
Tengah hari, Liana baru sampai di gedung Golden Daily, tempat di mana Christopher bekerja saat ini.
Di dalam mobilnya, Dia menatap bangunan berlantai kurang dari sepuluh tersebut, yang selama puluhan tahun ini telah memberitakan semua hal aktual yang terjadi, baik di sekitar negera bagian A, nasional maupun internasional.
Liana nampak menghirup nafas dalam-dalam, dan kemudian menghembuskannya sekaligus, sebelum melangkah keluar dari mobilnya.
Gedung tersebut tak memiliki tempat parkir basement, melainkan parkir atap dan halaman belakang.
Liana memilih untuk memarkirkan mobilnya di halaman belakang, karena lebih mudah untuk akses keluar masuk tempat tersebut.
“Aku harus meminta bantuannya kali ini,” gumam Liana meyakinkan dirinya sendiri.
Gadis itu pun meraih tas selempangnya, dan membuka pintu mobil. Dia keluar dan melihat sekitar, di mana banyak sekali pewarta dan juru kamera yang berseliweran di tempat tersebut.
Dia pun menyilangkan tali tasnya di bahu, dan berjalan ke arah lobi depan.
Sesampainya di sana, gadis itu menghampiri meja resepsionis dan bertanya pada petugas yang berjaga saat itu.
“Selamat siang!” sapa Liana.
“Selamat siang, Nona. Ada yang bisa dibantu?” tanya si resepsionis.
“Saya ingin bertemu dengan Wartawan Chen. Apa dia ada?” tanya Liana.
...👑👑👑👑👑...
Di dalam sebuah kantor, di mana terdapat banyak kertas tertempel serta setumpuk buku catatan, nampak seorang pemuda tengah bergelut dengan laptopnya.
Dia terlihat sedang mengutak-atik sesuatu di sana dengan begitu serius.
Terdengar bunyi telepon dari meja paling dekat dengan pintu, di mana terdapat sebuah telepon yang digunakan untuk saling menghubungi dalam satu gedung.
Seorang reporter senior nampak mengangkat panggilan tersebut, dan terlihat begitu terkejut saat mendengar suara dari seberang.
Tak berlama-lama, dia segera menutup sambungan itu dan berjalan ke arah pemuda yang tengah sibuk dengan laptop tadi.
“Hei, Chris! Bidadarimu datang!” ucap si wartawan senior yang tak lain adalah Kenny, senior dari Christopher.
Christopher tampak kebingungan melihat seniornya begitu bersemangat saat mengatakan hal tersebut.
“Apa maksudmu, Senior?” tanya Christopher.
“Dia datang. Lilian Wu mencari mu, dan sekarang ada di lobi bawah!” ucap Kenny.
Pemuda itu sangat terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh seniornya itu. Dia pun menutup laptopnya begitu saja dan berlari ke arah lift.
“Semoga berhasil, Bung!” teriak Kenny saat melihat juniornya telah menghilang di balik pintu.
Christopher cepat-cepat masuk ke dalam lift, begitu melihat pintunya masih terbuka. Dia menghalangi pintu agar tak lekas tertutup dan dia pun bisa ikut turun.
“Maaf, permisi!” ucapnya pada orang yang sudah lebih dulu masuk.
Pemuda itu merasa berdebar, saat mengetahui jika Liana dengan sendirinya datang mencarinya di tempat kerja.
__ADS_1
Namun, di sisi lain, dia bertanya-tanya ada hal apa yang membuat gadis keras kepala itu tiba-tiba mencarinya.
Apa aku sudah ketahuan? batin Christopher.
Seketika itu, jantungnya berdegup semakin tak karuan, bersamanya dengan lift yang semakin turun dan hampir sampai di lantai bawah.
Bunyi dering terdengar, pertanda pintu lift akan segera terbuka. Christopher memegangi dadanya yang terasa ingin meledak, sambil beberapa kali mengatur napas sebelum melangkah keluar dari dalam lift.
Setelah merasa sedikit tenang, pemuda itu pun berjalan keluar, dan mencari sosok gadis yang begitu membuatnya seperti orang gila selama hampir tiga tahun ini.
Nampak di kejauhan, seorang gadis yang gemar menguncir rambutnya ke atas, dengan penampilan yang selalu casual, tengah duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di area lobi.
Christopher mencoba begitu keras untuk menghilangkan rasa groginya, ketika dia harus berhadapan dengan Liana kali ini.
****! Ini bukan yang pertama kali aku bertemu dengan dia. Tapi kenapa rasanya begitu menegangkan? batin Christopher.
Belum juga dia bisa meredakan rasa nervous nya, Liana sudah lebih dulu menoleh ke arah, di mana pemuda itu tengah berdiri memandanginya.
Christopher pun mau tak mau harus menghampiri Liana, meski dirinya merasa belum begitu siap
“Hai, Nona Wu,” sapa Christopher.
Liana berdiri menyambut kedatangan seniornya.
“Wartawan Chen. Lama tidak bertemu,” sahut Liana.
Gadis itu mengulurkan tangan hendak menyalami Christopher, dan pemuda itu pun menyambut niat baik Liana.
“Duduklah!” seru Christopher mempersilakan.
“Bisakah kita bicara di dalam mobil ku saja?” tanya Liana.
Christopher pun seketika menghentikan gerakannya, dan menoleh ke arah Liana. Keningnya mengerut karena tak mengerti apa yang akan dilakukan gadis itu.
“Kenapa harus di sana?” tanya Christopher.
“Karena ini adalah sesuatu yang penting, dan menyangkut keluargaku,” ucap Liana.
“Baiklah. Tapi ku rasa, di dalam mobil bukan tempat yang baik untuk berdiskusi. Apa lagi hanya ada kita berdua saja. Bagaimana kalau kau ikut ke meja ku saja di atas. Kita bisa bicara dengan leluasa di sana,” Ajak Christopher.
“Apa kau yakin?” tanya Liana.
“Yah, setidaknya lebih nyaman dari mobil dan lebih aman dari caffe atau pun restoran. Aku yakin kau pasti ingin membicarakan ini secara pribadi dan rahasia, karena ini menyangkut perusahaan mu juga. Benar bukan,” ucap Christopher.
“Pintar. Baiklah, tolong tunjukan jalannya,” ucap Liana
Christopher pun berjalan di depan dan menjadi penunjuk, jalan bagi gadis yang baru pertama kali datang ke tempat kerjanya.
Mereka masuk ke dalam lift yang selalu ramai oleh para pewarta, yang hilir mudik mencari informasi yang bisa mereka sajikan baik secara live maupun secara daring.
Tak perlu waktu lama, keduanya kini telah sampai di lantai ke tujuh, di mana meja Christopher berada.
Pemuda itu terlihat berjalan dan masuk ke dalam sebuah ruangan, yang lebih mirip seperti ruang meeting dari pada meja kerja seorang jurnalis.
__ADS_1
“Ini meja kerjamu?” tanya Liana menaikkan sebelah alisnya.
“Meja ku ada di sana. Ini adalah ruang meeting. Selain tempatnya tembus pandang, dan aman untuk gadis seperti mu, tapi juga kedap suara sehingga kerahasiaan terjamin,” jelas Christopher.
Aman untuk gadis seperti ku? Memangnya dia kira aku berpikir apa? Dasar mesum! batin Liana.
Liana tak bertanya lagi. Gadis itu pun masuk diikuti oleh Christopher, yang kemudian menutup pintunya rapat-rapat.
Dia duduk di seberang Liana, dan mulai mengeluarkan buku agendanya.
“Baiklah. Sekarang, katakan apa tujuanmu?” tanya Christopher.
Liana nampak melipat kedua tangannya di atas meja, sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Aku ingin kau mem-viralkan sesuatu tentang Li Corp. Aku tau kau telah mengumpulkan banyak informasi tentang perusahaan tersebut,” seru Liana.
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Christopher.
“Aku bisa melihatnya saat kau dengan begitu jelas membicarakan perusahaan itu, ketika makan siang kita tempo hari,” jawab Liana.
“Bagaimana kalau saat itu aku hanya berbohong, demi memintamu untuk menemaniku makan siang,” ujar Christopher.
“Kau tidak mungkin berbohong. Profesi kalian selalu mengedepankan fakta. Jika kalian melakukan sebuah kebohongan, maka eksistensi kalian di industri ini tidak akan bertahan lama. Benar begitu bukan, Wartawan Chen,” sanggah Liana.
Gadis itu tersenyum dengan sebelah sudut bibir terangkat. Dia sangat yakin, jika seniornya itu paham betul dengan sepak terjang Damian Li dan perusahaannya.
Pemuda itu nampak berpikir sejenak. Keningnya berkerut dan alisnya hampir menyatu.
Namun beberapa detik kemudian, keningnya kembali lurus dan tatapannya tajam menuju langsung ke manik hitam Liana.
“Baiklah. Tapi kau harus membayar dengan harga besar atas apa yang akan aku lakukan kali ini,” ucap Christopher.
“Berapa yang kau minta,” tanya Liana cepat.
Christopher menggeleng pelan, dan kembali menatap tajam ke arah Liana.
“Aku mau dirimu!” ucapnya.
.
.
.
.
Hai semuaaaaaa😘😘😘😘😘😘met hari senin😁semoga minggu ini kalian akan mendapat kemudahan, keberkahan serta kebahagiaan dalam hidup😊
apa lagi dalam minggu ini, kita akan kedatangan bulan suci yang sangat dinantikan oleh seluruh umat muslim sedunia 🙏
tetap jaga kesehatan ya bestie, 2 bab lagi nanti siang ya😁🙏
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘