
“Cih! Memang siapa yang mau menerimanya?” tepis Kakek Joseph.
“Aku. Aku mau menerimanya. Lagipula, bukankah bagus bisa memiliki cucu menantu yang kaya seperti itu, hah,” goda Liana.
Gadis itu merangkul lengan kakeknya, yang sedari tadi terus sibuk membolak balikkan halaman surat kabar.
“Apa maksudmu bagus?” tanya Kakek Joseph tak acuh.
“Eih... Ayolah, Kek. Dia adalah Tuan muda ke lima keluarga Harvey. Cucu laki-laki satunya Tuan Bob Harvey yang akan mewarisi posisinya di puncak Lunar Group. Akan sangat menguntungkan jika kita bisa memonopoli semua proyek yang akan mereka adakan,” rayu Liana.
“Ehem... Baiklah. Kalau begitu, cepat buat aku kaya dengan memanfaatkan tuan muda itu, dan satu lagi, cepat buatkan aku cicit yang lucu. Kalau perlu dua sekaligus,” sahut sang kakek.
Seketika, pipi Liana merona saat sang kakek menyinggung masalah anak. Dia pun memukul pelan lengan kakeknya karena tersipu malu.
“Apanya yang cicit? Aku belum berpikir sampai sana,” gumam Liana.
Kakek Joseph pun menoleh dan melihat bahwa wajah Liana telah merah semerah buah tomat. Dia pun tergelak melihatnya.
Kemudian, dari arah depan, nampak pelayan membukakan pintu dan terlihatlah sosok tampan yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Pria itu pun melangkah ke arah ruang tengah, di mana sang empunya rumah berada.
“Selamat siang, Tuan Wang,” sapa Falcon.
“Selamat siang. Apa kau mau membawa pergi cucuku?” tanya Kakek Joseph tak acuh.
__ADS_1
“Kakek, sudah ku bilang tak usah memasang wajah mengerikan seperti ini. Kau sangat tidak cocok bersikap seperti itu,” sela Liana.
“Ish! Dasar anak nakal. Sudah cepat pergi. Anak muda, jaga cucuku yang berharga ini dengan baik. Mengerti,” seru Kakek Joseph.
“Baik, Tuan. Kalau begitu, kami permisi,” sahut Falcon.
Liana mengecup sekilas pipi sang kakek, dan kemudian berjalan ke arah kekasihnya. Dia merangkul lengan Falcon,dan menggelayut manja di sana.
“Kakek, kami pergi dulu. Jangan rindukan aku ya,” ucap Liana.
Keduanya pun menghilang di balik pintu rumah.
Saat pasangan itu telah pergi, Kakek Joseph nampak meletakkan koran yang sedari tadi berada di tangannya ke atas meja. Dia pun melepaskan kaca mata bacanya dan menyandarkan tengkuknya ke sofa.
“Lihat putrimu, Nak. Dia sudah dewasa. Dia bahkan sudah memiliki kekasih. Andai kau masih hidup, saat ini mungkin kau juga akan ikut bahagia bersama dengannya, menjadi tempat berbagi cerita dan semua yang dia rasakan,” gumam Kakek Joseph.
...👑👑👑👑👑...
Setelah pergi dari rumah Presdir Wang, Falcon melajukan mobilnya menuju ke arah kota Golden City.
“Kita mau kemana dulu?” tanya Falcon.
“Aku ingin melihat kondisi ayahku. Kudengar, dia sudah dipindahkan ke rumah sakit pusat Golden City. Begitu juga dengan Kak Ella,” jawab Liana.
“Setelah itu?” tanya Falcon.
__ADS_1
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Liana.
“Suatu tempat?” tanya Falcon.
“Rahasia. Kau akan tau nanti. Tapi sebelum itu, aku ingin pergi ke penjara. Bagaimana pun juga, aku ingin melihat bagaimana menderitanya wanita itu di sana,” ucap Liana
“Baiklah. Tapi, apa imbalan ku seharian ini menemanimu berkeliling?” tanya Falcon.
“Bagaimana kalau makan malam romantis?” tawar Liana.
“Setuju,” sahut Falcon.
Keduanya pun saling melempar senyum, dan mobil pun melaju di jalanan bukit pinus Dream Hill.
.
.
.
.
Hari ini sekian dulu bestie 🥰besok lanjut lagi oke😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘