
Setelah pesta semalam, hari ini merupakan awal baru bagi Liana, yang telah resmi mengumumkan kepada dunia perihal identitas aslinya.
Sepulang dari Grey Town, gadis itu meminta Nine dan Long untuk mengantarkannya ke hotel tempat acara semalam. Dia melupakan ponselnya di ruang tunggu, dan sudah pasti banyak yang mencarinya karena menghilang semalaman.
“Kami akan menunggu di sini,” tawar Nine.
“Tidak perlu. Kalian kembalilah. Terimakasih sudah mengantarku pulang,” sahut Liana.
“Apa kau yakin, Kakak ipar?” tanya Long.
“Ehm! Kakekku juga mungkin masih di dalam, jadi aku tidak akan ke apartemen dulu,” ucap Liana.
“Baiklah kalau begitu. Kami undur diri,” sahut Nine.
Mobil pun melaju meninggalkan area lobi hotel. Setelah kedua pria itu pergi, Liana berjalan masuk dan segera menuju ke kamar yang disewa oleh kakeknya semalam.
Di sana, Liana melihat beberapa anak buah Jimmy nampak berjaga di depan pintu. Salah satu dari mereka melihat kedatangan Liana, dan segera menghampiri gadis itu.
“Nona, Anda dari mana saja?” tanya penjaga itu.
“Maaf, apa kalian mencariku? Apa Kakek di dalam?” tanya Liana.
“Tuan besar mencari Anda semalaman. Dia khawatir terjadi sesuatu kepada Anda setelah semua orang mengetahui identitas Anda,” sahut si penjaga.
“Baiklah. Bawa aku masuk!” seru Liana.
Gadis itu pun berjalan diikuti oleh si penjaga. Penjaga itu mengetuk pintu beberapa kali dan melapor.
“Tuan, Nona Liana telah kembali,” ucapnya sedikit keras dari luar pintu.
Seketika, pintu pun terbuka. Nampak Jimmy keluar menghampiri Liana.
“Nona, kemana saja Anda? Tuan besar menghawatirkanmu. Ayo masuk!” seru Jimmy.
Pandangannya tertuju pada satu titik yang menurutnya sedikit janggal.
Apa itu? Apa mungkin semalam nona bertemu dengan seseorang? batin Jimmy
Liana pun melangkah masuk. Dia melihat sang kakek tengah duduk bersandar di sofa. Matanya terpejam dan wajahnya terlihat kelelahan.
“Apa dia tertidur?” tanya Liana.
“Ya, beliau menunggu Anda semalaman sampai tak mau beristirahat dengan benar. Baru beberapa saat yang lalu beliau terlelap,” ucap Jimmy.
“Maaf, Paman. Aku lupa membawa hand phone. Jadi tidak bisa mengabari kalian semua,” sesal Liana.
“Syukurlah Anda baik-baik saja. Itu yang lebih penting untuk Tuan besar,” sahut Jimmy.
“Baiklah. Dari sini, aku akan menjaga Kakek. Paman, kau bisa beristirahat,” seru Liana.
__ADS_1
“Baiklah. Aku ada di kamar samping. Jika butuh sesuatu, mintalah pada anak buahku atau langsung menemuiku,” ucap Jimmy.
“Baiklah. Terimakasih,” sahut Liana.
Se perginya Jimmy, Liana duduk di samping kakeknya, dan menonton TV sambil menunggu Presdir Wang bangun.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Kakek Joseph menggeliat dan bangun dari tidurnya.
Dia menoleh ke samping dan mendapati sang cucu sudah berada di sana, dengan kondisi baik-baik saja.
“Liana, kau sudah kembali?” tanya Kakek Joseph.
Gadis itu menoleh dan melihat sang kakek telah bangun.
“Maaf, Kek. Semalam aku lupa membawa hand phone. Maaf sudah membuatmu khawatir,” ucap Liana.
Kakek Joseph menegakkan duduknya dan melihat dengan teliti tubuh sang cucu.
“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Kakek Joseph.
“Iya, Kek. Aku tak apa,” sahut Liana.
Kakek pun tersenyum. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah titik yang membuat kekhawatirannya hilang dan berubah menjadi sedikit rasa kesal.
“Apa semalam kau bertemu pujaan hatimu itu?” tanya Kakek Joseph tiba-tiba.
“Kenapa Kakek tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Liana balik.
“Hah... Apa kau tau Kakek begitu khawatir mencari mu? Tapi kau malah... Ah, sudah lah. Hari ini Kakek akan pulang ke Dream Hill. Apa kau mau ikut?” tanya Kakek Joseph.
“Sepertinya aku akan kembali ke apartemen saja, Kek. Lagipula, besok aku sudah harui kembali bekerja,” sahut Liana.
“Baiklah. Berhati-hati. Jaga dirimu baik-baik. Jangan mudah dibodohi oleh laki-laki. Mengerti!” pesan sang kakek.
Liana hanya mengangguk. Gadis itu belum sadar apa yang membuat kedua pria itu terus memperhatikan area sekitar lehernya.
Menjelang sore hari, mereka semua keluar dari hotel dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.
...👑👑👑👑👑...
Keesokan harinya, Liana telah kembali ke rutinitas sehari-harinya. Namun kali ini, dia tak lebih dulu pergi ke area proyek, melainkan pergi ke kantor untuk menghadiri rapat dengan bagian perencanaan mengenai proyek Paradise.
Saat baru saja tiba di lobi kantor, tiba-tiba Liana dihadang oleh dua orang wanita. Mereka tak lain adalah Nona Shu dan Xinbi.
“Kak? Kenapa kalian bisa berada di sini? Apa rapatnya sudah selesai?” tanya Liana polos.
Kedua wanita itu nampak menatap tajam ke arah kedua wanita itu. Kedua lengan mereka terlipat sempurna di depan dada, dengan mata yang seolah memindai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Ayo kita bereskan dia!” seru Xinbi.
__ADS_1
Nona Shu mengangguk. Kedua wanita itu mendekat dan membuat Liana mundur selangkah. Baru saja berbalik hendak kabur, namun kedua wanita itu telah lebih dulu menangkapnya. Mereka memegangi kedua lengan Liana dan membawa gadis itu ke suatu tempat.
“Duduk!” seru Nona Shu saat mereka telah sampai di cafetaria.
Liana hanya bisa tersenyum kikuk melihat kelakuan kedua temannya itu. Dia tak tau maksud dari perbuatan mereka.
Nona Shu dan Xinbi nampak menarik kursi dan duduk mengapit gadis itu. Dan tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi.
“Selamat!”
“Selamat!”
Kedua wanita tersebut memeluk erat Liana. Gadis itu sampai terkejut bukan main karena ulah keduanya yang sempat membuatnya takut.
“Apa begini cara kalian memberikan ucapan selamat?” keluh Liana.
“Lalu bagaimana? Apa sama seperti pria yang meninggalkan bekas merah di leher mu itu, hah?” sindir Xinbi.
Liana pun mengerutkan kening dan menyentuh area lehernya.
“Sepertinya kemarin malam, setelah pesta formal, dia mengadakan pesta sendiri dengan seorang pria. Benar-benar membuat orang iri,” timpal Nona Shu.
“Apa maksud kalian?” tanya Liana bingung.
Kedua wanita itu saling pandang. Nona Shu kemudian mengeluarkan sebuah bedak padat dari dalam tasnya dan mengarahkan cerminnya kepada Liana.
“Lihat sendiri maha karya pangeranmu itu!” ledek Nona Shu.
Liana pun mencoba melihat apa yang dimaksud oleh kedua temannya. Saat melihat tanda merah di lehernya, Liana seketika teringat kembali apa yang sudah ia lakukan bersama Falcon kemarin malam.
Seketika itu juga, wajahnya merona merah karena malu, dan dia berusaha menutupi area tersebut dengan kerah kemejanya.
Xinbi nampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Pakai ini! Atau kau akan malu seharian saat bertemu orang-orang!” seru Xinbi.
Liana pun meraih botol foundation yang diberikan oleh rekannya itu, dan segera berlari ke toilet. Dia merutuki diri sendiri karena tak menyadari tanda merah tersebut, sampai tertangkap basah oleh beberapa orang.
Pasti kemarin Kakek juga melihat tanda ini. Ah... Falcon si*lan! Rutuk Liana dalam hati.
.
.
.
.
Nah lho, pake bawang putih cepet ilang lho neng😅😅😅😅
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘