
Di dalam ruang sidang. Nampak Lusy, Alice dan Debora telah lebih dulu hadir seperti biasa. Liana yang baru saja datang, melihat sekilas orang-orang itu, dan kembali berjalan.
Peter menuntun sang putri untuk duduk di barisan depan, tepat di seberang Lusy dan yang lain, diikuti oleh Falcon, Christopher dan rombongan mereka.
Kedua orang pesakitan itu dihadirkan di ruang sidang, dan mengundang perhatian seluruh orang. Pasalnya, kondisi Amber terlihat menyedihkan. Parasnya semakin terlihat kusam, matanya kuyu dan lingkar hitam jelas tercetak di sana.
Paras cantik dan anggun yang dulu sudah tak terlihat sama sekali. Benar-benar pemandangan yang memprihatinkan.
Berbeda dengan Moses. Pria itu nampak biasa saja. Dia selalu terlihat tenang di sana setiap penampilannya. Bahkan, dia terlihat lebih damai, seolah keputusannya untuk menyerah, membuatnya merasakan ketenangan hati yang selama ini ia buang jauh, demi untuk mendukung ambisi wanita tercintanya.
Proses persidangan berjalan lancar. Amber yang biasanya selalu menentang dan berteriak, kini seolah telah kehilangan tenaga dan rasa percaya diri untuk memberontak.
Hingga akhirnya, hakim membacakan putusan vonis hukuman bagi kedua tersangka tersebut. Amber dijatuhi hukuman kurungan tiga puluh tahun penjara, dikurangi masa tahanan sebelumnya. Sedangkan untuk Moses, pria yang berperan sebagai kaki tangan Amber, mendapat hukuman lebih ringan lima tahun dari wanita jahat itu.
Setelah vonis dibacakan, hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali, menandakan bahwa kasus tersebut telah selesai.
Liana nampak memeluk ayahnya. Dia merasa puas, karena merasa jika hukuman Amber ini sangat pantas untuknya. Semua mengucap syukur atas selesainya masalah yang terjadi sekian lama, dan membuat banyak orang menderita.
Lusy berjalan ke arah sang ayah. Gadis itu memeluk Moses, dengan masih menggunakan kacamata hitamnya. Sesekali terlihat jika gadis itu mengusap bagian bawah matanya, karena air mata tak bisa ia bendung. Meski selalu terlihat tenang, namun tak bisa dipungkiri bahwa kesedihan saat ini tengah melanda hati gadis itu.
Sosok pria yang selalu menjadi pelindung dan cinta pertamanya, kini harus mendekam di dalam penjara dalam waktu yang sangat lama, untuk membayar semua perbuatan jahatnya di masa lalu.
Amber nampak masih duduk di samping kuasa hukumnya. Wanita itu diam dengan pandangan nanar. Namun, saat netranya menangkap sosok Liana yang sedang berpelukan dengan Peter, dia berubah berang.
Amber seketika berdiri dan menggebrak meja. Semua orang menoleh tak terkecuali Moses dan juga Lusy yang berada dekat dengannya. Suasana di ruang sidang kembali heboh melihat Amber yang tiba-tiba saja bereaksi.
“Ini semua salah kalian! Peter! Kalau sejak awal kau mau menerimaku, semua ini tidak akan pernah terjadi. Ini semua salahmu dan wanita j*lang itu. Awas kalian! Aku pasti akan membalas kalian semua! AKU PASTI AKAN MEMBALAS KALIAN SEMUA!! AAARRRGGHHHHH!” teriak Amber.
Melihat terpidana berulah, para petugas keamanan pun maju dan mengamankan Amber sebelum lepas kendali.
Mereka membawa wanita yang hampir gila itu keluar dari ruang sidang. Amber masih terus berteriak memaki Peter, Lilian dan juga putri mereka, Liana.
Sementara Moses, pria itu tak peduli lagi dengan Amber. Saat ini, matanya tertuju pada sosok laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabat seperjuangannya.
__ADS_1
Pemuda baik hati yang mengajaknya untuk mengubah nasib di kota besar, tanpa peduli latar belakangnya sama sekali.
Peter yang juga melihat Moses menatap ke arahnya pun, mencoba mengurai pelukan Liana.
“Ayah,” panggil wanita itu.
“Tak apa, Nak. Ada yang perlu kami selesaikan terlebih dulu,” ucap Peter pada sang putri.
Pria itu kemudian berdiri. Dia berjalan mendekat ke arah Moses, ditemani oleh sang keponakan, Christopher.
Sementat Liana, dia beralih merangkul lengan suaminya, sambil menatap ayahnya dengan cemas.
Nampak di sana, semua orang menyingkir dan seolah memberi ruang untuk kedua sahabat lama itu bertemu.
“Apa kabar mu, Peter?” sapa Moses.
“Seperti yang kau lihat. Aku hancur, dan ini semua karena kalian,” ucap Peter.
“Hahaha... Yah, ini memang perbuatan kami. Maka dari itu kami di sini. Hukuman sudah dijatuhkan. Jadi, jangan minta aku untuk berlutut dan meminta maaf,” sahut Moses.
Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah pria yang kini memakai seragam narapidana itu. Moses sampai terpental jatuh karena kerasnya pukulan Peter. Semua orang maju dan mencoba melerai keduanya.
Moses dibantu oleh Kuasa hukumnya dan juga snag putri untuk bangun. Dia menyeka sudut bibirnya yang terasa panas dan perih dengan ibu jari. Desisan terdengar dari mulut pria itu tanda dia merasa kesakitan.
“Aku tahu. Jadi sebaiknya, kau lupakan bajingan seperti ku ini,” ucap Moses.
Pria itu menepuk pundak Lusy, saat melihat beberapa petugas kembali masuk ke ruang sidang. Moses kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut, karena sipir telah menjemputnya setelah mengamankan Amber terlebih dahulu. Terlebih karena sempat melihat kericuhan terjadi antara korban dan juga terpidana.
Moses melangkah menjauh. Namun, baru beberapa langkah, dia kembali tertegun karena mendengar sesuatu.
“Terimakasih!” ucap Peter tiba-tiba.
Mendengar hal itu, Moses menghentikan langkahnya. Dia terkejut bahwa Peter justru akan mengucapkan kata itu setelah semua yang ia perbuat padanya.
__ADS_1
“Terimakasih karena telah menjaga putriku selama ini. Terimakasih karena telah menjaga makam Lilian di Heaven Forest. Dan terimakasih karena kau telah menyelamatkan putriku dari Amber,” ucap Peter kemudian.
Moses nampak mengerjapkan matanya mendengar semua ucapan terimakasih, dari pria yang sudah ia hancurkan hidupnya.
Pria itu pun menoleh sekilas, dengan sebuah senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
“Anggap itu hadiah perpisahan kita. Mulai sekarang, persahabatan kita benar-benar telah berakhir,” sahut Moses.
Pria itu kemudian kembali berjalan, diikuti oleh Lusy dan yang lainnya.
Sementara Peter, dia masih berdiri mematung di sana, dengan sebelah tangannya memegangi dada.
Ada rasa sesak saat harus mencoba berdamai, dengan orang yang sudah membuatnya kehilangan masa depan dan juga cinta. Orang yang sudah membuatnya melewatkan masa-masa yang seharusnya menjadi saat terindah di hidupnya.
Namun memang tak bisa dipungkiri, peran Moses selama ini yang terlihat seperti penjahat, justru dialah malaikat bersayap hitam yang menjaga Lilian dan juga Liana.
Dia sengaja menyembunyikan keberadaan anak Peter itu dari kejaran Amber, serta menjaga makam batu Lilian agar tak terjamah oleh orang lain, sebelum keluarganya menemukan tempat tersebut.
Liana bersama Falcon pun mendekat. Wanita itu kembali merangkul lengan sang ayah, dan menyandar di bahunya.
“Semua sudah selesai. Ayo kita pulang, Ayah,” ajak Liana.
.
.
.
.
Maaf bestie, kemarin bolos update😁lagi mikir endingnya nih🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘