, Liana meminta Falcon mengantarnya ke rumah ibu angkat Paulo. Bagaimanapun juga, dia harus meminta maaf dengan benar kali ini, karena sebelumnya ketika di rumah sakit, kondisi Liana yang terpukul membuatnya tak bisa berpikir dengan baik.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu menyambut kedatangan mereka dengan baik, begitu pun warga setempat yang melihat keberadaan rombongan tersebut.
“Nyonya, kami baru saja mengucapkan selamat tinggal kepada Paulo. Sekali lagi, saya atas nama pribadi mohon maaf atas semua kejadian yang menimpa anak Ibu,” ucap Liana.
“Ini semua bukan salah Anda, Nona. Ini takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk Paulo. Mungkin saja, anak malang itu akan lebih menderita jika dia terus hidup bersama saya di sini. Mungkin inilah yang terbaik untuknya. Jangan lagi Anda menyalahkan diri atas kejadian itu,” sahut ibu angkat Paulo.
Kemudian, Falcon memberikan sebuah amplop kepada wanita itu.
“Tolong diterima. Ini adalah rasa terimakasih kami atas pertolongan yang pernah diberikan oleh Anda dan juga anak itu. Jumlahnya tidak seberapa. Namun saya harap, ini bisa bermanfaat untuk Anda dan orang-orang di sekitar,” ucap Falcon.
Pria itu menyerahkan amplop tersebut kepada ibu angkat Paulo. Wanita tersebut nampak kebingungan antara menerima atau menolak. Namun, Liana meraih tangannya dan meletakkan amplop tersebut di dalam genggaman wanita itu.
Wanita itu pun akhirnya mau menerimanya, dan berkata bahwa uang tersebut akan digunakan untuk perbaikan kapal Paulo dan kebutuhan lainnya.
Setelah itu, mereka pergi dari pesisir utara menuju ke pusat kota Golden City. Ada satu agenda penting lagi yang hari ini akan berlangsung.
Liana dan Falcon saat ini berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Mike. Sedangkan yang lain berada di mobil lainnya yang mengikuti di barisan belakang.
__ADS_1
Iring-iringan mobil tersebut sedang menuju ke sebuah kantor pemerintahan.
Saat di dalam mobil, Liana nampak selalu diam. Falcon yang melihat hal itu merasa khawatir, jika saja gadisnya masih merasa sedih karena kunjungannya ke pesisir utara negera bagian A tadi.
“Sweety, apa kau baik-baik saja?” tanya Falcon hati-hati.
Namun bukannya menjawab, Liana justru hanya mengela nafas berat dan melipat kedua lengannya di depan dada. Pandangannya bahkan ia lempar ke arah luar, dan duduk membelakangi Falcon.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘