Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Alexander Harvey


__ADS_3

Meja makan telah penuh dengan hidangan yang akan menjadi santapan makan malam di istana Sky Castle malam ini. Tuan Harvey meminta Liana dan Nona Shu untuk menunggu yang lain di meja makan.


Hidangan dari mulai western hingga asia nampak tersaji di meja makan. Tuan Harvey mengambil kursi di salah satu ujung meja, sedangkan kedua gadis itu duduk di samping kiri sang tuan rumah.


Satu persatu penghuni rumah bermunculan dari dalam lift. Mulai dari salah satu nyonya rumah, cucu perempuan Tuan Harvey, kemudian yang terakhir adalah putra tinggal Tuan Harvey beserta nyonya pertamanya.


Semua nampak tak peduli dengan keberadaan kedua tamu istimewa itu malam ini. Mereka seolah tak acuh, meski Nona Shu mencoba bersikap ramah dengan melempar senyum pada mereka semua.


Berbeda dengan Liana. Gadis itu sudah berhenti tersenyum ke arah penghuni rumah, sejak pertama kali sikap sopannya itu tak dihargai.


Wajah dan ekspresinya datar dan cenderung ikut tak acuh kepada semua anggota keluarga di istana tersebut.


Saat pasangan terangkhir telah sampai di meja makan, sang nyonya pun meminta untuk memulai acara makan malam tersebut.


“Semua sudah berkumpul, Papah. Mari kita mulai saja makan malamnya,” seru salah seorang nyonya di rumah tersebut.


“Masih ada satu orang lagi yang belum hadir,” sahut Tuan Harvey.


Semua orang saling pandang. Di meja makan tersebut, memang masih tersisa satu kursi tepat di samping kanan Tuan Harvey yang belum memiliki tuan. Namun, semuanya merasa jika seluruh anggota keluarga telah berkumpul.


“Siapa lagi yang kita tunggu, Papah?” tanya putra Tuan Harvey.


Pak tua itu terus melihat ke arah lift. Saat pintu lift kembali terbuka, senyumnya terbit seketika.


“Ah, itu dia datang,” ucap Tuan Harvey.


Semua orang menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh pak tua itu, tak terkecuali Liana dan juga Nona Shu.


Saat gadis itu melihat ke arah sana, betapa terkejutnya dia dengan sosok yang tengah berjalan ke arah mereka semua. Dadanya bergemuruh bak guruh di musim hujan. Degupan jantungnya terasa meledak-ledak.


Pandangannya terus terpaku pada sosok yang semakin dekat dengannya. Buka hanya Liana, melainkan semua orang pun terkejut dengan kehadiran orang itu.


“Kau...,” gumam Liana.


“Duduklah,” seru Tuan Harvey pada orang terkahir yang tiba di meja makan.


Dia pun duduk tepat berhadapan dengan Liana, dan semakin membuat pandangan gadis itu seolah terpatri pada sosok tersebut.

__ADS_1


“Kau... Papah, kenapa anak ini ada di sini?” tanya nyonya pertama.


Dari nada bicaranya, dia seolah tak senang dengan kehadiran orang tersebut.


“Apa itu yang kau katakan, saat salah satu keluarga kita baru saja kembali setelah sekian lama? Tidak usah ribut! Malam ini kita juga kedatangan tamu. Bersikaplah sopan pada mereka,” seru Tuan Harvey.


Nyonya pertama merasa geram dengan kehadiran orang tersebut. Namun, sebisa mungkin dia menjaga sikap di depan sang mertua.


Nona Shu kaget dengan sikap Tuan Harvey yang sepertinya begitu dingin kepada menantunya. Tak seperti sikapnya pada dirinya dan Liana, yang terasa begitu hangat dan ramah.


Sedangkan Liana, gadis itu terus memperhatikan gerak gerik orang di depannya, bahkan tanpa berkedip sekalipun.


Orang itu nampak duduk dengan tenang. Wajahnya terlihat datar dan dingin, pandangannya bahkan selalu ke arah piringnya dan tak melihat kemanapun.


Sangat berbeda dari yang selalu Liana lihat di luaran. Gadis itu memilih diam dan memperhatikan semua yang mungkin akan terjadi di meja makan, untuk mencari tahu hubungan seperti apa yang dimiliki orang tersebut dengan istana Sky Castle yang megah ini.


Tuan Harvey memberi isyarat kepada para pelayan, untuk mulai melayani semua orang.


“Ah, aku hampir lupa. Kedua gadis cantik ini adalah tamu ku. Mereka perwakilan dari Wang Construction, yang akan bekerja sama dengan The Palace dalam proyek Paradise,” ucap Tuan Harvey.


Pria itu memperkenalkan Liana dan juga Nona Shu kepada seluruh anggota keluarga. Kedua gadis itu pun bersikap sopan dengan berdiri dan memberi salam kepada semua orang.


“Wah, masih sangat muda sudah berani mengambil proyek besar? Luar biasa sekali. Benarkan, Kakak,” puji nyonya kedua yang berbicara pada nyonya pertama.


Namun, nyonya pertama sama sekali tak peduli akan hal itu. Suasana hatinya memburuk saat melihat kehadiran orang yang duduk di samping kanan mertuanya.


“Terimakasih atas pujiannya. Tapi, saya tidak sehebat itu. Tuan Harvey lah yang dengan murah hati memberi saya kesempatan untuk mencoba hal besar ini,” sahut Liana.


“Kalian sudah cukup berdirinya. Duduklah lagi,” seru Tuan Harvey.


Keduanya pun kembali duduk.


Tuan Harvey kemudian memperkenalkan seluruh anggota keluarganya satu persatu. Mulai dari yang paling ujung adalah putra satu-satunya, kemudian di sebelah kanannya adalah nyonya pertama, dan di kiri ada nyonya kedua.


Selanjutnya, sisanya adalah cucu perempuan pertama hingga ke empat.


“Dan ini adalah cucu kelima ku, Alexander Harvey. Kepulangannya kali ini sangat istimewa, karena dia yang datang sendiri ke Empire State ini. Buka begitu, Nak,” ucap Tuan Harvey.

__ADS_1


Benar. Kenapa aku sampai lupa kalau kau adalah seorang tuan muda. Pantas pelayan di Sky Escape memanggilmu dengan sebutan tuan muda kelima. Jadi ini alasannya, batin Liana.


Liana terus melihat lurus ke arah pria yang duduk di depannya, yang tak lain adalah si tuan muda kelima, atau yang sering dikenal sebagai ketua geng Jupiter, Falcon.


“Hai, Alex. Jadi, kali ini kau ingat jalan pulang? Aku kira kau sudah lupa,” ucap salah seorang cucu perempuan Tuan Harvey.


“Tentu saja dia ingat pulang. Apa kau lupa kalau dia masih punya kakek yang sudah tua. Mungkin saja ini tindakan penjilatan,” sahut cucu yang lain.


“Ah, aku paham maksudmu Kakak ke dua. Karena dia tahu Kakek sudah tua, jadi dia mau berpura-pura menjadi cucu yang berbakti agar bisa naik posisi bukan. Murahan, sama seperti ibunya,” timpal yang lain.


“Apa kalian tidak bisa diam? Kita sedang di meja makan. Jangan merusak selera makan dengan ucapan kalian!” seru nyonya pertama.


Dia tak mau anak-anaknya mendapat murka dari sang mertua. Dia sangat mengetahui jika pria tua itu ingin sekali memberikan perhatian kepada cucu kelimanya yang telah lama pergi dari rumah dan baru saja kembali itu.


Sementara Liana, terus menatap wajah Falcon yang terus terlihat datar dan dingin. Bahkan dia sama sekali tak mau menyapa atau bahkan menatap balik Liana yang duduk di hadapannya.


Hati Liana merasa sesak saat mendengar percakapan singkat antara orang-orang penghuni rumah mengenai pria itu.


Makanan telah tersaji di piring Masing-masing. Falcon nampak terlebih dulu menyantap makanannya. Begitu pun yang lain.


Liana mencoba bersikap biasa saja dan ikut menikmati hidangan yang terasa gambar di mulutnya. Meski sebenarnya rasanya begitu lezat, namun melihat Falcon dalam posisi seperti ini, membuat dirinya tak berselera.


Awalnya, Liana sempat kesal karena pria yang belakangan tengah dekat dengannya, tiba-tiba muncul dan berpura-pura tak mengenalnya, bahkan sekedar menyapa pun tidak. Namun, ketika melihat sikap semua orang pada pria itu, Liana sedikit bisa memahami sikap Falcon padanya.


Mungkin, dia tak ingin menunjukkan sisinya yang seperti ini padaku, batin Liana.


.


.


.


.


Sudah 3 bab meski larut malam🤭✌


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2