
“Ini semua karena dia, Kek! Ini semua salahnya!” tuding Jessica.
Liana hanya bisa berdiri diam dengan keningnya yang sudah sangat berkerut. Dia tak tau apa yang sudah terjadi, tapi justru dituduh menjadi penyebabnya.
“Lilian, aku minta kau jelaskan kejadian semalam dengan sejujur-jujurnya,” seru Kakek Joseph dengan menahan amarahnya.
Rahangnya terlihat mengeras, dengan gigi yang terdengar bergemeletuk.
“Aku memang tidak tau apa yang sudah terjadi di sini. Tapi kedatangan ku kemari memang mau membahas masalah semalam,” ucap Liana.
“Sudah jelas yang mengeluarkan ku dari restoran itu kau, Lilian. Kamu yang membuatku malu dan berakhir di luaran seorang diri. Kau yang membuatku seperti ini,” pekik Jessica.
“CUKUP!” bentak Kakek Joseph.
Semuanya seketika diam. Jessica dan Caroline terlihat gemetar. Sedangkan Liana, gadis itu tak sedikit pun terlihat ketakutan.
“Jessica, Kakek sedang sangat kecewa denganmu. Jangan terus-terusan menyalahkan orang lain atas perbuatanmu sendiri. Lilian, cepat ceritakan kejadian sebenarnya!” seru Joseph kepada kedua gadis seumuran itu.
Liana pun menceritakan kejadian yang terjadi di Emerald Hotel sejak awal. Mulai dari Jessica yang datang terlambat, menyindir pakaiannya yang begitu tak senonoh dan bahkan masih melekat ditubuhnya sampai sekarang, serta perlakuan kasarnya kepada Tuan Harvey, yang membuat Liana harus mengusirnya dari sana.
“Aku tidak mungkin membiarkan Tuan Harvey tau siapa dia, dan membuat kerja sama perusahaan batal begitu saja. Maafkan aku, Kek. Karena tindakanku itu, justru berakhir seperti ini,” pungkas Liana.
“Bohong, Kek. Dia bohong,” sanggah Jessica berusaha terus mengelak.
“Di bagian mana aku berbohong, Jessica? Itu semua fakta. Ada Nona Shu juga di sana yang melihat kejadian itu,” elak Liana.
“Kau sengaja melakukannya kan. Kau tidak bilang kalau klien itu adalah seorang pria tua dan membuatku terkecoh. Ini semua hanya akal-akalanmu untuk membuatku semakin buruk di mata kakek. Iya kan!” cecar Jessica.
“Apa perlu aku katakan sampai sedetail itu? Kau bertanya apa klien kita pria atau wanita, bukan kah sudah ku jawab dia adalah seorang pria matang? Aku rasa jawaban seperti itu sudah cukup, kecuali kau memang punya niat lain pada pertemuan semalam. Dan itu semakin jelas jika melihat penampilanmu sekarang bukan?” sanggah Liana.
“Lilian, tolong jangan terus menyudutkan Jessy. Dia baru saja berkumpul dengan kakeknya. Kenapa kau terus-terusan membuat kesan buruk untuknya di depan Tuan Wang?” Caroline maju membela Jessica, dan mencari simpati dari Kakek Joseph.
“Bibi, aku tidak menyudutkan siapapun. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Itu saja. Apa ada yang salah?” sahut Liana.
__ADS_1
“Dasar kurang ajar. Dari awal kau memang tak suka dengan kedatangan ku kemari, karena merasa kalau aku sudah mengambil posisimu selama ini. Benarkan?! Kek, dia itu licik! Aku...,” ucap Jessica.
“CUKUP!” bentak Kakek Joseph mendengar percekcokan di antara ketiga wanita di dalam rumahnya.
Pria tua itu sampai harus memegangi dadanya karena kembali terasa nyeri. Jimmy dengan sigap segera membantu tuannya dan memberikan obat penghilang rasa sakit.
Semua orang diam di tempat masing-masing. Jessica terus menangis di dalam pelukan ibunya yang sudah berada di samping gadis itu.
Sementara Liana, gadis cerdik itu nampak tenang meski hatinya sakit karena tak bisa meluapkan emosinya seperti yang dilakukan Jessica barusan.
Ya. Kau benar, Jessica. Aku marah. Aku benci padamu karena sudah mengambil posisi ku. Tapi, diamku akan menjadi bom waktu untukmu. Kita lihat, berapa lama kau akan tahan dengan semua provokasi ku selama ini. Aku yakin, sebentar lagi kalian akan jatuh ke dalam perangkap ku, batin Liana.
Tangannya mengepal begitu kuat saat hatinya berkata demikian.
Kakek Joseph sudah merasa lebih baik. Jimmy memintanya untuk duduk, namun pria tua itu tak mau menuruti perkataan sang asisten.
“Kemarikan benda itu!” seru Kakek Joseph, di tengah nafasnya yang masih tersengal-sengal.
Jimmy mengambil sesuatu dari salam saku jasnya. Tampak sebuah amplop coklat yang cukup tebal, dan diberikan kepada Tuan Wang.
Keduanya begitu terkejut melihat puluhan lembar foto, yang menunjukkan hampir semua kejadian tadi malam.
Liana pun ikut terkejut dengan semua gambar yang ada di sana. Semua kejadian yang terjadi di hotel terlihat dengan jelas di sana. Mulai dari saat Jessica berdebat dengan Tuan Harvey, sampai dia menarik pergi Jessica dan masuk ke dalam lift.
Dia bahkan tak percaya saat melihat foto Damian yang juga ada di sana, dan masuk ke dalam sebuah kamar bersama sepupunya itu.
Damian? Sejak kapan pria licik itu bersama Jessica? Liana bertanya-tanya dalam hati.
Saat semua orang terkejut dengan lembaran foto itu, Kakek Joseph kembali bersuara.
“Kakek harap, kamu bisa merenungkan kembali kesalahan ya g telah kau perbuat, Nak. Jangan selalu melimpahkan kesalahan pada orang lain. Lilian adalah gadis baik. Dia sudah lama ikut kakek dan tak pernah sekalipun dia menganggap dirinya lebih tinggi dari pelayan-pelayan di rumah ini. Maaf, kakek harus mengambil keputusan tegas. Mulai sekarang, kamu dilarang keluar rumah dengan alasan apapun, sampai kamu menyadari kesalahanmu dan bisa memperbaiki diri. Apa kau mengerti, Jessica?” ucap Kakek Joseph.
Melihat sang putri diam, Caroline pun maju dan berkata mewakili Jessica.
__ADS_1
“Saya akan pastikan dia merenungi kesalahannya, Tuan. Terimakasih telah memberinya kesempatan,” sahut Caroline.
“Ini semua juga salahmu. Selama ini kau yang mendidiknya. Jadi, kau juga harus menerima hukumanmu. Tidak ada lagi belanja online dan memanggil orang untuk membuka salon kecantikan di rumah ini. Paham?!" seru Joseph.
“Ba... Baik, Tuan,” sahut Caroline gemetar.
“Lilian, bawa aku ke atas!” seru Joseph.
Liana pun menghampiri pria tua itu dan memapahnya naik ke atas, menuju ruang istirahatnya.
Sementara Jessica, ia masih cukup terkejut. Pandangannya tertuju pada sebuah potret, di mana Damian terlihat tengah memberikan uang kepada seorang pria, yang berada di dalam bar yang dikunjunginya semalam.
Kurang ajar. Jadi, dia memang sudah merencanakan semua ini? Dasar laki-laki brengs*k! Beraninya kau menjebak ku seperti ini dan berpura-pura menjadi pahlawan, batin Jessica.
Ternyata, pria yang membawa Jessica ke motel dan hendak berbuat jahat padanya, tak lain adalah orang suruhan Damian.
Pria itu sengaja membayar seseorang untuk menjadi penjahat, sementara dia akan bertindak sebagai pahlawan dan mengambil keuntungan dari kejadian tersebut.
Sama seperti yang dulu pernah dilakukannya kepada Liana. Namun, gadis pintar itu justru semakin waspada dan terus menghindari pria licik itu.
.
.
.
.
Hari sabtu gais, dah ya lanjut besok lagi😁othor mau healing biar otak tetep waras, dan bisa kasih kalian lanjutan cerita ini🙏😊
Sambil nunggu besok, gimana kalau coba mampir ke novel receh othor yang lainnya😁kali aja suka gitu🤭
Cek gambar di bawah 👇Mohon dukungannya bestie😘happy weekend end😊🙏
__ADS_1