
Golden Park, taman di pusat kota yang begitu tenang, sangat kontras dengan kehidupan kota tersebut yang jauh dari kata lengang. Udara di sana begitu sejuk, surga bagi penduduk yang ingin terbebas dari polusi udara yang mereka hirup sehari-hari.
Seorang pria nampak duduk di dalam sebuah mobil, yang terparkir tak jauh dari mobil chevrolet, yang ia ikuti sejak di area konstruksi Golden Hospital.
Tampak seorang pemuda yang tak lain adalah Christopher, tengah duduk di balik kemudi, dan terlihat sedang berbicara pada seseorang yang duduk di sampingnya. Pria paruh baya yang terlihat begitu tampan dan trendy di usianya yang terbilang tak lagi muda.
“Kenapa Paman diam saja saat tadi di area konstruksi? Paman bahkan mencegahku turun dan melerai kedua gadis yang berkelahi itu,” tanya Christopher.
“Apa kau tidak lihat tadi? Dia terlihat percaya diri dan sama sekali tidak seperti sedang ditindas. Aku yakin, sifatnya pasti keras dan pemberani, sama seperti Presdir Wang yang ku kenal. Apa kau tau, orang seperti itu sangat benci jika seseorang tiba-tiba datang dan bertingkah menjadi pahlawan di depannya. Karena apa? Secara tak langsung, orang yang datang itu menganggap gadis tersebut lemah dan itu sangat melukai harga diri si gadis,” ucap sang paman, Peter.
“Tapi dia putrimu, Paman. Apa Paman tidak marah saat putrimu di serang dengan kasar seperti tadi? Bisa saja dia sedang menangis saat ini. Lihat saja, dia bahkan tak keluar dari mobil sejak tadi,” sanggah Christopher.
“Tentu saja aku marah. Orang tua mana yang tak marah melihat putrinya disakiti. Tapi sebagai ayahnya, aku bangga padanya, karena dia tak lemah dan bisa membalas semua itu dengan caranya sendiri. Kalau memang dia menangis, biarkan saja. Tipikal keras kepala seperti Dia dan kakeknya, sangat benci terlihat lemah di depan orang lain. Buktinya dia sekarang ada di sini, dan sendirian di dalam sana. Kita tunggu dan lihat saja dari sini,” sahut Peter.
“Apa Paman tidak khawatir dia akan melakukan sesuatu yang b*doh?” tanya Christopher.
__ADS_1
Peter yang sejak tadi terus memandang lurus ke arah mobil putrinya, kini menoleh dan menatap ke arah keponakan yang duduk di sampingnya.
“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau dia adalah gadis pintar? Orang pintar, tidak akan pernah melakukan hal b*doh, Chris. Apa kau tau itu?” sahut Peter.
Pria itu kembali melempar pandangan ke depan, ke arah chevrolet yang terparkir agak jauh di sana.
Perkataan Peter membuat Christopher terdiam seketika, dan ikut memperhatikan mobil yang sudah cukup lama berhenti itu.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya target keluar dan berjalan menjauh dari area parkir. Melihat sosok Liana yang begitu mirip dengan Lilian, kekasihnya, membuat jantung Peter berdegup tak menentu.
Namun, saat baru setengah jalan, dia melihat jika Liana kembali berdiri dan seperti hendak pergi dari tempat tersebut. Dia yang kebingungan karena tak siap untuk bertemu Liana, akhirnya hanya mematung di tempat. Saat itu, Liana yang berjalan tak fokus pada jalanan, akhirnya menabrak Peter yang sedari tadi memang berdiri di sana.
Peter seketika tersadar dari diamnya dan segera meraih tas punggung sang putri. Meski dadanya sesak dan matanya terasa panas, namun Peter berusaha untuk tetap terlihat biasa saja di depan anak gadisnya.
Dia meminta maaf dan mengurlukan tas tersebut kepada si pemilik. Liana pun meraih tas tersebut. Tatapan gadis itu sungguh menusuk jantung dan mengiris hati Peter.
__ADS_1
Lilian. Aku benar-benar melihat Lilian pada gadis ini. Nak, ini ayahmu, Nak. Maafkan aku yang pengecut ini, batin Peter meratap.
.
.
.
.
Tisu mana tisu 🤧🤧🤧🤧nyesek nggak sih ketemu ma anak tp nggak berani ngaku 🤧
oh ya, mulai hari ini, othor bakal up normal lagi ya, mana guyuran kopinya☕☕☕☕
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘