
“Selamat pagi, Nyonya. Ada apa ya?” tanya Liana setengah sadar, karena rasa kantuk yang belum sepenuhnya hilang.
Tanpa menjawab terlebih dulu, kepala pelayan wanita itu menoleh ke belakang dan terlihat seorang pelayan lainnya, sedang berdiri di sana sambil membawa satu setel baju beserta sepatu.
Debora meraihnya dan menyodorkan ke arah Liana.
“Ambillah dan segera bersiap! Hari ini kamu akan bertugas di luar rumah,” ucap Debora.
“Keluar? Maksud, Nyonya?” tanya Liana bingung.
Karena Liana tak kunjung meraih baju tersebut, Debora pun mendorong sedikit benda itu ke dada Liana, dan membuat gadis itu seketika menangkapnya.
“Cukup lakukan saja. Nanti juga kamu akan tau,” sahut Debora datar.
Wanita itu kemudian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Liana dalam kebingungan.
Dia menatap pakaian tersebut dengan penasaran. Saat dia hendak mencocokkannya ke badan, Liana baru sadar jika pakaiannya masih sama dengan kemarin.
“Apa aku semalam tidur pake baju ini? Astaga! Bukannya semalam aku tidur di ruang kerja kakek tua itu? Kenapa bisa tiba-tiba ada di kamar? Apa iya dia sendiri yang menggendong ku? Ah, tidak mungkin. Dia kan sudah tua. Meski aku kurus, tapi dia mana kuat,” gumam Liana berdialog dengan diri sendiri.
Sejenak kemudian, di menggelengkan kepala dan memilih untuk segera membersihkan diri, dan memakai pakaian yang telah disiapkan sebelumnya oleh Debora.
Selang beberapa menit kemudian, tepatnya empat puluh menit, Liana keluar dengan mengenakan sebuah kemeja kotak-kotak hitam putih kecil, dengan sebuah celana Jeans hitam serta sepatu boots di atas mata kaki.
Rambut hitamnya ia gerai begitu saja, dengan wajah tanpa make up sama sekali.
Dia berjalan menuju ke arah rumah utama, dan di sana dia berpapasan dengan Debora.
“Di depan ada mobil yang akan membawamu ke tempat tujuan. Cepatlah pergi, tuan sudah menunggumu di tempat itu. Jangan lupa, pakai bedak sedikit agar wajahmu tidak terlihat mengerikan,” seru Debora.
“Ehm, boleh saya tau di mana tempatnya, Nyonya?” tanya Liana penasaran.
“Cukup ikuti saja. Nanti juga kamu akan tahu,” ucap Debora.
“Baiklah. Saya permisi dulu,” sahut Liana.
__ADS_1
Gadis itu pun naik ke mobil, dengan sang supir yang adalah supir rumah tersebut, James.
Di dalam mobil, sudah ada tas punggung yang berisi laptop dan juga bedak serta lipstik. Ada juga sebuah map dan drafting tube panjang yang mirip dengan yang pernah dibawa oleh Jimmy tempo hari.
“Kak James, kita mau ke mana?” tanya Liana, saat mobil telah melaju keluar dari pekarangan mansion dream hill.
“Tuan berpesan agar kamu membaca dokumen di dalam map terlebih dulu. Kita akan ke perusahaan Wang Construction di Golden City. Tuan sudah menunggu kita di sana,” ungkap James.
Apa? Wang Construction? Mau apa aku ke sana? batin Liana.
Dia pun kemudian mengambil map yang ada di samping kirinya, dan kemudian membukanya. Matanya membelalak meski baru lembar pertama yang ia lihat.
Ini ... Ini kan aplikasi lamaran pekerjaan. Ini milikku? batin Liana bertanya-tanya.
Di sana, bahkan tersemat potret dirinya namun dengan identitas yang berbeda. Di dokumen tersebut, tertulis jika dia kini memiliki nama baru yang dulu sempat dimintanya dari Kakek Joseph, namun pria tua itu menolak mentah-mentah bahkan marah pada Liana.
Namun, kali ini Joseph justru memberikan identitas itu sendiri kepada Liana, bahkan tanpa gadis itu tahu sebelumnya.
“Kak James. Apa ini milikku?” tanya Liana.
“Ya. Kata tuan, itu semua milikmu. Kamu beruntung, karena bisa mendapat perhatian lebih dari tuan besar. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Jangan sampai mengecewakan tuan besar,” ucap James.
Mungkin ini memang sudah ditakdirkan, kalau aku harus meninggalkan masa laluku di kota itu. Ibu, aku janji akan kembali ke sana, dan mengambil apa yang menjadi milikku dari awal, batin Liana.
Setelah selesai membacanya, dia pun kembali menutup map tersebut dan meletakkannya di kursi sebelah kiri, tepat di atas tas punggung.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang diapit perbukitan di sebelah timur negara bagian A.
Selang beberapa lama, akhirnya mereka tiba di Golden City. Kota maju yang masuk peringkat sepuluh besar kota terbaik di seluruh negeri.
Kota dengan pembangunan yang berjalan pesat di segala sektor, dan menjadikannya kota modern yang ramah lingkungan, berkat kebijakan pemerintah kota, yang mewajibkan setiap bangunan menganut sistim arsitektur hijau atau bangunan hijau.
Bangunan hijau adalah satu pendekatan pembangunan bangunan yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekologis. Pendekatan ini dipilih berdasarkan kenyataan bahwa selama ini 50% sumberdaya alam dipakai untuk bangunan dan 40% energi dikonsumsi bangunan. Sementara itu lebih dari 50% produksi limbah berasal dari sektor bangunan. Kenyataan ini menunjukkan adanya ketidak seimbangan lingkungan yang berakibat pada menurunnya kualitas lingkungan dan kehidupan manusia.
Dengan kata lain, setiap bangunan harus meminimalisir penggunaan sumberdaya alam dan energi, baik pada proses pembangunan maupun pengoperasiannya, dan menggantinya dengan yang lebih ramah lingkungan, sehingga bisa juga menekan produksi limbah.
Kini, mobil yang dinaiki Liana telah sampai di depan pintu masuk gedung Wang Construction. Meski awalnya ragu-ragu, namun Liana berusaha memantapkan hatinya untuk mengambil kesempatan emas ini.
__ADS_1
Dia pun dengan langkah pasti memasuki gedung tersebut. Dengan mengenakan tas punggung serta membawa sebuah map di tangan kiri dan sebuah drafting tube panjang di pundak kanan, Liana berjalan menuju meja resepsionis.
“Permisi, saya diminta datang oleh Tuan Jimmy. Apa beliau ada?” tanya Liana.
Sebelumnya, James berpesan, agar Liana mencari Jimmy dan bukan Joseph saat di meja resepsionis. Dengan begitu, mereka akan menunjukkan tempat yang benar kepada Liana.
“Apa Anda datang untuk presentasi rancangan gedung Grande Mall?” tanya resepsionis.
“Benar,” sahut Liana.
“Silakan Anda naik ke lantai dua puluh delapan. Setelah sampai, Anda belok kanan. Di ujung lorong ada ruang rapat. Anda akan menemui beliau di situ,” jelas sang resepsionis.
“Baik. Terimakasih,” sahut Liana.
Gadis itu pun segera menuju lift dan menekan angka dua puluh delapan. Setibanya di sana, dia pun menuju keruangan yang ditunjukkan.
Rupanya, itu adalah ruang rapat yang cukup besar. Saat Liana masuk, sudah ada banyak orang, termasuk Joseph yang saat itu tengah berbicara di depan.
“Nah, orangnya sudah datang. Langsung saja minta dia untuk mempresentasikan hasil rancangannya,” seru Joseph.
Liana tercengang dengan hal itu. Dia tak habis pikir, jika pria tua itu akan langsung memintanya untuk melakukan presentasi di depan banyak orang, tanpa persiapan sedikit pun.
Namun, Liana bukan lah gadis yang mudah menyerah. Dia dengan percaya diri masuk dan menyiapkan segala hal saat itu juga.
Dia membuka laptop yang dibawanya, dan rupanya semua cetak biru rancangannya telah ada di dalam sana. Seketika, sebelah sudut bibirnya terangkat, dan dia pun kini dengan pasti menghadapi semua audien yang hadir.
Layar proyektor telah siap, dan kini rancangannya sudah ditampilkan di depan sana.
“Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Lilian Wu, perancang gedung Grande Mall, yang ditunjuk langsung oleh Tuan Joseph Wang,” ucap Liana dengan lantang.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘