
“Dia memanggil namamu,” ucapnya.
Liana seketika melihat ayahnya dan meraih tangan pria malang itu yang masih dibalut perban.
“Ayah, ini aku Liana, putrimu. Aku sudah datang, Yah. Bangunlah. Kau bilang ingin bertemu dengan ku bukan. Bangunlah, Ayah. Bangunlah,” ucap Liana penuh harap.
Seolah merespon kata-kata Liana, Peter balas menggenggam tangan putrinya dengan sisa tenaga yang dimilikinya saat ini.
Kelopak matanya semakin bergerak-gerak, hingga akhirnya, kedua mata itu pun terbuka secara perlahan.
“Ayah!” panggil Liana cepat saat melihat ayahnya telah membuka mata.
Peter masih berusaha untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya di sekitar, seraya mencari keberadaan putrinya di antara bayangan yang muncul di depan matanya, yang belum mampu dilihat dengan jelas olehnya setelah beberapa hari tak sadarkan diri.
“Buka matamu perlahan saja,” seru Q.
Setelah beberapa lama, akhirnya Peter bisa melihat dengan jelas keadaan sekitarnya. Matanya menangkap sosok seorang gadis dengan paras yang sangat ia rindukan, tengah duduk sambil terus memandang ke arahnya, seraya menggenggam tangannya yang terluka dengan erat.
“Liana... Anak... Ku,” ucapnya terbata dan begitu lirih.
Namun, seolah mengerti ucapan pria itu, Liana pun menyahutinya.
“Iya, Ayah. Ini aku, putrimu, Liana,” sahut Liana.
Air mata kembali berlinang di matanya, menuruni pipi dan jatuh ke tangan sang ayah. Senyum terbit di bibir Peter, saat mendengar jika Liana sudah mau mengakui dirinya sebagai putrinya.
__ADS_1
“Terima... Kasih...,” ucap Peter lagi.
Liana menggelang cepat menimpali ucapan ayahnya.
“Jangan banyak bicara lagi. Pulihkan lah dirimu secepatnya, agar kau bisa berterimakasih dengan benar padaku,” ucap Liana dengan nada angkuhnya, meski yang terlihat jauh berbeda dari perkataannya yang dingin itu.
Setalah itu, Q memeriksa kondisi Peter dengan lebih teliti lagi, untuk memastikan jika pria itu tak mengalami gangguan pada otaknya, mengingat pria itu pun sempat dipukul di bagian kepala.
Kemudian, dokter muda tersebut memberikan obat penenang, agar Peter bisa kembali beristirahat, untuk pemulihan lukanya agar cepat membaik.
Sementara itu, hari sudah mulai gelap dan angin laut terasa semakin dingin. Dari arah laut, terlihat sebuah perahu nelayan datang dan menepi di pantai tersembunyi itu.
Saat itu, Falcon, Liana, Kenny dan anak kecil si pemilik perahu, melihat kedatangan kapal nelayan tersebut.
Falcon menoleh ke arah Kenny, seolah bertanya perihal siapa yang datang.
Dia kembali menoleh ke arah pantai, dan nampak seorang pria sedang berjalan menuju ke rumah panggung tersebut.
Anak kecil itu pun berlari menyambutnya, seolah mengenal baik siapa pria yang baru saja datang itu. Dia bahkan membimbingnya dan berjalan di depan.
“Selamat malam, Tuan dan Nona. Tadi sore istriku melihat si kecil Paulo membawa tamu lagi kemari. Jadi, dia menitipkan ini untuk kalian,” ucapnya.
Pria itu menyerahkan dua buah bungkusan berbeda kepada Kenny.
“Terimakasih, kalian sudah banyak membantu kami,” ucap Kenny.
__ADS_1
“Tidak perlu sungkan. Kami melakukan ini dengan senang hati, mengingat bantuan kalian semua saat tempat kami terkena wabah beberapa waktu lalu,” ucap pria tadi.
“Apa kau akan pergi mencari ikan?” tanya Kenny.
“Yah, tentu. Ikan di malam hari lebih banyak muncul ke permukaan. Kami tak boleh menyia-nyiakannya,” ucap pria nelayan itu.
“Baiklah. Semoga berhasil membawa banyak tangkapan malam ini,” sahut Kenny.
Pria itu pun undur diri dan kembali menuju ke kapalnya di tepi pantai.
Seperginya nelayan tadi, Kenny membawa masuk kedua bungkusan tersebut, diikuti oleh anak kecil yang ternyata bernama Paulo.
Tak berselang lama, Kenny kembali keluar dan menemui Falcon beserta Liana.
“Pria tadi membawakan kalian pakaian ganti dan beberapa peralatan mandi. Bersihkan dulu badan kalian, setelah itu kita akan makan malam,” ucap Kenny.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘