Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Love you, honey


__ADS_3

Siang hari, seusai memantau proyek, Liana datang ke perusahaan selepas jam makan siang.


Baru saja dia hendak turun dari mobil, sebuah dering dari ponsel membuatnya berhenti dan kembali duduk tenang di dalam sana.


Senyum mengembang manis di wajahnya, kala melihat siapa yang menelponnya saat ini. Dengan segera, Liana menempelkan ponsel ke telinganya.


“Halo, Honey,” sapa Liana.


“Hai, Sweety. Apa kau sudah makan siang?” tanya Falcon, sang kekasih dari seberang sambungan.


Liana seketika menoleh ke sekitar, seolah tengah mencari sesuatu.


“Di mana kau sekarang?” tanya Liana.


“Aku? Tentu saja di Empire State. Ada apa?” jawab Falcon.


“Ah, benar. Rupanya aku sudah terlalu berharap,” gumam Liana.


“Tunggu! Apa kau mengira aku sedang di sana, dan akan mengajak mu makan siang? Wah... Apa serindu itu kau padaku sekarang, Honey, hem?” goda Falcon.


“Oh... Jadi, apa hanya aku di sini yang merasakan rindu? Apa kau tidak merasakannya juga?” cecar Liana tak mau kalah.


Terdengar kekehan dari seberang, saat mendengar Liana bertanya secara beruntun.

__ADS_1


“Jangan tertawa. Aku sedang kesal denganmu,” seru Liana.


“Maaf, Sweety. Kau sangat mudah digoda, tapi kau juga mudah sekali membalikkan kata-kata. Benar-benar gadis limited edition ku,” ucap Falcon.


“Kau kira aku ini barang! Kau menelpon ku hanya ingin tanya aku sudah makan atau belum kan? Jawabannya, sudah tadi bersama para pekerja bangunan di area proyek,” tutur Liana ketus.


“Baiklah. Karena aku sudah mendapatkan jawabannya, jadi aku tak akan mengganggumu lagi. Pulang kerja, aku akan menelpon mu, oke,” seru Falcon.


“Tunggu!” cegah Liana saat Falcon hendak menyudahi panggilan.


“Ehm... Kenapa, Sweety?” tanya Falcon.


Lama Liana diam, hingga Falcon pun kembali bertanya. Akhirnya, Liana tak jadi berkata apa pun dan ingin kembali menyudahi panggilan tersebut.


“Tidak apa. Aku hanya sangat rindur padamu, hingga suaramu saja sudah membuatku tergila-gila,” ucap Liana.


Namun, terlihat dari wajahnya, memang bukan itu tujuannya meminta Falcon menahan panggilannya tadi. Seperti ada sesuatu yang lain, yang ingin diucapkan. Namun dia enggan untuk mengatakannya.


“Hei, sejak kapan gadisku ini bisa berkata-kata seperti ini? Apa kau sedang menggoda ku untuk datang nanti malam?” sindir Falcon.


“Aku? Hahahaha... Hei, Tuan! Aku ini tidak pandai menggoda orang. Tidak seperti seseorang yang terus saja menggodaku setiap saat. Jangan menemui ku dulu. Aku benar-benar sibuk saat ini. Aku takut kau hanya akan ku abaikan jika kemari. Bulan depan. Aku sudah pastikan kalau bulan depan kita akan bertemu lagi. Saat undangan dari ku datang, kau harus hadir. Mengerti!” seru Liana.


“Tak bisakah kau katakan apa rencanamu itu?” tanya Falcon.

__ADS_1


“Cukup percaya dan dukung aku. Aku yakin dengan cara ku ini,” sahut Liana.


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana, membuat Liana ingin menghindar dari pertanyaan selanjutnya.


“Baiklah. Aku harus bekerja sekarang. Nanti malam, ku tunggu teleponmu lagi, oke. Love you, Honey,” ucap Liana.


“Yah, baiklah. Selamat be... Hei, tadi kau bilang apa?” tanya Falcon yang baru sadar perkataan Liana.


“Tidak ada siaran ulang. Bye,” sahut Liana.


Gadis itu segera mematikan teleponnya, dan terkekeh mendengar prianya yang terkejut dengan panggilan sayangnya itu.


Namun, tawanya tak bertahan lama. Dia mengetuk-ngetukkan ponsel ke dagu, seolah tengah memikirkan sesuatu.


.


.


.


.


Sarapan kesiangan datang, bestie 😅🤭maaf yah, othor lagi repot nih, tapi tetep ku usahain update kok😁

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2