
Sore hari, para pekerja proyek mulai meninggalkan area tersebut dan kembali ke tempat tinggal masing-masing, untuk mengistirahatkan diri mereka setelah bekerja seharian ini.
Liana terlihat tengah berbincang dengan rekan timnya, untuk membahas mengenai kegiatan mereka besok, dan progres yang sudah dicapai oleh masing-masing bagian.
“Baiklah. Mari kita sudahi rapat sampai di sini saja. Kalian bisa kembali ke asrama sekarang,” ucap Liana.
“Apa kau akan menunggu Tuan muda mu itu lagi, Nona wang?” tanya salah satu rekan timnya.
“Bukankah Anda akan meninjau pabrik di dekat sini? Perlu ku temani?” tanya yang lain.
“Biar aku sendiri saja yang ke sana. Kalian bisa kembali terlebih dulu,” sahut Liana.
“Apa kau yakin?” tanya yang lain.
“Yah, kebetulan setelah itu aku juga ada urusan lain lagi,” jawab Liana
“Baiklah. Kalau begitu, kami pulang lebih dulu,” sahut yang lainnya.
Mereka semua pun membubarkan diri dan kembali menuju ke kendaraan minibus, yang memang sudah disediakan oleh The Palace, sebagai kendaraan untuk mobilitas tim dari Wang Construction.
Liana nampak berjalan ke arah jalan di depan area proyek. Dia menunggu sebuah taksi yang akan mengantarnya ke suatu tempat.
Suatu kebetulan, terlihat sebuah taksi yang melewati jalan tersebut saat Liana baru saja beberapa menit berdiri di tepi jalan.
__ADS_1
Ketika di dalam taksi, Liana nampak mengirim pesan kepada seseorang, dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana belakang, dan bukan tas ransel seperti biasanya.
Gadis tersebut terus melihat ke arah luar, seolah tengah memperhatikan jalanan yang ia lalui saat itu.
Tak jauh di belakangnya, sebuah mobil milik anak buah Falcon, nampak masih membayangi taksi tersebut. Namun, saat berbelok ke sebuah persimpangan jalan, mobil tersebut tak terlihat lagi dan membiarkan Liana pergi seorang diri dengan taksi tersebut.
Taksi membawa Liana ke daerah yang terlihat semakin jauh dari kota, dan tampak mulai masuki kawasan hutan di pinggiran Empire State.
“Apa kau yakin ini jalannya?” tanya Liana pada sang supir taksi.
“Sesuai alamat yang Anda sebutkan sebelumnya, memang ke sinilah arahnya? Apa Anda yakin tidak salah memberikan alamat?” tanya sang supir taksi.
Liana tampak tenang, meski kedua tangannya meremas kuat ujung kemeja yang dipakainya.
Meski tampak berani, namun Liana tetaplah seorang gadis biasa, yang tak punya kemampuan apapun untuk membela diri.
Yang dia mampu hanyalah mencari celah, dan memprovokasi lawan agar dia bisa kabur dari bahaya.
Firasatnya mengatakan, jika informasi yang didapatnya pagi tadi adalah sebuah jebakan. Namun, Liana lagi-lagi tak mau melibatkan Falcon secara langsung, dan memilih untuk pergi seorang diri.
Tak berselang lama kemudian, taksi tiba di sebuah danau kecil, dengan sebuah rumah pondok milik seorang pemburu. Rumah tersebut terlihat sepi, namun justru hal itu yang membuat Liana semakin curiga.
Mesin mobil telah dimatikan, namun Liana belum juga mau turun. Dia menatap sang supir yang sedari tadi menutupi wajahnya dengan topi, hingga gadis itu pun tak bisa melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
“Kau bisa buka topimu sekarang, Tuan supir!” seru Liana.
Supir itu pun mengangkat wajahnya dan memperhatikan Liana yang telah lebih dulu menatap tajam ke arah pantulan supir tersebut, melalui kaca spion depan.
Sebuah seringai terlihat dari wajah pria, yang telah mengantarkan Liana ke tempat terpencil itu. Dia kemudian membuka topinya, hingga liana pun bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas.
“Halo, Nona Wang. Kita bertemu lagi,” ucapnya.
Sudah ku duga. Ini pasti jebakan, batin Liana.
.
.
.
.
Maaf bestie, othor lagi ada kesibukan, makanya sekarang siang mulu update nya🙏
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1