
Puas menangis, kini Liana kembali menaiki motor bersama dengan Falcon, menuju ke bagian lain pulau, di mana terdapat tanah lapang yang sangat luas, dengan hamparan buang-bunga liar di sepanjang jalan setapak di sana.
Matanya masih sembab karena menangis terlalu lama, hingga terasa berat dan dia pun kelelahan.
Liana menyandarkan kepalanya di punggung Falcon dan melingkarkan lengan dipinggang pria itu. Terpaan angin begitu terasa di kulit wajahnya yang kaku karena bekas lelehan air mata.
Dia menikmati semua keindahan alami di tempat tersebut dalam diam. hatinya masih kacau dan Liana berusaha untuk memperbaiki moodnya.
Dari jauh, terlihat sebuah mansion besar yang terlihat sudah cukup tua namun masih terawat dengan baik. Tempat itu dikelilingi oleh hutan, mirip seperti mansion keluarga Wang yang terletak di Dream Hill.
Hanya berbeda pada ada tidaknya pagar depan. Karena bangunan ini terdapat di pulau pribadi, sehingga mansion tersebut tak memiliki pagar dan langsung menyatu dengan lingkungan begitu saja.
Tempat tersebut berlantai dua dengan gaya bangunan eropa kuno di pedesaan. Falcon menghentikan motornya tepat di depan tiang besar yang mengapit teras utama.
Namun, Liana tak bergerak dan justru terdengar dengkuran halus dari arah gadis itu. Rupanya Liana kelelahan karena telah menangis selama satu jam lebih.
Falcon memilih untuk terus di posisinya dan tak menganggu tidur gadis itu.
Cukup lama mereka duduk di atas motor, bahkan pekerja dan pelayan di mansion itu pun beberapa kali menghampiri dan mencoba membantu Falcon memindahkan Liana, namun dicegah oleh pria itu.
Hingga akhirnya, Liana menggeliat dan sedikit demi sedikit membuka matanya. Meski masih terasa berat, namun Liana berusaha untuk membuka lebar kedua manik hitamnya.
“Di mana ini?” tanya Liana.
“Kita sudah sampai sejak tadi. Turunlah! Pinggang ku sakit karena duduk terus seperti ini dari tadi!” seru Falcon.
Liana baru menyadari jika dirinya tertidur sambil memeluk pinggang Falcon di atas motor. Dia pun buru-buru mengurai pelukannya dan turun dari atas si roda dua itu.
Falcon pun turun dan berjalan menuju ke pintu masuk. Liana masih terus memperhatikan sekitarnya dan lagi-lagi dia dibuat takjub dengan apa yang lihatnya.
“Apa kau mau di sana terus? Sebentar lagi gelap. Apa kau mau dimakan beruang?” teriak Falcon.
Liana pun seketika berlari ke arah pria karena takut dengan perkataan Falcon tadi.
“Benarkan di sini ada beruang?” tanya Liana terlihat celingukan.
“Kenapa? Kau takut?” tanya Falcon.
“Aku? Tidak. Cuma tidak suka dengan beruang saja,” elak Liana.
Falcon hanya tersenyum tipis melihat tingkah Liana, yang masih saja keras kepala dan tidak mau kalah.
Falcon mengetuk beberapa kali dan seketika pintu terbuka. Dua orang pelayan membukakan pintu besar berdaun ganda dan mempersilakan Falcon serta Liana untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Saat pertama kali melangkah masuk, sebuah ruang tamu besar bergaya Eropa klasik begitu mendominasi. Terdapat pintu besar yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tengah.
Ruang tengah bergaya lebihmodern, di mana terdapat pintu samping yang berbatasan langsung dengan kolam renang pribadi serta tempat bersantai.
Masuk lebih dalam ada meja makan yang berseberangan dengan dapur. Di antara ruang tengah dan dapur, terdapat tangga ke atas di mana kamar tidur untuk penghuni rumah berada.
Falcon telah memerintahkan pria-pria yang ditemuinya saat baru turun dari helikopter, untuk menyiapkan sebuah kamar di lantai dua yang akan digunakan oleh Liana. Kini, keduanya pun telah berada di depan kamar tersebut.
Falcon membuka pintu kamar itu, dan berdiri di depannya.
“Masuklah. Malam ini kau bisa istirahat di sini. Besok pagi, aku akan ajak kau jalan-jalan di sekitar, dan sorenya baru kita kembali ke pulau utama,” seru Falcon.
Liana mendekat dan melihat ke dalam. Terasa sekali nuansa klasik yang begitu kental. Bahkan tempat tidurnya pun mirip seperti tempat tidur seorang putri bangsawan.
“Wahh. Kamar siapa ini sebelumnya? Apa kau pernah membawa seorang wanita tinggal di sini?” tanya Liana.
“Sudah, tidak usah cerewet. Masuk lah dan bersihkan dirimu. Pelayan akan memanggilmu saat makan malam telah siap,” seru Falcon.
“Baiklah. Baiklah. Tapi, aku tidak bawa pakaian ganti. Sangat tidak nyaman jika setelah mandi masih pakai pakaian kotor. Apa lagi ini baju dari kemarin,” kelihatan Liana.
“Pakailah baju yang ada di lemari. Mungkin salah satunya ada yang pas untukmu,” sahut Falcon.
“Baiklah. Aku masuk dulu,” ucap Liana.
Kamar Liana berada di sayap kiri sedangkan ruangan yang ditujukan Falcon ada di sayap kanan paling ujung.
Pria itu nampak menarik nafas panjang, sebelum akhirnya membuka pintu dengan sebuah kunci yang selalu dibawanya kemanapun, dan menghilang di balik pintu tersebut.
...👑👑👑👑👑...
Seusai berendam air hangat cukup lama dan membersihkan diri, Liana keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe yang membalut seluruh tubuhnya. Ia nampak mengikatkan tali pinggang, agar benda lembut itu tak terlepas dan memerlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping namun berisi.
Dia berjalan masuk ke dalam walk in closet yang ada di kamar tersebut, dan membuka lemari pakaian yang ada di sana.
Liana melongo melihat banyaknya pakaian wanita dengan berbagai model dan warna, lengkap dengan jejeran sepatu yang tertata rapi di bagian bawah lemari.
“Waaaahhh.... Siapa perempuan yang sering datang kemari bersama pria itu? Tidak mungkin kan dia mengoleksi pakaian wanita sebanyak ini hanya untuk sekedar hobi,” gumam Liana bergidik membayangkan hobi aneh dari Falcon.
Dia pun menepis pikiran konyolnya dan memilih satu yang dirasanya pas dan nyaman untuk ia pakai. Semuanya adalah gaun, sedangkan Liana begitu jarang memakai pakaian jenis itu ketika berada di rumah.
Pilihannya pun jatuh pada sebuah gaun merah panjang dengan lengan panjang, dan corak floral halus serta kerah model V bertali.
Saat ia baru selesai berganti pakaian, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Gadis itu pun berjalan menghampiri pintu dengan sebuah handuk yang masih melilit di kepala.
__ADS_1
“Maaf, Nona. Makan malam sudah siap. Tuan muda sudah menunggu Anda di bawah,” ucap seorang pelayan.
“Baiklah, aku akan turun lima menit lagi,” ucap Liana sopan.
“Baik,” sahut si pelayan.
Pelayan tersebut pun pergi meninggalkan Liana. Gadis itu kemudian mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu menyisirnya dengan rapi.
Setelah itu, ia memakai krim wajah dan bedak yang ada di dalam tas, tak lupa juga sedikit lipstik. Saat merasa sedikit lebih baik, Liana pun keluar dan turun ke meja makan yang ada di lantai bawah.
Bgaian bawah gaunnya berkeriap saat menuruni tangga. Pandangannya tertuju pada meja makan di mana sudah ada seorang pria, dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang tanpa kerah, celana hitam, serta rambut yang disisir ke belakang, sedang duduk di depan meja makan yang dihiasi banyak lilin putih.
Pencahayaan sengaja dibuat temaram, agar suasana ditempat itu lebih misterius dan romantis.
“Apa kita akan candle ligh dinner?” tanya Liana yang baru saja menginjak anak tangga paling bawah.
Falcon mengalihkan pandangannya ke arah tangga, di mana Liana tengah berjalan menghampirinya.
Matanya seolah terkunci saat melihat Liana, yang malam itu menggunakan gaun panjang dengan polesan make up tipis dan rambut yang setengah basah menjuntai bebas begitu saja.
Dia kemudian meletakkan gelas sampanye yang dipegangnya dan berdiri menyambut kedatangan Liana.
“Maaf, aku harus mengambil salah satu bajumu,” ucap Liana.
Falcon menarikkan sebuah kursi untuk Liana dan membiarkan gadis itu duduk di sana.
“Itu bukan milikku. Tidak perlu sungkan. Pakai saja selama kau berada di sini,” sahut Falcon.
“Oh, baiklah. Terimakasih kalau begitu,” ucap Liana.
Bukan milik nya? Mungkin benar dugaan ku kalau ini adalah milik kekasihnya yang pernah tinggal di sini, batin Liana.
Entah kenapa ada rasa panas di dalam dadanya saat memikirkan hal itu. Bahkan sekujur tubuh Liana mendadak bagai mendidih.
.
.
.
.
Hei, bestie 😊othor update pagi nih😁kasih vote senin dong😄tetep malak ye🤭kopi ma kembang juga sini😊
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘