Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Pergi tergesa-gesa


__ADS_3

Malam telah lewat. Dini hari menyapa dengan udara yang menusuk hingga ke tulang. Seseorang terlihat masih tak bisa memejamkan mata, sejak acara makan malam itu.


Pikirannya dipenuhi dengan emosi dan juga kekhawatiran. Dia duduk bersandar di atas head board, setelah sebelumnya dia terus berjalan mondar mandir di dalam kamar hingga kelelahan.


“Gadis itu benar-benar keterlaluan. Baru sementara saja dia sudah membuat ku tak bisa tenang seperti ini. Siapa dia sebenarnya? Ada masalah apa dia denganku sampai-sampai terus saja mengusikku?” gumam orang tersebut.


Segala cara telah ia pikirkan untuk membalas gadis itu, namun semuanya selalu kembali ke titik, di mana gadis itu menyatakan bahwa dia tahu tentang anaknya dengan pria lain.


Dia tak mau gegabah dan membuat gadis itu justru mengungkapkan itu semua ke publik, dan membuat reputasi serta nama baiknya hancur seketika.


“Aku harus diam-diam melenyapkan nya. Harus!” gumamnya lagi.


Dia berkali-kali berpikir untuk segera pergi menemui pria yang sudah membuatnya memilki aib di luar sana, dan memintanya untuk bertanggungjawab melenyapkan pengganggu kecil itu.


Namun, dia juga tak mau mengundang kecurigaan pada anggota keluarga lainnya, yang pasti akan bertanya-tanya kenapa dia pergi malam-malam.


Namun rasanya, menunggu hingga fajar sangat lah lama untuknya saat ini. Hingga dia pun terus dibuat tak tenang.


Saat mentari mulai muncul di ufuk, wanita itu pun bergegas bersiap untuk pergi ke kota dan mencari pria tersebut.


Karena panik, dia bahkan lupa jika dia akan melewatkan sarapan, yang sudah pasti mengundang tanya seluruh anggota keluarga.


Namun, dia seolah tak lagi peduli akan hal itu, dan cepat-cepat ingin segera pergi dari sana.

__ADS_1


“Nyonya, Anda mau kemana pagi-pagi buta begini?” tanya salah seorang pelayan yang melihatnya hendak keluar.


Wanita itu bahkan terlihat telah rapi dan berpenampilan seperti biasanya, elegan dan arogan.


“Aku ada hal yang mendesak. Tidak usah ribut dan membuat semua orang bangun. Mengerti!” ucap Amber, si wanita yang kini tengah risau dengan kehadiran Liana.


Dia pun berjalan keluar dan pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Saat sarapan, Liana yang paling dulu tiba di meja makan, disusul oleh nyonya kedua. Wanita itu terus melihat ke arah Liana, dengan jemari yang sedari tadi terus ia remas. Dia seolah ingin bicara dengan gadis itu, akan tetapi tak tau harus mulai dari mana.


“Ehm.. Nyonya, apa memang peraturan di sini untuk makan bersama pagi dan malam hari?” tanya Liana.


Gadis itu tahu gelagat dari si nyonya kedua. Dia melihat bahwa wanita itu ingin berbincang namun ragu, dan akhirnya membuatnya berinisiatif mengajaknya bicara.


“Ah... Tentu. Ini sudah peraturan yang ditetapkan sejak dulu oleh tuan besar. Semuanya harus mematuhi atau beliau akan marah, dan mengambil lima persen sahamnya dari perusahaan, setiap kali mereka melanggarnya,” ucap si nyonya kedua.


“Wah... Ancaman macam apa itu? Tidak ikut makan bersama dan saham akan diambil? Benar-benar keluarga yang kaya raya. Cara mendisiplinkannya pun sangat berbeda,” sahut Liana.


“Tapi sepertinya, hari ini akan ada yang sahamnya di potong lima persen oleh Kakek,” ucap salah satu nona yang hadir di tengah perbincangan kedua wanita beda usia itu.


Nona tersebut duduk di sebelah kanan Aster, si nyonya kedua, yang menandakan bahwa dia adalah putri dari wanita tersebut.


Hal itu dikuatkan dengan perlakuan Aster, yang membantu nona tersebut merapikan penampilannya

__ADS_1


“Apa maksud Anda, Nona?” tanya Liana.


“Aku melihat nyonya pertama pergi pagi-pagi buat, saat aku baru saja bangun dan keluar ke balkon kamar. Ibu ingat, balkon kamarku langsung mengarah ke halaman depan,” ucap nona tersebut.


“Nyonya pertama? Mau apa dia pergi pagi-pagi begitu? Hal mendesak apa yang membuatnya merelakan lima persen sahamnya? Ini tidak biasa,” ucap si nyonya kedua yang serba ingin tahu.


“Entahlah, Bu. Lagipula, itu bukan urusan kita,” ucap si nona.


Mereka tak tahu jika di samping mereka, ada seorang gadis yang sedang menyembunyikan seringainya, saat mendengar perbincangan mereka berdua.


Moses. Pasti dia ingin mencari bantuan pria itu. Baiklah. Kita lihat apa yang bisa kau lakukan padaku kali ini, Amber Callister, batin Liana.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2