Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tanggung jawab


__ADS_3

Hari-hari berganti. Semenjak kejadian tempo hari di Dream Hill, saat Kakek Joseph meminta agar Jessica belajar dari Liana. Pria itu pun meminta kepada gadis yang masih menyembunyikan jati dirinya tersebut, untuk selalu mengawasi tingkah laku Jessica, saat di lingkungan perusahaan.


Hal itu membuat gerak gerik Jessica seolah tak bebas, dan selalu berada di bawah tekanan dari Liana, yang dengan sengaja selalu memprovokasinya.


Seperti pada saat akan bertemu dengan klien penting, Liana meminta Jessica untuk menemuinya, dan mengatakan jika dia harus bisa belajar untuk berinteraksi dengan siapapun, yang akan menjadi pelanggan mereka nantinya.


“Kakek mempercayakan masa depan perusahaan padamu. Jadi, aku yang ditunjuk langsung oleh Kakek untuk mengajari mu, berbaik hati ingin mengajak kau untuk menemui seorang klien potensial kita. Beliau ini seorang kaya raya, yang gemar membangun berbagai macam properti. Kita sangat beruntung, karena beliau mau bekerja sama dengan kita, dalam rencananya untuk membangun sebuah area hunian elit di ibu kota negara sana,” ucap Liana.


Saat ini, keduanya tengah berada di dalam ruang kerja Liana, satu lantai di atas divisi pemasaran.


Liana sengaja memanggil Jessica ke sana, karena dia tahu dengan pasti jika gadis itu selalu merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, terlebih jika itu melebihi kepunyaannya.


Seperti ruang kerja. Jessica yang hanya mendapatkan sebuah meja kecil dengan ruang gerak yang begitu sempit, sementara Liana, gadis itu mendapatkan ruangan pribadi yang cukup luas dan memiliki fasilitas yang begitu lengkap.


Bahkan, ada sebuah ruang istirahat di dalam kantor tersebut, lengkap dengan kamar mandi dalam serta almari, yang menyimpan beberapa pakaian Liana, yang digunakannya dalam kondisi darurat.


Jessica nampak tengah duduk di sebuah sofa yang begitu empuk, sedangkan Liana terlihat duduk di kursi kerjanya, sambil memeriksa beberapa berkas di atas meja.


Dia bahkan berbicara pada Jessica tanpa menatap gadis itu secara langsung. Namun, dia bisa menebak dengan benar, jika Jessica membuat gerakan bibir menyinyiri setiap perkataan dari Liana.


“Jessica, apa kau dengar perkataan ku?” tanya Liana.


Jessica nampak tak acuh, dan terus saja memanyunkan bibirnya. Matanya berkeliling ke segala sudut ruangan, sambil terus merutuki nasibnya yang tak sebaik Liana saat ini.


Karena tak mendapat sahutan, Liana pun mengangkat wajahnya dan melihat ke arah depan, di mana Jessica berada.


Nampak jika gadis itu melihat sekeliling, dengan  wajah yang nampak begitu kesal. Seketika itu, senyum mengejek terbit di bibir tipis Liana.


Apa kau begitu iri dengan apa yang ku punya saat ini? Rasakanlah. Karena tak semua yang ku miliki saat ini, bisa kamu rebut dengan mudah, seperti apa yang kau lakukan di masa lalu, batin Liana.


Gadis itu menutup berkas di hadapannya, dan bangkit dari kursi kerja. Dia berjalan menuju ke arah sebuah lemari pendingin, dan mengambil dua kaleng minuman bersoda dari dalam sana.


Dia kemudian berbalik dan menghampiri Jessica, dan meletakkan salah satunya di hadapan gadis itu.


Liana duduk di sofa single, sambil membuka penutup kaleng nya.


“Minumlah! Hanya ada ini di lemari pendinginku,” ucap Liana.

__ADS_1


Dia kemudian meneguk miliknya, sedangkan Jessica meraih yang tadi disodorkan oleh Liana.


“Kita akan bertemu beliau malam ini, di sebuah restoran bintang lima yang berada di Emerald Hotel. Pastikan kau datang sebelum jam tujuh malam,” ucap Liana memberikan arahan.


“Apa klien kita seorang pria?” tanya Jessica.


Liana menoleh kearah gadis itu, dengan sebelah alis yang terangkat ke atas.


“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kalau iya, memang kenapa? Kalau tidak kenapa?” tanya Liana.


“Aku cuma ingin tau saja,” sahut Jessica sambil meneguk kembali minumannya.


Kalau pria, akan ku buat dia bertekuk lutut dan jatuh cinta padaku, batin Jessica.


Gadis itu seolah tak henti-hentinya menebar pesona, dan mencari pria-pria kaya untuk menopang gaya hidupnya yang tinggi. Meski sekarang dia berstatus sebagai cucu pemilik salah satu dari sepuluh perusahaan konstruksi terbesar nasional, namun dia tak bisa leluasa memakai uang Kakek Joseph dengan seenaknya, mengingat usahanya untuk berpura-pura baik di hadapan pria tua itu.


Begitu pun saat bertemu dengan Damian, dan mengetahui jika pria itu adalah seorang direktur sebuah perusahaan. Jessica seketika itu juga mau mengadu kepada pria itu, meski mereka baru saja bertemu.


Semua itu dilakukan Jessica, semata-mata untuk menarik perhatian para pria, agar mereka bisa semakin dekat lagi nantinya.


Seusai menghabiskan minumannya, Liana meminta Jessica untuk kembali ke meja kerjanya di lantai bawah.


“Iya, aku sudah tau,” sahut Jessica ketus.


Saat gadis itu telah sampai di pintu, Liana kembali membuatnya berhenti dan berbalik.


“Jessica, tadi kau bertanya apakah beliau ini pria atau wanita bukan? Dia adalah seorang pria yang matang,” ucap Liana.


“Benarkah?” tanya Jessica hampir memekik.


Namun, dia tiba-tiba menoleh ke belakang, melihat kalau-kalau ada karyawan yang mendengar suaranya tadi.


“Benarkah?” tanya Jessica lagi seraya berbisik.


“Tentu saja. Untuk apa aku berbohong. Kalau tak percaya, lihat saja nanti,” jawab Liana.


Gadis itu kembali meneguk minumannya, sementara Jessica, gadis itu terlihat senyum-senyum sendiri setelah mendengarkan ucapan Liana tadi.

__ADS_1


Jessica pun kemudian ke luar, dengan wajah yang nampak ceria.


Sedangkan di dalam ruangan, Liana terlihat aneh. Pandangan nya lurus ke depan, dengan tatapan yang sulit diartikan.


...👑👑👑👑👑...


Sore hari, saat Liana hendak pulang dari kantor, sebuah panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya. Dia mengambil benda tersebut dari dalam tas, dan melihat sebuah nama yang familiar di sana.


Liana pun menerimanya dan mempelkan benda tersebut ke depan telinga.


“Halo,” sapa Liana.


Gadis itu nampak berjalan ke arah parkiran, dan menekan tombol callback yang terdapat di kunci yang dipegangnya, sambil terus melakukan percakapan dari ponselnya.


Liana terlihat begitu santai saat mendengarkan pembicaraan dari seberang, dan masuk ke dalam Chevrolet miliknya.


Beberapa kali dia terlihat menyahuti. Bahkan, dia nampak begitu ceria dan sesekali melempar candaan kepada lawan bicara di sana.


Seolah begitu akrab, gadis itu pun terus menimpali perkataan dari orang yang berada di ujung sambungan.


Setelah sambungan terputus, tiba-tiba saja, dalam sekejap, raut wajah Liana berubah muram. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya nampak mengeras.


Maaf kan aku,


.


.


.


.


Maaf guys, kesiangan 🙏 othor harus ngurus urusan duniawi dulu sebelum memenuhi kewajiban dunia halu ini🤭🤣


hari ini othor seperti biasa akan kasih 3 bab, jadi masih kurang 2 lagi ya😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2