
“AWAS!” pekik Liana.
DOOOOR!!!
Sebuah suara tembakan terdengar. Falcon yang melihat gadisnya menghambur ke arahnya, dan menghalangi arah todongan pistol Henry pun seketika terkejut. Begitupun dengan Peter yang melihat putrinya melompat begitu saja demi melindungi kekasihnya.
Semua melihat ke arah Liana, namun gadis itu tak merasakan apapun pada tubuhnya. Dia pun berbalik dan kembali merentangkan tangan di depan Falcon.
Namun siapa sangka, justru Henry lah yang tumbang. Dia terjatuh dengan luka tembak di dada kirinya. Semua orang pun menyadari jika tembakan bukan berasal dari pria kejam itu. Mereka pun kemudian menoleh dan melihat ke arah datangnya suara tembakan.
Di sana, tampak seorang wanita yang berdiri di depan pintu sambil mengangkat tembakan dan mengarahkannya ke arah Henry.
Sang wanita berjalan ke arah Henry. Pria yang kini tengah terkapar, mengerang kesakitan dan mencoba melihat siapa yang telah menembaknya.
“Alice... Kau... Kenapa? Kenapa?!” tanya Henry di tengah erangannya.
“Mungkin kau lupa sesuatu. Sejak awal, aku adalah orang Ketua Jung. Saat kau mengkhianatinya, maka sudah tugasku untuk membereskan mu,” ucap Alice datar.
Ekspresi dingin itu benar-benar terlihat di wajah wanita yang sudah lama hidup di dunia bawah, dan banyak mengikuti peperangan antar geng.
Kedekatannya dengan Henry selama ini seolah tak ada arti baginya, selain suatu hubungan antar rekan kerja.
Dia kembali mengangkat senjatanya dan mengarahkannya tepat ke kepala Henry. Pria itu sudah tak bisa bergerak lagi.
__ADS_1
Sebuah tawa getir terdengar dari pria itu.
“Kenapa? Kenapa sampai akhir aku tak bisa memiliki teman-teman yang setia seperti Alex? Ku kira, kau adalah satu-satunya orang yang memahami ku, tapi kau sama saja seperti yang lain. Kau hanya menganggap ku seperti anjing ketua,” ucap Henry.
“Itu semua karena sejak awal kau tidak pernah memperlakukan kami sebagai teman. Kau selalu bersikap kejam saat berada di depan semua orang. Demi kerjasama kita selama ini, aku akan membuat mu cepat mati dan tidak perlu merasakan sakit terlalu lama,” ucap Alice.
Henry tertawa getir. Suaranya semakin keras dan menggema di seluruh ruangan. Namun, sebuah letusan senjata membungkam pria itu selamanya.
Falcon menarik Liana masuk ke dalam pelukannya, dan menghalangi gadis itu menyaksikan pembunuhan Henry.
“Jangan lihat! Itu sangat mengerikan,” ucap Falcon.
Liana pun hanya diam. Dia tak tahu harus merasa seperti apa untuk saat ini.
“Apa yang sudah terjadi?” tanyanya.
Dia nampak terengah-engah saat sampai di sana. Matanya melihat jika Henry telah tewas dan Amber terluka di tangan dan kakinya.
Alice berbalik menatap ke arah Falcon.
“Sejak awal, ketua tidak pernah menargetkan kalian. Semua ini ulah Henry. Selebihnya, kau tanyakan saja pada adik Long itu,” ucap Alice.
Falcon dan Liana pun menoleh ke arah pintu, di mana sudah berdiri Q yang baru saja datang secepat yang ia bisa.
__ADS_1
Alice berjalan menuju pintu dan berhadapan dengan Q.
“Aku sudah melakukan tugasku. Bereskan sendiri semua kekacauan di sini. Aku harus segera kembali ke markas,” ucap Alice.
“Baiklah. Terimakasih, Alice,” ucap Q.
Setelah itu, Alice pun menarik pasukannya dan membiarkan pasukan Henry yang mati di sana, untuk diurus oleh anak buah Falcon.
Tak berselang lama, suara sirine polisi mendekat ke arah menara mercusuar.
“Aku sudah melakukan sesuai perintah mu, Kakak ipar,” ucap Q.
“Kerja bagus,” sahut Liana.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘