
KLANG!
Bunyi lonceng yang berada di atas pintu, menandakan jika ada seorang pelanggan yang baru saja masuk, dan sudah hal lumrah saat bunyi tersebut terdengar, maka otomatis membuat orang yang berada di dekat pintu menoleh ke arah tersebut, untuk melihat siapa yang masuk.
Seorang pria yang tengah berdiri di depan lemari pendingin yang berada tak jauh dari pintu, seketika terpaku saat pandangannya bertemu dengan mata seorang gadis yang terlihat masih bernafas dengan terengah-engah.
Air minum yang dipegangnya pun hampir saja terlepas dari genggaman, namun segera ditangkapnya kembali hingga tak sampai jatuh ke lantai.
Liana mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan berjalan ke arah lemari pendingin itu. Dia membukanya dan mengambil sebotol minuman isotonik dari dalam sana. Sedangkan pria itu masih saja mematung di tempat, sambil terus memperhatikan Liana.
Tiba-tiba, gadis itu menoleh dan tersenyum begitu manis ke arah pria tadi
“Hai, Paman. Apa kau masih ingat aku? Kita pernah bertabrakan di taman sana. Ah... Mungkin saja kau sudah lupa. Lupakan saja,” ucap Liana.
Gadis itu berusaha bersikap biasa saja dan sesantai mungkin. Dia membuka tutup botol tersebut dan meneguk isinya hingga tinggal setengah.
Pria yang tak lain adalah Peter, yang sedari tadi terus membeku pun berusaha menguasai dirinya di depan gadis tersebut, dan mencoba berbincang dengannya secara wajar.
“Ah... Kau rupanya. Gadis yang berjalan terburu-buru dan menabrakku. Bagaimana kabarmu? Apa urusanmu waktu itu berjalan lancar?” tanya Peter mencoba setenang mungkin.
“Yah, lumayan. Meski ada satu masalah yang masih belum bisa ku pecahkan sampai sekarang. Ehm... Apa Paman sibuk? Bisa tidak temani aku sebentar untuk menghabiskan minuman ini di depan?” ajak Liana.
Peter merasa jantungnya hendak melompat keluar karena sangat senang, dengan perbincangan ringan ini dengan sang putri.
__ADS_1
Dia tak menyangka jika akan semudah ini berinteraksi dengan gadis cantik itu. Peter pun tak mampu menyembunyikan senyum senangnya.
“Tentu. Berikan botolmu,” seru Peter.
Liana menyerahkan botol air minumnya kepada pria itu, selanjutnya Peter berjalan ke arah kasir dan membayar kedua minuman tadi.
Sementara Liana, gadis itu mengambil sebungkus camilan keripik kentang dan meletakkannya di atas meja kasir bersama kedua minuman tadi, lalu berjalan keluar.
Peter geleng-geleng melihat sikap tak acuh dan seenaknya dari sang putri.
Benar-benar sangat mirip dengan pak tua itu. Selalu seenaknya sendiri, batin Peter.
Selesai membayar semuanya, Peter membawa belanjaanya ke depan dan duduk di kursi yang ada di teras swalayan.
Di sana, Liana telah duduk menunggu. Pandangannya mengarah ke taman yang berada tepat di depannya.
Liana seketika menoleh dan mengambil botol yang tadi di minumnya.
“Terimakasih, Paman,” sahut Liana.
Gadis itu kembali meneguk minuman tadi dan lagi-lagi membuang pandangannya ke arah taman.
“Apa kau sering ke tempat ini?” tanya Peter.
__ADS_1
“Yah, hampir setiap hari aku datang kesini,” sahut Liana datar.
Gadis itu bahkan tak menoleh ke arah pria yang mengajaknya berbicara.
“Tempat ini memang sangat tenang dan indah. Jauh dari kebisingan kota di luar sana,” ucap Peter.
“Kau benar, Paman. Tapi, bukan itu yang menjadi alasanku untuk datang kemari,” sahut Liana.
“Lalu, apa alasanmu?” tanya Peter.
Liana menoleh ke arah pria di depannya. Dengan tatapan lurus dan menikam, hingga membuat Peter merasa kaku dibuatnya.
“Aku kemari karena mencarimu, Paman,”
.
.
.
.
Hari ini udah selesai ya bestie 😘besok lanjut lagi😁kirim kopi banyak-banyak dong sini🤭
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘