Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tiba di Golden City


__ADS_3

Beberapa jam berselang, kini pesawat yang ditumpangi oleh Liana telah tiba di bandara Golden Airport. Sang pilot meminta ijin untuk bisa mendaratkan burung besi tersebut di salah satu landasannya.


Di dalam pesawat, Liana nampak masih tertidur karena hari juga sudah gelap dan cukup larut. Falcon menghubungi anak buahnya agar mereka menjemput mereka berdua di bandara.


Mendengar kabar kedatangan bos mereka, geng Jupiter segera mengirimkan sepasukan pengawal, untuk menjemput orang penting di geng tersebut, yang selama beberapa waktu ini telah pergi dari Grey Town. Semua menyambut senang atas kembalinya Falcon ke negara bagian A.


“Tuan muda, di luar sudah ada dua orang yang datang menjemput Anda dan nona Wang,” ucap salah satu pramugari yang masih menunggu di atas pesawat.


“Suruh mereka pindahkan barang-barang kami ke mobil!” seru Falcon.


“Baik, Tuan,” sahut sang pramugari.


Setelah pramugari itu pergi, Falcon pun menggendong Liana keluar dari pesawat. Tak lupa ia memegangi tas punggung gadis itu di tangan, sambil terus membawanya pergi dari burung besi itu.


“Selamat datang, Bos,” sambut Nine dan Long, yang berdiri tepat di bawah tangga.


“Ssstt! Jangan berisik. Kalian hanya akan membangunkannya,” seru Falcon.


Keduanya pun diam dan hanya menahan tawa mereka, melihat keposesifan dari bosnya saat ini.


Falcon terus berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di dekat pesawat, dan secepat kilat, Nine berlari untuk membukakan pintu belakang.


Falcon pun kemudian masuk ke dalam bersama Liana secara perlahan. Dia tak mau jika gadisnya itu sampai terbangun karena ulahnya.


Setelah Falcon dan Liana sudah duduk di kursi belakang, Nine serta Long pun masuk dan duduk di depan.


Mobil melaju membelah jalanan Golden City malam itu, dengan beberapa mobil lain yang mengiringi di belakang.


“Apa kalian harus seheboh ini hanya untuk menyambutku pulang?” tanya Falcon sedikit kesal dengan ulah anak buahnya.

__ADS_1


“Itu karena mereka sangat senang dengan kepulanganmu, Bos. Kami tidak bisa melarang mereka menunjukkan kerinduan mereka padamu, bukan?” sahut Long.


Falcon hanya memutar bola matanya sambil menghela nafas panjang.


Dia melihat ke bawah, tepat di pangkuannya, di mana gadisnya tengah tertidur lelap dengan berbantalkan pahanya.


“Kita mau kemana, Bos?” tanya Nine yang saat ini sedang memegang kemudi.


“Pergi ke apartemennya saja. Dia harus pulang dan beristirahat dengan benar,” seru Falcon.


“Apa kau juga akan menginap di sana, Bos?” tanya Long dengan menggerak-gerakkan kedua alisnya yang ke atas, seolah sedang menggoda bosnya.


“Kau ini!” keluh Falcon.


Kakinya menendang kursi di depannya dengan kesal, hingga membuat goncangan pada kepala Liana. Gadis itu pun terusik dan akhirnya menggeliat.


“Lihat! Gara-gara kau, gadisku jadi terbangun!” gerutu Falcon pada sang tangan kiri.


Seketika, sang germo nyentrik itu mendapatkan sikutan dari rekan di sebelahnya.


“Ehm... Di mana kita?” tanya Liana.


Gadis itu masih betah berlama-lama berbaring di pangkuan Falcon, dan hanya merubah posisinya menghadap ke atas, menatap wajah sang kekasih dari bawah sana.


Dengan lembut, Falcon mengusap surai hitam Liana yang sedikit berantakan.


“Kita sedang menuju ke apartemenmu,” sahut Falcon.


Gadis itu menoleh ke depan, dan melihat keberadaan dua orang yang sangat tak asing baginya.

__ADS_1


“Kalian?” pekik Liana.


Gadis itu terkejut dengan keberadaan dua anak buah Falcon yang berada di kursi depan. Dia pun segera bangun dan duduk dengan benar di samping kekasihnya. Dia menoleh ke arah Falcon dengan penuh tanya.


“Kenapa mereka bisa ada di sini? Siapa yang memberi tahu mereka tentang kepulangan kita? Apa teknologi kalian secanggih itu sampai tahu kapan kami akan sampai di sini?” cecar Liana.


“Kenapa kau sangat terkejut, Nona? Tentu saja bos yang menghubungi kami. Chip tidak se canggih itu sampai bisa membaca masa depan,” sahut Long sedikit kesal, dengan pertanyaan bertubi-tubi dari Liana yang terdengar b*doh.


“Tapi, bukankah kau tidak tau nomor telepon mereka? Bagaimana bisa?” tanya Liana pada Falcon.


Pria itu menunjukkan ponsel baru yang diberikan oleh Jack, tepat sebelum dia naik ke pesawat.


“Kau lihat ini? Di dalam sini sudah ada nomor mu, nomor Nine, Long, bahkan Q pun ada. Jangan tanya dari mana Jack tahu nomor kalian semua, karena itu rahasia kakek yang belum ku ketahui,” jawab Falcon.


Nine melihat dari balik kaca spion dan memperhatikan ekspresi Falcon saat membicarakan kakeknya.


“Apa kau akan mengadakan rapat di markas, Bos?” tanya Nine.


“Kau memang selalu tajam seperti biasanya, Nine. Yah, ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian. Tapi setelah aku menemani Liana menyelesaikan urusannya,” ucap Falcon.


.


.


.


.


Senang nya bisa ketemu Nine sama Long lagi 😁

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2