
Keesokan harinya, Liana bangun begitu pagi. Bahkan mentari pun masih nampak malu-malu keluar dari peraduan nya.
Sejak semalam setelah melihat pendar kemerahan itu, Liana tak bisa tertidur kembali dan hanya berbaring berguling-guling di atas tempat tidur. Hingga menjelang fajar, barulah dia bisa terpejam meski hanya sebentar, sekitar setengah jam.
Udara masih cukup dingin, namun kicau burung membuat Liana beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke arah balkon.
Suasana menyeramkan semalam sudah tidak terasa lagi, meski kondisi sekitar belum sepenuhnya terang.
Dia kembali meregangkan otot-ototnya karena terasa benar-benar kaku, mengingat semua kejadian yang telah terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Dari acara makan malam yang berujung pada rencana penculikan Jessica, membuat jebakan untuk penipu itu, hingga melarikan diri ke tempat terpencil ini. Selama rentang waktu itu, Liana sangat kurang beristirahat dan selalu terjaga dalam kondisi tegang.
Dia teringat akan kamar ber lampu merah semalam. Dia pun melihat ke arah sayap kanan, di mana ruangan tersebut berada. Cahaya merah itu masih terlihat meski semakin pudar karena kalah dengan sinar mentari yang semakin terang menyinari dunia.
Dari kejauhan, terlihat laut yang begitu indah di bawah sinar mentari pagi. Liana pun memutuskan untuk membersihkan diri serta berganti pakaian, kemudian pergi keluar untuk menikmati suasana pagi di sekitar mansion tersebut.
Liana mandi cukup cepat dengan air hangat, dan dia kini sedang memilih pakaian di dalam lemari yang berada di walk in closet. Seperti sebelumnya, semua pakaian di sana berbentuk dress terusan baik panjang maupun pendek dengan berbagai model dan warna.
Liana memilih gaun putih gading selutut dengan corak floral ungu halus. Nampaknya si pemilik pakaian sangat menyukai bunga-bunga, hingga hampir semua pakaiannya bercorak bunga-bunga yang cantik.
Liana meraih sebuah sapu tangan yang ada di dalam laci lemari, dan mengikatkan benda tersebut ke rambut. Setelah selesai memoleskan bedak dan lipstik tipis, dia pun berjalan keluar dan menikmati indahnya suasan pagi di pulau terpencil, Sky Escape.
Mansion yang tadi malam mirip seperti kastil drakula, pagi ini terlihat begitu cantik dengan berbagai jenis bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitarnya, serta tanaman sulur yang merambat dibeberapa bagian mansion. Liana pun berjalan menyusuri jalan setapak yang berada tak jauh dari mansion, dan berakhir di tepi tebing.
Udaranya begitu segar. Angin laut terasa kuat menerpa kulitnya yang pucat. Liana memejamkan mata sambil menghirup dalam udara segar di sana, untuk mengisi setiap rongga di dalam paru-parunya.
Baru pertama kali ini Liana bisa merasa bebas tanpa adanya beban batin dan pikiran. Tanpa adanya rasa takut tak bisa makan jika tak bekerja, dan semua kekhawatiran lainnya selama ini seakan lenyap seketika di tempat asing nan jauh itu.
Ini adalah liburannya yang pertama selama ia hidup di dunia. Liana ingin menikmati waktu yang singkat ini, sebelum dia harus kembali ke pulau utama dan menghadapi semua masalah yang ia tinggalkan di sana.
Angin pantai terus bertiup memainkan anak rambut Liana yang mengganggu pandangan gadis itu. Air laut yang jernih dan berwarna biru terlihat bagai kaca yang bening dari atas, membuat Liana betah berlama-lama di sana.
Cukup lama Liana berdiri, kini dia mulai beranjak dari tempatnya. Puas menikmati sinar mentari dan sejuknya udara pagi di Sky Escape, Liana kembali berjalan menuju ke mansion sambil mengutip beberapa tangkai bunga liar yang ditemukannya di sepanjang jalan.
Sesampainya di mansion, dia melihat beberapa pelayan tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Liana menghampiri mereka dan memberikan bunga-bunga itu kepada salah satunya.
__ADS_1
“Bunganya indah, jadi ku petik untuk menghiasi meja makan. Apa boleh?” tanya Liana.
“Tentu, Nona. Berikan pada saya, biar saya ambilkan vas yang cocok untuk bunga-bunga ini,” ucap pelayanan itu.
“Baiklah. Terimakasih,” sahut Liana.
Dia kemudian melihat jika makanan hampir semuanya siap di atas meja makan. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Falcon yang belum terlihat sejak semalam.
“Apa semuanya hampir siap?” tanya Liana.
“Iya, Nona,” sahut salah satu pelayan.
“Baiklah. Kalau begitu biar aku saja yang panggilkan Falcon untuk turun,” seru Liana.
“Falcon? Siapa itu Falcon?” tanya pelayan itu.
Liana mengerutkan keningnya karena pelayan tersebut justru tak tau nama dari tuan muda mereka.
“Bukankah pria yang membawaku kemari itu bernama Falcon? Tuan muda kalian,” tanya Liana.
Tuan muda ke lima? Jadi dia benar-benar seorang tuan muda? dan... Alexander? batin Liana.
“Ehm, yah maksudku Tuan muda ke lima. Biar ku panggilkan dia. Aku tau di mana kamarnya,” sahut Liana dengan senyum canggung.
Gadis itu pun berlalu pergi dari sana dan menuju ke kamar di sayap kanan, ruangan dengan lampu merah yang semalam Liana lihat.
Gadis yang selalu merasa penasaran dengan segala hal, terus berpikir tentang identitas asli dari pria yang dikenalnya sebagai ketua gangster penguasa Grey Town itu.
Siapa kamu sebenarnya, Falcon? batin Liana.
Dari arah dapur, pelayan senior bernama Hans memperhatikan Liana sejak dia masuk ke dalam rumah, dengan membawa sebuket bunga liar di tangannya. Senyum tipis terlukis di wajah pria tua itu.
Seorang pelayan yang tadi menerima bunga dari Liana, nampak berjalan memasuki dapur dengan membawa sebuah vas bunga yang cantik.
__ADS_1
"Apa ini yang Anda maksud, kepala pelayan?" tanya pelayan tadi kepada Hans.
Hans pun menoleh dan melihat vas dengan bentuk bulat polos berwarna ungu, yang terlihat begitu elegan sedang dipegang boleh pelayan itu.
"Benar yang itu," sahut Hans.
"Syukurlah. Saya hampir tidak bisa menemukannya karena sudah tertumpuk oleh barang-barang lainnya. bukankah ini milik Nyonya ke tiga?" ucap pelayan tadi.
"Benar. Nyonya ke tiga sangat suka buket bunga liar, dan selalu meletakkannnya di dalam vas itu," ujar Hans.
"Tuan muda pasti senang saat melihat bunga-bunga ini karena teringat dengan ibunya. Ku dengar, semalam beliau pulang larut karena berada di makam Nyonya ke tiga begitu lama," ucap pelayan itu.
"Sudah. Jangan banyak bicara lagi. Cepat Letakkan bunga yang dipetik Nona muda ke dalam vas, dan jangan lupa beri sedikit air agar tetap segar. Sebentar lagi mereka akan turun untuk sarapan," seru Hans.
"Baik, Tuan," sahut pelayan itu.
Hans menatap bunga-bunga yang kini tengah berada di atas wastafel, dan ditata di dalam vas tersebut.
Gadis itu begitu ceria dan berjiwa bebas, begitu mirip seperti Nyonya ke tiga. Apa mungkin hal itu yang membuat Tuan muda Alex menaruh perhatian padanya? batin Hans.
.
.
.
.
Nungguin yah🤭maaf ya bestie kesiangan 😅
Walau lagi puasa, tetep kopiin aku dong di novel ini😁jiah malak🤣
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘