
Hari berganti. Tak terasa sudah empat hari mereka berada di Empire State dan bekerja di gedung The Palace. Hingga sampai saat ini pun Falcon tak juga menunjukkan dirinya di hadapan Liana.
Hari ini, semua orang diajak melihat lahan dan berpencar untuk melihat sisi potensial dan kekurangan dari setiap bagian tempat yang akan mereka bangun, sehingga nantinya mereka bisa menempatkan setiap unsur dengan baik karena mempertimbangkan lingkungan sekitarnya.
Sebelumnya, Liana yang lebih dulu berkeliling ditemani oleh Falcon, sedikit banyak dia sudah punya gambaran tentang tempat tersebut. Hanya saja, dia tetap membutuhkan bantuan dari timnya, agar bisa mendapatkan informasi yang lebih detail dan teliti sehingga tidak akan ada kejadian seperti saat akan menggarap Golden Hospital.
Mereka berada di lahan tersebut hingga lewat tengah hari. Bahkan untuk makan siang pun, Liana memilih untuk memesan lewat jasa pesan antar.
Hal ini sudah sering ia lakukan bersama timnya, setiap kali memantau jalannya sebuah proyek, namun sudah tentu ini hal yang jarang dilakukan oleh rekan dari The Palace, mengingat pekerjaan mereka yang biasanya berada di dalam ruangan yang nyaman.
“Maaf karena aku meminta kalian makan di tempat kotor seperti ini. Aku rasa, ini lebih efisien ketimbang harus bolak balik ke restoran,” ucap Liana.
“Apa Anda sering malakukan hal ini, Nona Wang?” tanya salah satu tim dari The Palace.
“Aku pernah mendengar jika Anda selalu menemani para pekerja makan siang di area proyek. Benarkah itu?” tanya yang lain.
“Benarkah?” tanya yang lain lagi.
“Terkadang interaksi antara atasan dan bawahan itu perlu, agar terjalin keterikatan emosional antara keduanya. Hal ini lambat laun akan menciptakan sikap loyal dari para pekerja itu, sehingga tanpa aku minta pun mereka akan melakukan yang terbaik. Ini adalah salah satu teori yang aku yakini bisa membuat setiap proyek ku berhasil,” ucap Liana.
“Pantas setiap proyek yang Anda pegang selalu sukses. Ternyata ini rahasianya,” puji tim The Palace.
“Yah, aku pun sedikit banyak mendengar pencapaianmu yang gemilang sebagai seorang arsitek muda,” timpal yang lain.
“Anda benar-benar luar biasa. Saya beruntung bisa bekerja sama dengan Anda,” sahut yang lain lagi.
“Jangan terlalu memuji ku. Timku sangat tahu apa kelemahanku dan siap sedia untuk membantu menyelesaikan masalah yang ku perbuat. Aku tidak sesempurna itu. Lagilula, setiap proyek yang sudah ku tangani, semuanya hanyalah soal membangun sebuah gedung tunggal, sedangkan kali ini adalah mengenai sebuah kawasan hunian elit yang sangat luas dan juga berkelas. Pasti aku harus lebih berhati-hati lagi dan bergantung pada kerja tim ku,” ucap Liana.
__ADS_1
Gadis itu berusaha merendah. Dia tak ingin bersikap jumawa hanya karena prestasi dan namanya yang akhir-akhir ini melambung tinggi, mengingat betapa besarnya cakupan proyek kali ini.
Bukan tak yakin bisa menyelesaikan ini dengan baik, hanya saja dia tak mau orang-orang memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi akan dirinya, sehingga akan memunculkan suatu kekecewaan di kemudian hari jika hasil tidak sesuai yang diharapkan.
Setelah selesai meninjau lokasi, sekitar pukul tiga sore, mereka bersiap untuk kembali ke penginapan, mengingat jam kantor yang hanya tinggal satu jam dan sudah pasti akan habis saat mereka berada di perjalanan.
Namun, ketika telah siap untuk pulang, sebuah mobil sedan mercedes-benz hitam datang ke tempat tersebut.
Seorang pria tinggi kekar dengan balutan kemeja press body, nampak keluar dari dalam mobil tersebut.
Dia berjalan menghampiri Liana yang saat itu tengah membantu merapikan alat-alat.
“Selamat siang, Nona Wang,” sapanya.
Liana pun menoleh dan melihat orang tersebut. Senyum ramah pun muncul di bibir gadis itu.
“Bisa ikut saya sebentar?” serunya.
Liana pun meletakkan alat-alat yang dipegangnya, dan meminta yang lain untuk membereskan benda-benda tersebut.
Sementara Liana, dia berjalan mengikuti Jack, yang tak lain adalah asisten sang pemilik Lunar Group, menuju ke mobilnya.
Jack nampak membukakan pintu mobil belakang, dan meminta Liana untuk masuk ke dalam.
“Ada apa ini, Jack? Kenapa aku harus masuk ke dalam?” tanya Liana.
“Tuan besar memintaku untuk membawa Anda menemuinya,” ucap Jack.
__ADS_1
Liana tampak tak terkejut mendengar perkataan dari sang asisten. Dia seolah tahu urusan apa yang membuat pria tua itu hendak menemuinya.
Wah... Rupanya cukup lama juga pak tua itu mengambil keputusan. Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa ku lakukan, batin Liana.
“Bolehkah aku memberitahu rekan-rekanku dulu. Aku takut mereka khawatir menungguku,” pinta Liana.
Jack pun segera mengiyakan.
Liana berbalik dan berjalan menuju rekannya, dan memberitahukan jika dia harus pergi ke suatu tempat dan mungkin akan kembali larut malam atau esok harinya.
Setelah memastikan mereka tidak akan khawatir dan berpikir aneh-aneh, Liana pun kembali menuju mobil hitam itu dan masuk ke dalam.
Jack melajukan kendaraannya meninggalkan tempat tersebut, menuju ke tempat di mana tuannya sedang menunggu.
.
.
.
.
Wah.... wah... wah... mau ngapain tuh Liana sama kakeknya Falcon? Jadi deg-degan 😱🤭
Tunggu besok lagi yak😉hari ini udah dulu 😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘