Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kaus pasangan


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka bangun hampir kesiangan karena jam tidur yang terlalu larut.


Liana lebih dulu mandi ke kamar samping, dan Falcon di kamar gadis itu. Liana terkejut dengan beberapa tanda merah yang terlihat menghiasi sekitar lehernya pagi itu.


Dia pun menutupi bagian tersebut dengan handuknya, dan kemudian segera kembali ke kamar.


Sesampainya di sana, dia melihat Falcon yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


“Aaaa... Kenapa kau tidak pakai baju?” tanya Liana.


Gadis itu berbalik dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Aku tidak tau dimana baju gantiku,” sahut Falcon.


Pria itu menahan senyumnya melihat tingkah malu Liana yang menggemaskan.


“Cepat masuk lagi ke kamar mandi! Biar ku ambilkan baju ganti untuk mu,” seru Liana.


Falcon pun menurut. Dia tak mau menggoda gadisnya itu sekarang, karena pasti Liana akan kesal jika sampai terlambat kerja.


Gadis itu mengambil sebuah kaus yang ia beli semalam, lengkap dengan cel*na d*lam serta celana pendek selutut. Ia kemudian berjalan ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu.


Liana memalingkan wajahnya saat Falcon membuka pintu tersebut. Namun, bukannya segera mengambil pakaiannya, pria itu malah mengecup pipi Liana hingga gadis itu tak sadar menoleh dan melihat badan kekar Falcon yang masih sedikit berair.


Susah payah gadis itu menelan ludahnya, bahkan matanya tak bisa berpaling dari pemandangan roti sobek itu. Namun dengan jahilnya, Falcon justru menyentil kening Liana hingga gadis itu tersadar dan melempar pakaian ganti Falcon begitu saja.


Liana kesal dan meninggalkan pria itu yang terkekeh, karena tak tahan untuk menggoda gadisnya.


Saat Falcon berganti pakaian di dalam kamar mandi, Liana pun mengganti pakaiannya di dalam kamarnya sendiri. Dengan cepat, dia memakai semuanya sekaligus sebelum Falcon keluar dari kamar mandi.


Saat ini, dia terlihat sedang mengeringkan rambutnya dan menyisir surai hitam lurus itu dengan cepat. Saat Falcon selesai, pria itu melihat Liana yang sedang sibuk mengolesi sesuatu di sekitar lehernya.


Dia ingat jika semalam dia telah meninggalkan sesuatu di sana. Falcon pun mendekat dan melihat jika gadis itu memang sedang menutupi buah dari maha karyanya semalam.


“Oh, jadi begitu caramu menyembunyikan mahakarya dari ku,” ucap Falcon saat berada di depan cermin, tepat di samping Liana.

__ADS_1


Gadis itu melirik sekilas. Liana mendengus kesal karena perkataan pria itu.


“Mahakaryamu itu benar-benar merepotkan. Kenapa harus terlihat begini sih?” keluh Liana.


“Memangnya kalau tidak terlihat, tidak apa-apa?” tanya Falcon.


“Setidaknya aku tidak perlu menutupinya seperti ini tiap hari,” sahut Liana.


“Benarkah? Jadi, aku boleh membuatnya di tempat lain?” tanya Falcon.


“Tentu saja bo... Tidak boleh! Dasar mesum! Kau sengaja memancing ku kan?” bentak Liana kesal.


Hampir saja aku terjebak kata-katanya. Dasar pria banyak modus! batin Liana.


Falcon terkekeh melihat wajah kesal Liana. Saat melihat pantulan mereka berdua di cermin, dia baru menyadari jika kaus yang dipakai mereka berdua adalah sepasang.



“Manis sekali. Ternyata gadis ku ingin terlihat seperti ini?” ucap Falcon.


Falcon menunjuk ke arah kausnya dan kaus Liana secara bergantian.


“Ini! Kita memakai kaus pasangan. Apa sekarang kau mau semua orang tau kalau kita adalah kekasih?” tanya Falcon.


“Tentu saja. Memangnya kau keberatan? Atau mungkin ada hati yang harus kau jaga selain aku?” terka Liana dengan memicingkan matanya ke arah pantulan Falcon di cermin.


Dengan gemas, Falcon mencubit hidung Liana hingga gadis itu mengaduh dan menghadiahi Falcon pukulan keras di dada.


“Aawww... Sejak kapan tenaga mu jadi sekuat ini?” tanya Falcon seraya mengusap-usap bagian yang sakit.


“Sejak kau selalu menggodaku. Menyebalkan!” sahut Liana ketus.


Gadis itu terlihat telah selesai bersiap, sementara Falcon meminjam sisir untuk merapikan rambutnya.


Liana merapikan semua barang-barangnya seperti bedak, lipstik, ponsel serta dompetnya ke dalam tas punggung kesayangannya.

__ADS_1


“Kita mau sarapan di mana?” tanya Liana.


“Apa kau suka sarapan dengan sup ayam? Ada restoran yang menjual sup ayam yang sangat lezat di dekat sini,” tawar Falcon.


“Baiklah. Ayo! Satu jam lagi meeting terakhir kita. Jangan sampai terlambat,” seru Liana.


Falcon pun mengangguk mengiyakan ajakan gadisnya. Dia meraih dompet serta ponselnya dari atas nakas, dan memasukkannya ke dalam saku celana.


Mereka berdua berjalan keluar kamar bersama, dan membuat semua orang memperhatikan pasangan yang baru saja bersama itu.


“Akhirnya, Tuan muda kita sudah ceria lagi,”


“Nona Wang, berbaik hatilah sedikit pada kekasihmu. Kasihan dia ke sana kemari mengejarmu seperti orang gila,”


“Kalian berdua serasi sekali. Aku iri,”


Begitulah reaksi rekan-rekan Liana saat mereka berdua berjalan melewati semua orang.


“Kalian berisik sekali! Aku pergi dulu ya. Sampai bertemu di The Palace,” ucap Liana.


Dia pun meninggalkan semuanya dan masuk ke dalam mobil bersama sang pangeran.


.


.


.


.


Manis banget sih... pake gula biang kali yak, aduh🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2