
“Aku harus mandi. Seharian ini memantau proyek, badan ku benar-benar sangat kotor. Apa kau mau ikut dan melihat kamarku?” ajak Falcon.
“Wah... Apa kau sedang menggoda ku, Tuan? Apa kata keluarga mu nanti jika aku mau saja masuk ke dalam kamar tidur mu? Status kita saja masih belum jelas,” tolak Liana.
Falcon mendekat ke wajah Liana, dan meraih tangan gadisnya.
“Kau kekasihku. Apa itu kurang jelas?” ucap Falcon kemudian mengecup punggung tangan Liana.
“Haih... Kau ini. Baiklah, Tuan kekasih. Tapi kekasihmu ini sedang ingin mencari udara segar. Aku akan meliaht-lihat taman bunga ibumu. Di sana sangat indah dan tenang,” sahut Liana.
“Baiklah. Aku akan menyusulmu ke sana. Jangan pergi kemana-mana dan jangan terlibat dengan siapa pun, oke,” seru Falcon.
Liana mengangguk. Mereka pun berpisah di lift. Gadis itu keluar, sedangkan Falcon tetap di dalam lift dan naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada.
Dia berjalan hendak ke taman belakang, yang harus melewati ruang tengah. Ruangan tersebut bersebelahan langsung dengan kolam renang dan tempat bersantai.
Ketika dia hampir melewari ruang tengah, seseorang muncul dari arah kolam renang dan membuat Liana terpaksa berhenti melangkah.
“Seorang anak ingusan menjadi tamu di rumah ini, dan berjalan-jalan dengan lancang seorang diri. Benar-benar tidak tahu aturan. Sangat pas dengan anak haram itu,” ucapnya.
Liana menoleh dan melihat siapa orang yang sudah menyindirnya dan juga sang kekasih dengan terang-tetangan.
Kau? Jadi, kau mau coba bermain-main dengan ku? Baiklah, akan ku ladeni. Tapi, jangan salahkan aku kalau kau yang akan terjatuh ke dasar terendah nantinya, batin Liana.
__ADS_1
Dia pun berjalan mendekat ke arah kolam renang, di mana seorang wanita dengan gaya elegan khas bangsawan dengan lipstik merah, berdiri dengan melipat kedua lengannya di depan dada.
“Apa Anda sedang bicara dengan ku?” tanya Liana berpura-pura tak tahu.
“Yang benar saja? Ternyata tak hanya tak tau aturan tapi juga lamban berpikir alias b*doh,” sarkas wanita itu.
Dia berjalan melewati Liana begitu saja, namun dia harus kembali berhenti saat gadis itu mengucapkan sesuatu.
“Bukankah putrimu juga lamban berpikir?” ucap Liana.
Wanita bangsawan yang tak lain adalah Amber itu pun berhenti seketika, saat Liana menyinggung putrinya. Dia menoleh dan menatap tajam gadis yang hendak ia lewati tadi.
“Jaga ucapanmu! Beraninya menghina putriku! Kau hanya orang rendahan yang tak tau apapun juga! Kedua putirku itu sangat cer...,” tepis Amber.
“Ah... Aku lupa. Bukan kedua putrimu. Tapi putrimu yang lain,” sela Liana cepat.
Liana pun berbalik dan menatap tajam ke arah Amber. Senyumnya pun tersungging seolah mengejek wanita kelas atas yang begitu sombong dan arogan itu.
"Melihat reaksi Anda, sepertinya Anda sangat paham siapa yang aku maksud itu," ucap Liana.
Gadis itu mulai menebar racun hati pada musuhnya. Liana, gadis pintar, cerdas dan licik itu memilih perang psikologis sebagai jalan balas dendamnya, dari pada menyerang secara fisik. Menurutnya, itu lebih terlihat elegan dan halus, namun benar-benar mematikan.
“Anda tidak perlu repot-repot untuk memulai permusuhan dengan ku, karena aku pasti akan membuat Anda jatuh hingga ke dasar yang paling dalam. Ingatlah, bahwa aku mengetahui semua hal tentang Anda, sedangkan Anda sama sekali tak tahu apapun tentang ku, bukan? Nantikan saja apa yang akan ku perbuat pada Anda,” ucap Liana.
__ADS_1
Gadis itu benar-benar telah menabuh genderang perang pada wanita yang telah mencelakai ibunya, dan menyebabkan semua tragerdi yang terjadi di dalam keluarganya.
Amber masih terlihat geram dengan Liana, namun dia tak bisa berkata apapun karena begitu terkejut bahwa ada orang lain yang tahu tentang rahasianya.
Liana pun berbalik dan hendak pergi dari sana, namun dia kembali berhenti dan mengucapkan sesuatu yang akan mampu membuat musuhnya semakin panik.
“Apa kau tahu, dia sangat mirip denganmu. Aku penasaran, bagaimana reaksi orang-orang saat melihat foto kalian berdua muncul di koran, pada halaman yang sama dan dalam waktu bersamaan pula?” pungkas Liana.
Gadis itu pun kembali berjalan meninggalkan Amber yang masih berdiri dalam kebingungan di sana.
Terimalah salam perkenalan dariku, Nyonya bangsawan. Aku pastikan mulai hari ini, kau tak akan bisa lagi hidup dengan tenang, batin Liana.
.
.
.
.
Nah si eneng dah kibarin bendera perang tuh bestie😁siap-siap dibuat pusing dengan trik licik si eneng ya🤭
Lanjutannya besok lagi🙏maaf mau ngurus si kakak yang lagi panas dulu🙏
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘