
...Sebelum lanjut baca, othor cuma mau ngucapin untuk bestie muslim seluruh dunia, khususnya yang di Indonesia, ...
...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1443 H, MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATIN 🙏...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...👑👑👑👑👑...
“Apa karena aku?” teriak Liana.
Falcon menghentikan langkahnya, akan tetapi, pria itu belum mau berbalik melihat ke arah gadis tersebut.
“Apa semua karena aku? Apa mereka mengancammu dengan nyawaku? Apa karena itu kau jadi mendiami ku? Apa kau marah karena hal itu? Karena aku sudah menjadi borgol kakekmu,” cecar Liana.
Falcon nampak mengepalkan tangannya yang berada di alam saku. Dia mencoba menahan emosinya agar tak meledak di depan gadis itu. Memang tak dipungkiri, semua yang terjadi kali ini adalah karena Liana.
Secara tidak langsung, gadis itu lah yang menyebabkan Falcon harus mau kembali ke keluarga yang telah membuangnya. Namun, pria itu tak mampu mengakui semua itu. Bagaimana pun juga, itu pasti akan menyakiti Liana.
“Kenapa tidak menjawab? Kenapa diam saja? Apa benar ini semua karena aku? FALCON, JAWAB!!” bentak Liana.
Falcon mengangkat wajahnya namun belum mau berbalik menatap gadis itu.
“Sudah ku bilang kau sebaiknya istirahat. Jangan berpikir macam-macam,” seru Falcon.
“Apa karena hal ini, kau jadi membenciku? Apa karena ini, kau seolah tak ingin lagi melihatku? Apa setelah hari ini, kau juga tak mau menemuiku? Kau tau, aku orang yang tidak pernah takut apapun. Maut berkali-kali datang menyapaku, tapi aku masih bisa berdiri tegap di atas kedua kakiku. Jika memang ini semua karena aku, baiklah, aku akan bicara langsung pada kakekmu itu,” ucap Liana.
Gadis itu melempar handuk yang sedari tadi melingkar di pundaknya. Dia berjalan menghampiri Falcon, dan melewatinya begitu saja. Liana seolah hendak pergi dari sana dan melakukan apa yang baru saja dikatakannya.
Seketika itu juga, Falcon mengejarnya dan menarik lengan Liana. Gadis itu sampai terbentur ke tembok karena kerasnya tarikan Falcon.
“LEPAS!” seru Liana.
Matanya nyalang melihat ke arah Falcon. Dia terus meronta mencoba lepas dari cengkeraman sang pangeran terbuang.
“Apa kau tidak bisa cukup diam dan mendengar perkataanku? Apa kau harus terus membuatku khawatir?” cecar Falcon.
“Aku hanya ingin bertanggung jawab. Siapa yang mau hidup terkurung dalam sangkar emas? Aku tak mau menjadi penyebab kesialan seseorang. Lepas! Biarkan aku menemui kakek mu,” sanggah Liana.
__ADS_1
“LILIAN, CUKUP!” bentak Falcon.
Suaranya menggelegar hingga membuat Liana bungkam seketika. Gadis itu terkejut karena teriakan Falcon yang begitu keras.
Pria itu nampak tertunduk. Dia mencoba mengatur nafas dan emosinya. Liana terus menatapnya dalam diam. Tangannya tak lagi meronta. Namun, Falcon yang perlahan melepaskan cengkeramannya dari Liana.
“Aku mohon tetaplah tenang. Biarkan aku selesaikan sendiri masalah ini. Aku tak mau melihat orang yang berarti bagiku berada dalam bahaya. Aku tak sanggup kehilangan lagi. Aku mohon” ucap Falcon lirih.
Liana begitu terkejut dengan ucapan samar dari pria yang terlihat begitu kuat di matanya. Dia tak menyangka jika seorang Falcon memiliki sisi lemah. Ini kedua kalinya dia melihat pria itu mengiba di depannya.
Liana selalu tak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat melihat Falcon lemah. Secara tak sadar, tubuhnya bergerak sendiri seolah tak ingin lagi dikekang oleh egonya.
Tangannya terulur, dan menyentuh kedua pipi pria itu. Terasa basah di sana. Hati Liana semakin sakit mendapati pria itu tengah menangis.
Dengan lembut, ia menyeka lelehan bening di wajah Falcon dengan ibu jarinya. Hal itu membuat sang pria perlahan mengangkat wajahnya, dan dengan mata yang telah merah menatap mengiba kepada Liana.
“Apa aku berharga untukmu?” tanya Liana.
Kali ini, dia bertanya menggunakan pikirannya. Meski awalnya dia bergerak menggunakan insting, namun kali ini dia mencoba untuk mencari jawaban atas kegundahannya selama beberapa hari ini.
Kedua mata mereka seolah mematri. Falcon diam. Dia tak mampu menjawab pertanyaan Liana. Gemuruh di dadanya semakin kencang seolah ingin meledak.
“Apa aku di matamu?” tanya Liana lagi.
Kali ini, dalam diamnya, Falcon meraih pinggang Liana dan membuat jarak mereka merapat tak berjarak. Dengan perlahan, dia memajukan wajahnya mendekat ke Liana.
Sapuan nafas hangat menerpa wajah mereka. Tidak hanya kecupan, kali ini mereka benar-benar berciuman. Bibir mereka saling memagut dan menyesap, mereguk semua kenikmatan yang mereka rasakan.
Gigitan kecil terus menyerang bibir Liana, membuat gadis yang masih terasa kaku berciuman itu pun membuka mulutnya lebar-lebar.
Lidah Falcon masuk menerobos barisan gigi yang putih, mengajak Liana menari dan saling bertukar saliva.
Jemari Liana masuk ke celah rambut belakang Falcon, seraya meremaaas bagian itu, menekan semakin dalam dan rapat bibir keduanya.
Sementara Falcon, tangannya tak bisa lagi diam di tempat. Dia mengusap lembut punggung Liana, dan sesekali memberikan remaaasan di bokong gadis itu. Mengalirkan gelenyar-gelenyar yang bak sengatan listrik di sekujur tubuh gadis itu.
Dia menaikkan kaki Liana satu persatu agar melilit di pinggangnya, dan mengangkat gadis itu menuju ranjang tanpa melepaskan pagutan keduanya.
Sesampainya di sana, Falcon menjatuhkan Liana dengan dia yang mengungkungnya di atas. Pagutan mereka makin memanas.
Tangannya tak lagi bisa dikendalikan. Falcon mulai meraba dan mengusap lembut gundukan sintal dari luar lapisan kaus yang dikenakan Liana. Remaaasan-remaaasan kecil membuat gadis yang berada di bawahnya melenguh di sela pagutannya.
Pria itu melepas bibir Liana, dan turun menyerang dagu dan berlanjut ke leher jenjang gadis itu. Gigitan kecil mendarat di sana, dan meninggalkan bekas kemerahan yang jelas tercetak di atas kulit putihnya.
__ADS_1
Dia menjilat dan mengecup bagian itu membuat Liana semakin terbuai. Tangan Falcon semakin turun, dan berusaha masuk ke balik kaus Liana. Namun, tiba-tiba tangan Liana menahan gerakan pria itu.
Falcon pun mengangkat wajahnya yang sedari tadi terbenam di ceruk leher gadis itu. Dia menatap wajah Liana yang memerah, matanya terlihat sayu dan nafasnya tersengal-sengal.
Dia menggigit bibir bawahnya sambil menggelengkan kepala pelan.
“Maaf,” ucapnya lirih.
Falcon menarik kembali tangannya. Dia turun dari atas gadis itu, dan berbaring di samping Liana. Dia menarik gadisnya untuk masuk ke dalam pelukan. Dengan lembut, Falcon mengecup puncak kepala Liana sambil mencoba meredam gairah yang sempat memuncak tadi.
“Maaf,” ucap Liana lirih.
Tangannya masih menahan dada Falcon. Perasaannya tak karuan. Tak dipungkiri dia menginginkan hal lebih. Namun di sisi lain, dia masih takut untuk melangkah lebih jauh, dan terlibat komitmen dengan lawan jenis.
Liana bisa mendengar degupan jantung Falcon yang begitu kencang. Dia merasa bersalah karena sudah memancing hasrat pria itu.
“Maaf,” ucapnya lagi.
“Tak apa. Aku mengerti, dan aku tak akan pernah memaksamu. Aku akan menunggumu sampai kau mau menyerahkan dirimu padaku,” sahut Falcon.
Pria itu menjauhkan sedikit wajahnya, agar bisa melihat wajah gadis yang kini berbaring di sisinya.
“Jika saat itu tiba, Apakah kau mau menikah denganku?” tanya Falcon.
.
.
.
.
Uuuuuuu.... so sweet banget nggak sih😍🥰karena udah lebaran, jadi aku up pagi 🤭
othor juga mau so sweet ama bestie semua, karena ini waktunya pengumuman pemenang even minggu pertama 🥳🥳🥳🥳🥳🥳
cek gambar di bawah 👇
Selamat untuk tiga teratas👏👏👏👏
Hari ini, event minggu kedua resmi di buka ya bestie 🥰 yuk kasih terus dukungan kalian buat novel ini😘 pengumuman pemenang seperti biasa akan diumumkan di hari senin minggu berikutnya.
__ADS_1
untuk pemenang event minggu lalu, silakan kirim nomor ponsel kalian, karena othor akan bagikan hadiah pulsa 25k nya😉 ditunggu ya 👍
yang lain, ayok masih ada kesempatan minggu depan🙏