Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Negosiasi


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, setelah Falcon naik ke lantai atas bersama sang kakek, dia masuk ke dalam ruang kerja Tuan Harvey, dan duduk di kursi yang ada di depan meja kerja pria tua itu.


“Untung saja semua orang belum kembali. Dasar anak b*doh, bagaimana bisa kau mengatakan hal se rahasia itu di tempat terbuka seperti tadi?” Keluh Tuan Harvey pada cucunya.


“Memang apa hubungan antara Liana dengan keluarga ini, sampai Anda terlihat begitu panik saat aku mengatakan hal tersebut?” tanya Falcon.


“Sudahlah. Lupakan saja. Jadi, apa imbalan yang kau tawarkan untuk meminjam pesawat ku? Sekali lagi ku tekankan, aku tidak semurah hati itu meminjamkan barang mewah ku pada orang lain,” ucap Tuan Harvey.


“Apa yang Anda mau? Katakan saja,” tantang Falcon.


“Hei, Anak muda. Aku ini seorang pebisnis. Bukan anak kecil yang bisa diiming-imingi sesuatu, agar mau memberikan sesuatu pula. Berikan aku penawaran bagus yang bisa membuatku mau menuruti permintaanmu,” sahut Tuan Harvey.


“Baiklah. Anggap saja kalau aku mengantarkan gadis itu hanya sebagai sebuah efek sampingan,” ucap Falcon.


“Efek sampingan? Apa maksudmu seperti minum obat? Bicara yang jelas dan langsung pada intinya. Tidak usah berbelit-belit!” seru Tuan Harvey.


“Ibaratkan seperti saat Anda minum obat flu. Bukankah Anda akan merasa mengantuk dan kemudian beristirahat? Anggaplah mengantar Liana adalah tujuan lainku, sementara tujuan utama ku adalah untuk pergi menemui anak buah ku di Grey Town,” ungkap Falcon.


Tuan Harvey menatap tajam ke arah cucunya, dan memicingkan mata seolah tengah menerka maksud dari perkataan Falcon.


“Bukanlah Anda sudah membuat perjanjian dengan gadis itu? Aku akan menyetujuinya, karena bagaimana pun kami sudah memutuskan ingin selalu bersama. Tapi, aku bukan orang yang mudah percaya dengan orang lain. Sebagai calon penerus, bukankah harus ada pelindung dan orang kepercayaan? Aku menginginkan orang-orang ku sendiri untuk datang kemari, dan membantuku di sini. Aku rasa itu bukan permintaan yang sulit,” ucap Falcon.

__ADS_1


Nampak Tuan Harvey mengendurkan kerutan yang muncul di keningnya. Dia mulai nampak tenang mendengar perkataan dari sang cucu.


“Jadi, apa kau sudah setuju untuk menjadi seorang Harvey?” tanya Tuan Harvey.


“Selama kau menepati janjimu, Tuan,” ucap Falcon.


“Bagus. Selesaikan urusanmu dengan anak buahmu di kota hitam itu. Pastikan mereka tak menjadi batu sandunganmu untuk mencapai posisi yang sedang ku persiapkan untuk mu. Jika aku menemukan kecurangan atau usaha melarikan diri, jangan salahkan kalau aku juga akan memburu gadismu itu. Apa kau paham?” seru Tuan Harvey.


“Hanya orang b*doh yang akan mencelakai orang yang dicintainya,” ucap Falcon.


“Bagus kalau kau tahu,” sahut Tuan Harvey.


“Halo, Jack! Siapkan pesawat untuk Alex. Dia akan pergi ke Golden City sekarang juga,” seru Tuan Harvey.


“Baik, Tuan,” sahut Jack dari Seberang.


Sambungan pun dimatikan.


“Kau pergilah temui gadis itu. Pesawat akan terbang dari hanggar belakang,” seru Tuan Harvey.


Falcon bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu, namun sebelum dia membukanya, pria itu kembali berbalik dan menghadap ke arah kakeknya.

__ADS_1


“Satu hal lagi, aku butuh ponsel untuk alat komunikasi. Pinjami aku uang untuk membelinya,” pinta Falcon.


“Kukira kau berbalik karena akan berterimakasih padaku. Tapi ternyata... Kau pergilah. Biar Jack yang akan urus semua. Dasar!” keluh Tuan Harvey.


“Baiklah. Terimakasih, Tuan,” ucap Falcon.


Pria itu pun kemudian keluar dari ruangan tersebut dengan senyum tipis di bibirnya. Sedangkan Tuan Harvey nampak kembali mengubungi seseorang.


.


.


.


.


Hari ini segini dulu ya bestie ☺sekali lagi othor minta maaf karena telat up🙏😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2