Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Bianglala


__ADS_3

“Sepertinya kau harus berhenti menonton drama dan film. Otakmu itu jadi terlalu paranoid,” ucap Falcon.


Pria itu kembali meraih tangan Liana, dan kali ini dia merangkul pundak gadis itu dengan lembut.


“Ayo naik! Kau tidak perlu takut selama ada aku di sampingmu,” seru Falcon.


Pria itu berusaha meyakinkan Liana agar mau naik ke dalam bianglala besar itu. Sejenak Liana mendongak ke atas seolah mengukur ketinggian benda tersebut dan kencangnya angin di atas sana.


Namun, Falcon mengguncang pelan pundak gadis itu, seolah meyakinkan Liana agar mau ikut dengannya naik.


Akhirnya, meski takut, Liana pun ikut naik ke wahana tersebut. Gondola mulai berderap naik perlahan. Liana duduk di seberang Falcon dengan badan yang nampak tegang.


Dia bahkan tak berani melihat sekitar dan terus menunduk ke bawah memandangi kakinya.


Falcon merasa kasihan dengan Liana, namun ada sesuatu yang ingin dia berikan pada gadis itu di tempat tersebut.


Dia pun mencoba menenangkan Liana dengan menggenggam tangannya lembut, dan membuat Liana yang sedari tadi menunduk, kini mengangkat wajahnya.


“Apa masih lama?” tanya Liana.


“Lumayan,” sahut Falcon.


Gerbong semakin naik, dan hembusan angin semakin terasa kencang, hingg membuat benda itu terasa bergoyang.


“Ini lebih seram dari pada film horor,” ucap Liana.


Falcon hanya bisa menahan senyumnya melihat gadis yang biasanya terlihat berani, kali ini mendadak menjadi seorang penakut.


“Hei, lihatlah di sana!” seru Falcon tiba-tiba.


Dia menunjuk ke sebuah arah dan seketika membuat Liana menoleh. Dari tempat mereka berada, bisa dilihat dengan jelas betapa indahnya sunset di sore hari yang cerah ini.

__ADS_1


Ditengah warna laut yang berubah jingga keemasan, kawanan lumba-lumba berlompatan seolah berlomba untuk segera pulang.


Liana yang sedari tadi terus duduk diam kaku, mulai berani menggerakkan badannya dan menghadap ke arah laut.


Dia bahkan mendekatkan wajahnya ke jendela, agar semakin jelas melihat di kejauhan.


“Wah... Indah sekali,” gumam Liana kagum.


Namun, tiba-tiba gerbong sedikit berguncang dan membuat Liana hampir jatuh. Beruntung Falcon cepat menangkap pinggang gadis itu dan membawanya kembali duduk.


“Tak apa. Ada aku di sini,” ucap Falcon.


Liana terus terlihat benar-benar ketakutan akibat guncangan tadi. Falcon merasa bersalah karena memaksa gadis itu untuk naik ke wahana ini. Pria itu terus menggenggam tangan Liana, yang terlihat gemetar.


“Tahanlah sebentar. Ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu,” ucap Falcon.


“Apa itu?” tanya Liana.


“Tapi ini sangat menakutkan. Kenapa tidak kau berikan di bawah saja?”keluh Liana.


Gadis itu bahkan tak berani lagi melihat ke luar gerbong. Hingga Falcon meraih dagu Liana dan mengangkat wajahnya.


“Lihat aku saja. Pandangi aku. Fokus pada ku, maka kau tak akan takut lagi,” seru Falcon.


Mata mereka pun beradu pandang. Dengan jarak yang begitu dekat, hembusan nafas hangat masing-masing pun menerpa kulit mereka.


Gejolak mulai muncul karena jarak yang mulai terkikis. Degupan jantung keduanya pun terdengar jelas bersahutan.


Falcon tak mampu mengendalikan dirinya lagi untuk menahan kerinduannya pada gadis yang duduk di tepat di depannya.


Wajahnya semakin mendekat dan miring ke kanan, hingga bibir mereka pun menyatu. Liana menyambutnya dengan ikut memagut dan menyesap manisnya rasa itu.

__ADS_1


Liana melingkarkan lengannya di leher Falcon, dan membuat ciuman mereka semakin dalam, menghilangkan ketakutan dan ketegangan yang sedang dialami Liana.


Satu tangan Falcon menekan tengkuk Liana, dan satunya mengusap punggung Gadisnya. Gigitan manis dari Falcon membuat Liana mengerang lirih, membangkitkan gelora yang sulit untuk di tahan pria itu.


Ciuman yang awalnya begitu lembut dan manis, kini semakin buas dirasa. Falcon seakan lepas kendali, dan ingin memakan gadis di hadapannya.


Dia sampai lupa tujuannya membawa Liana ke tempat itu, dan semakin melumaat habis bibir ranum sang gadis.


Hingga sampailah mereka di ketinggian, dan terdengar ledakan dari luar yang membuat Liana membuka matanya dan tersadar dari hasraatnya.


Mereka menyudahi ciuman itu, dan melihat jika langit telah mulai gelap. Matahari benar-benar telah hilang di bawah garis cakrawala.


Ledakan kembang api terdengar begitu keras dan membuat langit saat itu begitu indah. Mereka yang sedang berada di puncak, melihat dengan jelas kembang api yang meledak tepat di depan mata.


"Wah... indah sekali," gumam Liana.


Gadis itu benar-benar terpukau melihat apa yang ada di hadapannya saat itu, hingga tak menghiraukan Falcon yang masih berada di sisinya.


.


.


.


.


Nih ku kasih lagi, nyicil aja ya 😄 anggep aja cemilan manis 🤭


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2