
Beberapa hari yang lalu, kabar tentang masalah dengan yayasan Xing Ping telah sampai ke telinga Kakek Joseph. Orang tua itu meminta Jimmy untuk membantu Liana membereskan semua rintangan yang menghadangnya.
Sejak hari pertama masalah itu mengemuka, Kakek Joseph meminta Jimmy untuk langsung bertindak. Namun, sang asisten membujuk tuan besarnya, agar memberi sedikit waktu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Mungkin sebaiknya, kita beri Nona kesempatan untuk mengatasi masalah ini. Saya paham perasaan Tuan besar tentang masalah ini. Ditambah, banyak omongan miring yang terus menyerang ketidak mampuan Nona dalam mengatasi proyek yang bahkan belum terlaksana ini. Hanya saja, sesuai sifat Nona yang saya tau, dia tidak akan suka jika masalahnya dicampuri oleh orang lain, sekali pun itu keluarganya sendiri,” ucap Jimmy.
“Kalau aku tahu sejak awal jika yayasan itu milik si Jung si*lan itu, aku tidak akan meminta Lilian untuk mengambilnya. Informasi belakangan ini sangat minim sekali ku dapatkan,” keluh Kakek Joseph.
“Maafkan saya, Tuan. Ini semua tak lepas dari ketika mampuan saya mendidik anak buah, sehingga bisa sampai kecolongan dua kali seperti ini,” ucap Jimmy.
Pria itu merasa sangat tidak beguna karena sudah mengecewakan beberapa kali, dan bahkan sempat membuat kekeliruan tentang siapa cucu sang tuan.
Joseph paham jika itu semua bukanlah sepenuhnya salah Jimmy. Meski dia sangat ingin mengetahui siapa dalang di balik semua kekacauan yang timbul di keluarga Wang, namun Sid yang menjadi kunci terkahir memilih setia pada tuannya yang lain.
Melihat sifat Liana yang keras kepala dan sombong, Joseph seolah melihat dirinya saat muda dulu. Seulas senyum tergambar di bibirnya, namun sesaat kemudian senyum itu berubah getir.
“Kau benar. Gadis itu memiliki sifat yang sama seperti ku. Harusnya aku lebih mengerti apa yang dia inginkan. Baiklah, kita beri dia waktu tiga hari sesuai kesepakatan dengan yayasan itu. Jika setelah tiga hari tidak ada hasil, maka kita yang harus bertindak,” ucap Kakek Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy
Kakek Joseph pun memutuskan untuk mempercayai Liana dalam mengurus masalahnya dengan yayasan Xing Ping.
...👑👑👑👑👑...
Kini, tiga hari telah berlalu, Liana yang saat itu sedang berada di cafetaria, mendapat sebuah panggilan dari seseorang.
Satu sudut bibirnya tarangkat, kala melihat si pemanggil di layar ponselnya. Dia menunjukkan benda tersebut ke hadapan Nona Shuyang saat itu sedang bersamanya.
“Angkatlah! Selesaikan urusanmu,” seru Nona Shu.
Liana pun menggeser tombol hijau ke kanan, dan menempelkan benda tersebut ke depan telinga.
“Hallo,” sapa Liana.
Gadis itu nampak mendengarkan perkataan dari seberang sambungan dengan seksama. Sekilas, senyum liciknya terlihat dan itu membuat Nona Shu penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh dua orang tersebut.
“Baiklah kalau begitu. Saya tunggu email dari Anda, dan setelah itu akan saya bicarakan kembali dengan pihak terkait,” ucap Liana.
Dia kembali mendengarkan perkataan dari lawan bicaranya di ujung sambungan.
“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih banyak. Semoga harimu menyenangkan, Tuan,” ucap Liana lagi.
__ADS_1
Sambungan pun terputus. Liana meletakkan ponselnya ke atas meja dan kembali menikmati minumannya. Cerah jelas terlihat di wajah gadis itu. Dia bahkan minum sambil menggoyangkan kakinya di bawah meja.
“Ku tebak, kau berhasil mengurus mereka. Benar kan?” tanya Nona Shu.
“Kurang lebihnya seperti itu. Aku tinggal menunggu email dari mereka, lalu selanjutnya ku serahkan pada Kak Xinbi. Semoga proyek ini bisa segera berjalan dan aku bisa pergi ke Empire State untuk menemui Tuan Harvey,” jawab Liana.
“Yah, I hope so,” sahut Nona Shu.
Keduanya pun kembali menikmati minuman mereka masing-masing.
Tak berselang lama, surel dari yayasan Xing Ping masuk ke alamat email Liana. Gadis itu pun pamit kepada Nona Shu untuk segera mengurus maslaahnya ini.
Dia bergegas pergi ke bagian keuangan di mana Xinbi berada. Dia melaporkan apa yang disampaikan ketua yayasan Xing Ping kepadanya, dan memperlihatkan email dari mereka.
“Bagus. Sekarang tinggal serahkan ini ke lawyer untuk di tindak lanjuti. Setelah mendapat kabar dari penasehat hukum, baru kita bisa melanjutkan proyek ini. Kerja bagus, Lilian. Seperti biasa, kau selalu bisa diandalkan,” ucap Xinbi.
“Wah, apa aku benar-benar sehebat itu? Hari ini, kau orang ke dua yang memuji ku lho, Kak,” sahut Liana.
“Jangan besar kepala. Dasar gadis licik,” sindir Xinbi.
Liana hanya terkekeh kecil mendengar perkataan rekan seniornya itu. Setelah selesai melapor, dia hendak kembali ke ruangannya. Namun di depan lift, dia tak sengaja bertemu dengan Jimmy.
Rasa canggung kembali menghampiri keduanya. Namun, gadis itu berusaha untuk bersikap biasa saja. Liana pun melangkah mendekat dan berdiri di samping pria yang dulu pernah menabraknya di jalanan Metropolis.
“Baik, Nona. Saya dengar..,” sahut Jimmy.
“Bisa tidak kita bicara seperti biasa saja? Aku tidak mau ada perlakuan berbeda dari sebelumnya, hanya karena sekarang Paman sudah tau siapa aku,” sela Liana.
Gadis itu menoleh dan terseyum hangat kepada pria, yang dulu pernah menaruh curiga padanya, namun tak berani bertindak di belakang tuan besarnya.
Hal itu menjadi penyesalan terbesarnya pada gadis itu, karena telah menyakiti perasaannya. Terlebih, membawa masuk penipu yang mengaku sebagai dirinya.
Pintu lift terbuka, namun keduanya tak segera masuk ke dalam.
“Apa kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu minum kopi di bawah. Apa boleh?” tanya Jimmy.
Liana tersenyum dan mengangguk mengiyakan ajakan dari asisten kakeknya. Mereka pun menunggu lift selanjutnya yang akan membawa keduanya turun.
Di saat menunggu, sebuah dering telepon masuk ke dalam ponsel milik Jimmy. Pria itu pun mengangkatnya saat itu juga di depan Liana.
“Halo, ada apa?” tanya Jimmy.
__ADS_1
Tampak pria paruh baya itu mendengarkan orang yang sedang berbicara dengannya dari seberang sambungan. Dia nampak tersenyum tipis, dan menoleh sekilas ke arah gadis di sampingnya.
“Baiklah. Terimaksih infonya,” ucap Jimmy.
Panggilan pun berakhir. Dia kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jasnya.
“Kau memang selalu membuat orang bangga,” ucap Jimmy.
Liana menoleh dan mengamati ekspresi Jimmy. Nampak pria itu tersenyum ke arahnya. Liana mengangkat sebelah alisnya karena perkataan pria itu tadi.
“Apa Paman sedang memujiku?” tanya Liana.
“Memang siapa lagi yang ada di sini?” tanya Jimmy balik.
Dia menoleh ke kanan dan kiri. Memang tak ada siapapun lagi kecuali mereka berdua.
“Wah, ada apa dengan hari ini? Paman, apa kepalaku sedang membesar?” tanya Liana.
Jimmy mengerutkan keningnya bingung. Dia tak paham maksud dari perkataan Liana.
“Tidak. Memang kenapa?” tanya Jimmy.
“Sudah tiga orang yang memuji ku hari ini. Aku benar-benar takut kalau lama-lama aku jadi besar kepala,” ucap Liana.
Jimmy tergelak mendengar perkataan Liana. Gadis itu pun ikut tertawa karenanya. Suasana yang sempat kaku, kini perlahan mencair. Meski begitu, Liana masih ragu untuk bicara dengan kakeknya secara langsung.
Kekecewaannya akan sikap Joseph masih begitu membekas di hati gadis tersebut. Meski selalu terlihat ceria, namun luka itu begitu menyakitinya.
Paman mungkin bertindak karena menghormati Kakek sebagai atasannya. Tapi Kakek, aku masih tak bisa mengerti kenapa dia begitu menyangkalnya, batin Liana.
.
.
.
.
Nungguin yah? 🙏😅maaf bestie, ada urusan dunia nyata yang mengharuskan aku meninggalkan sejenak dunia halu ini🙏🙏🙏
Tapi jangan khawatir, aku tetep usahain sehari up 3 bab kok, kecuali sabtu-minggu dan tgl merah pastinya 😁
__ADS_1
tetep dukung cerita ini ya bestie😊🙏
Jangan lupa like, komentar, favoritkan, kasih kembang, kasih kopi yang banyak sini😘