
Di dalam lorong rumah sakit, Liana berjalan gontai meninggalkan ruang gawat darurat tempat sang kakek sedang dirawat.
Perasaannya sungguh kacau dengan semua yang terjadi saat ini, hingga ia memilih untuk menghindar sejenak dari semua yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Sebelum pergi, gadis itu mengutarakan semua kekesalan dan rasa kekecewaannya pada Jimmy, yang dengan mudahnya percaya dan membawa kedua orang itu masuk ke dalam mansion dream hill, dan membuat kekacauan di sana, sehingga membuat kondisi kakek kembali tidak stabil.
Liana tak percaya, jika hanya karena kalung ibunya, semua orang percaya pada perkataan dua penipu itu. Namun, dia tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Jimmy setelahnya.
Beberapa saat yang lalu, di depan ruang UGD.
“Apa hanya karena dia memakai kalung yang sama dengan nona muda, lalu kalian langsung membenarkan pengakuan mereka? Bagaimana dengan tes DNA? Apa Paman begitu bodoh membawa masuk orang tak jelas ke dalam rumah kakek dan membuat keributan di sana?” cecar Liana yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi.
“Lilian! Jaga bicaramu!” seru Jimmy sedikit keras.
Pria itu menarik Liana menjauh dari ruang penanganan darurat, ke sebuah tempat yang sepi, di mana mereka bisa bicara dengan leluasa.
Sebuah atap gedung yang kosong dan hanya terdiri dari beberapa pipa pembuangan besar yang terpasang di tempat tersebut.
“Lepas!” ronta Liana.
Namun, cengkeraman Jimmy begitu kuat, hingga Liana tak bisa untuk melepaskan diri.
Sesampainya di sana, Jimmy mendorong Liana agak kasar dan membuat gadis itu sedikit terbentur pipa besar itu.
“Apa kau pikir aku akan bertindak sebodoh itu? Kamu yang bertindak bodoh, kenapa pergi begitu saja tanpa berkata apapun pada tuan kemarin? Bukankah dia memintamu mencari tau tentang Nona? Kudengar bahkan kau sudah masuk ke kamar itu, dan menangis saat melihat foto pelayan itu dengan nona? Kenapa? Bukankah kau mengenal mereka? Lalu kenapa tak berkata apapun?” cecar Jimmy pada gadis itu.
“Tuan besar sudah sangat putus asa mecari cucunya. Dia bahkan hampir mempercayai kalau kaulah cucunya, dari kemiripan mu dengan nona. Tapi kau malah pergi tanpa penjelasan,” lanjut Jimmy.
“Kalau memang sadar kami mirip, kenapa tidak tes DNA sejak awal agar kalian yakin kebenarannya? Kenapa justru percaya dengan sebuah kalung bodoh itu, dan membawa orang yang tak jelas masuk ke dalam rumah, Paman!” pekik Liana.
“Kamulah orang tak jelas itu, Lilian. Kamu! Aap kau tak sadar?" sahut Jimmy cepat.
Seketika, ucapan Jimmy membuat Liana diam sejenak dan menurunkan emosinya.
“Aku? Aku orang tak jelas? ” tanya Liana lirih.
__ADS_1
“Yah, apa kamu lupa bagaimana kau tiba-tiba muncul di depan kami? Kau tahu, tuan besar bahkan sempat mencurigai mu sebagai suruhan lawan bisnisnya. Namun kamu beruntung, karena setelah pemulihan wajah, tuan besar justru menerimamu masuk ke rumahnya dan bekerja di sana. Hingga akhirnya, dia percaya jika kamu bisa diandalkan di perusahaan,” ungkap Jimmy.
“Sedangkan mereka, mereka datang langsung menemui tuan besar dengan ketakutan, seolah seseorang sedang mengejar mereka. Dengan menunjukkan kalung putrinya, setidaknya mereka memberi bukti jika ada keterkaitan antara dia dan nona muda. Jadi menurutmu, siapa yang orang tak jelas di sini, hah?” pungkasnya.
Liana tak menyangka dengan apa yang dikatakan Jimmy. Dia tidak bisa terima, kalau dirinya hanya dianggap sebagai orang tak jelas dimata mereka.
“Tapi bagaimana bisa hanya dengan sebuah kalung, dijadikan bukti kekerabatan, Paman? Ini sudah modern dan kalian orang berpendidikan serta berkuasa. Oh ayolah...,” sanggah Liana.
Gadis itu terlihat sudah benar-benar lelah, hingga menyandarkan punggungnya di pipa yang terasa sedikit hangat di belakangnya.
“Kau bilang tes DNA bukan? Kami bahkan langsung melakukannya dan hasilnya positif. Gadis bernama Jessica itu adalah cucu dari tuan besar,” ungkap Jimmy.
“Lalu, kenapa kalian tidak melakukannya dari awal padaku? Kenapa kalian mengabaikan wajah ku yang mirip dengan nona muda? Kenapa?” tanya Liana.
“Karena tuan menganggap wajahmu hanya hasil operasi, dan bukan wajah aslimu,” jawab Jimmy cepat.
“Apa? Hanya seperti itu saja?” tanya Liana.
Jelas terlihat kekecewaan yang amat dari raut wajah gadis, yang selama ini selalu terlihat tegar. Bahkan air matanya luruh begitu saja menuruni pipinya.
Jimmy menepuk pundak Liana, sebagai bentuk kepeduliannya kepada gadis itu.
Liana tertawa getir mendengar kata-kata terakhir Jimmy. Mereka semua mengira jika dirinya iri dengan posisi cucu yang sudah digantikan orang lain.
"Aku tidak se picik itu, Paman," sahut Liana yang seketika menepis tangan Jimmy dari tubuhnya.
Jimmy semakin tak paham dengan yang dipikirkan oleh gadis di depannya ini.
“Boleh aku bertanya padamu, Paman?” tanya Liana dengan emosi yang ia tekan kuat.
“Tanyakanlah!” sahut Jimmy.
“Aku yakin sebagai asisten pribadinya, gerakan paman harusnya lebih cepat dari kakek. Apa paman pernah berpikir untuk memeriksaku juga?” tanya Liana.
“Aku memang pernah berpikir seperti itu. Tapi, aku tidak berani melakukannya tanpa sepengetahuan tuan besar. Bahkan Debora pun mengusulkannya, tapi aku tak ingin mengecewakan tuan seperti yang dilakukan anak buahnya yang dulu. Sudah banyak penipu yang datang, dan memalsukan hasil tes DNA mereka. Bahkan orang-orang kepercayaan tuan besar pun melakukan hal itu untuk keuntungan mereka sendiri. Sehingga aku tak berani mengambil tindakan lebih dulu padamu. Baru kali ini, tes itu benar dan ditambah keberadaan kalung Nona Lilian yang ada pada mereka. Ini lah alasan tuan secepat itu percaya, jika Jessica adalah cucunya,” jawab Jimmy.
__ADS_1
Liana tak bisa lagi berkata apa-apa. Semua pertanyaan yang mengganjal dihatinya telah terjawab oleh Jimmy, dan menyisakan kekecewaan yang teramat dalam atas apa yang telah terjadi.
Dia sudah terlalu lelah untuk terus berdebat dan mempertanyakan kebodohan yang telah dilakukan orang-orang disekitar Kakek Joseph dan juga pria tua itu.
Liana pun memilih pergi meninggalkan Jimmy, dan berjalan keluar dari rumah sakit meninggalkan kakeknya yang masih terbaring di sana.
Dia berjalan keluar rumah sakit pemerintah pusat, dan bermaksud hendak menunggu bis kota dan kembali pulang ke apartemen.
Kondisinya terlihat begitu menyedihkan. Wajahnya terlihat pucat akibat tak ada asupan yang masuk sedikit pun ke dalam tubuhnya, selama lebih dari dua puluh empat jam.
Saat berada tak jauh dari pintu keluar, kepala nya terasa berputar, dan kakinya seolah tak bisa menapak ke tanah.
Dia berpegangan pada sesuatu yang bisa diraihnya, sambil memegangi kepalanya yang terasa semakin berat. Hingga akhirnya, dia limbung dan hampir jatuh ke tanah.
Beruntung, ada seseorang yang dengan cepat menangkapnya, sehingga dia tak sempat terjatuh.
“Lilian! Lilian!” panggil orang itu panik saat melihat kondisi gadis di pelukannya
Di sisa-sisa kesadarannya, Liana melihat orang yang sudah menolongnya.
“Bawa... Aku... Pergi...,”
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1