
Sky Castle. Sore itu, Falcon mengajak Liana untuk pulang ke rumah keluarganya, karena merasa jika Liana sedang tidak aman jika harus berada di luaran sana.
Setelah hampir tertabrak mobil di depan The Palace, mereka bertemu Christopher dan mengetahui jika saat ini ayah Liana sedang diburu, dan besar kemungkinan mereka akan menargetkan Liana untuk memancing sang ayah keluar dan menyerahkan diri. Sama seperti yang pernah mereka lakukan saat membawa pulang Christopher dulu, dan bahkan dirinya beberapa waktu yang lalu.
Kini, Liana telah menempati sebuah kamar tamu di lantai bawah. Setelah memastikan gadis itu baik-baik saja, Falcon pun segera keluar dan bermaksud mencari sang kakek.
Dia ingin membicarakan sesuatu hal mengenai gadisnya. Mengingat waktu sudah semakin sore, dia ingin segera menyelesaikannya sebelum orang-orang kembali dari kesibukan mereka.
Saat dia hendak menuju ke lantai atas di mana ruangan sang kakek berada, dari arah ruang tengah, dia melihat kakeknya tengah duduk seorang diri di sana sambil membaca sebuah surat kabar.
Falcon pun berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Tuan Harvey.
Seketika, pria tua yang sedang sibuk dengan surat kabarnya, harus menoleh dan melihat jika cucu laki-lakinya sedang menatap tajam ke arahnya.
Sekejap kemudian, dia kembali fokus pada benda yang ada di tangannya.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Kalau mau bicara, duduklah!” seru Tuan Harvey.
Falcon pun duduk di sofa single yang berada di depan sang kakek.
“Tolong pinjami aku pesawat jet mu, Tuan,” ucap Falcon.
“Untuk apa kau meminjam pesawat jet ku? Apa kau mau pergi berlibur?” tanya Tuan Harvey datar dan terus fokus pada korannya.
“Aku harus mengantar Liana kembali ke Golden City dengan selamat,” sahut Falcon.
“Memang apa peduliku tentang keselamatan gadis itu. Jangan membuatku melakukan hal tidak berguna, Anak muda,” ucap Tuan Harvey.
“Hari ini, ada sebuah kejadian yang hampir membuatnya celaka dan juga berita mengejutkan tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Yang terpenting, bukankah dia adalah tiket Anda untuk mendapatkan ku? Jika gadis itu tidak ada, Apa Anda tidak takut aku akan kembali kabur?” sahut Falcon.
__ADS_1
Ekor mata Tuan Harvey melirik ke arah sang cucu, menandakan dia terusik dengan perkataan Falcon tadi. Namun, sejurus kemudian, dia kembali fokus pada bacaannya.
“Biar ku dengar dulu ceritamu tentang apa yang terjadi hari ini?” tanya Tuan Harvey.
“Aku tak yakin jika Anda tak tahu semuanya. Bukankah mata-mata Anda selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi?” sindir Falcon.
“Aku hanya tahu gadis itu hampir tertabrak di depan perusahaan, dan kau membawa orang asing masuk ke dalam perusahaan, kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan tertutup dengan hanya seorang gadis. Jika orang-orang melihat hal itu, mereka akan mengira kalian sedang berbuat apa,” balas Tuan Harvey.
“Benar. Ini memang Tuan Harvey yang terkenal itu. Percuma menyembunyikan apapun darinya, karena hanya akan menjadi bahan olokannya saja,” sarkas Falcon.
“Jadi, apa hal mendesaknya? Aku tidak akan semurah hati itu meminjamkan barang mewah ku, hanya untuk alasan asmara b*dohmu,” ucap Tuan Harvey.
“Apa Anda tahu tentang Empire Group?” tanya Falcon.
Mendengar nama itu, fokus Tuan Harvey kembali teralihkan, seolah ada sesuatu yang membuatnya terusik.
“Putra bungsu mereka saat ini sedang melarikan diri untuk menemui putrinya. Semua orang telah mencarinya dan akan menangkap pria itu hidup atau mati. Dan Anda tahu siapa putrinya?” ucap Falcon.
Tuan Harvey benar-benar mendengarkan perkataan Falcon, sampai pandangannya sudah tak fokus lagi pada surat kabar.
“Liana. Dia adalah putri dari Peter Chen. Putra bungsu dari Jerome Chen, sang pemilik Empire Group,” ungkap Falcon.
Tuan Harvey seketika bangkit dari duduknya saat mendengar penuturan dari Falcon tadi. Dia menoleh ke kanan dan kiri, depan serta belakang seolah tengah mencari sesuatu.
Falcon pun kebingungan melihat hal tersebut.
“Dasar anak b*doh! Ikut aku ke atas! Kita bicara di sana,” seru Tuan Harvey.
Pria tua itu kemudian berjalan menuju lift, dan berpapasan dengan seorang pelayan.
__ADS_1
“Apa anak-anak belum pulang?” tanya Tuan Harvey.
“Mereka belum pulang, Tuan. Baru Tuan Muda Alex yang sampai di rumah,” jawabnya.
“Baiklah. Lanjutkan tugasmu,” seru Tuan Harvey.
Kedua pria beda usia itu pun kemudian masuk ke dalam lift dan naik ke atas.
Saat keduanya telah menghilang, pelayan tersebut melihat pintu depan sedikit terbuka, dan dia pun berjalan ke arah pelayan yang berada di dekat sana.
“Apa tadi ada yang datang?” tanyanya pada rekan kerjanya.
“Baru saja Nyonya pertama kembali. Namun, dia hanya berdiri di sudut sana, dan kemudian berlari keluar dan membawa mobilnya pergi lagi,” tutur pelayan yang lain.
Dia pun melihat sudut tersebut, yang ternyata merupakan perbatasan antara ruang tamu dan ruang tengah, tempat di mana Falcon dan Tuan Harvey berada sebelumnya.
.
.
.
.
Nggak mau spoiler🙈aku terlalu tegang ngetiknya🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1